
Sering . . .
Kutak mengerti
Orang . . .
Yang memaki negaranya sendiri
Merendahkan bangsanya sendiri
Merusak tanpa berusaha memperbaiki
Berbeda . . . dulu dan saat ini
Dengan membara
Pahlawan membusungkan dada, berlantangkan suara
"INDONESIA . . . INILAH INDONESIA!!"
Berbeda . . . dulu dan saat ini
Jauh dari nada bangga
Orang sekarang menggeleng kepala, bersinis kata
"Indonesia. . . Indonesia . . . inilah Indonesia"
Kasihan . . . kau Indonesiaku . . .
Padahal . . . ini bukan salahmu . . .
Wakil rakyat salah . . .
malah berkilah . . .
Rakyat tak mau kalah . . .
malah merusak apalah . . .
Alampun mulai resah . . .
menmpakkan amarah . . .
"INDONESIA! Tak bisakah engkau berhenti menyakitiku!"
"Bukan salahku wahai Alam!"
"Tak melihatkah engkau, betapa rusaknya aku sekarang, wahai Indonesia!"
"Bukan salahku— "
"Kamu selalu mengeluh dengan keadaanku! Padahal ini kesalahanmu, Indonesia!"
"Maaf Alam . . . Ini bukan salahku"
Tapi manusia terlalu tuli
untuk mendengarkan teriakan Alam
Terlalu buta terhadap amukan Alam
Bahkan tidak pernah peduli dengan tatapan tajam Alam
Tapi . . .
ternyata . . .
manusia terlalu cepat mati!
Terlalu cepat mati
ketika ditampar Alam
Sungguh. . . ini bukan salahku!
© Copyright 2013franrizmy All rights reserved. franrizmy has granted theNextBigWriter, LLC non-exclusive rights to display this work on Booksie.com.