Jalan ini lurus kupandang
lurus kususuri
Tak mungkin aku tersesat
Kuterus menapakkan kaki telanjangku di atas jalan yang lembab...
Meredup...
Menggelap....
Cahaya Islamkah?
Kecemasan mulai menggerayangi tubuhku
Ketika kegelapan mulai menggrogoti siang
Tubuhku mulai gemetar dan semakin berguncang hebat
Hampir kukira mataku ditipu kegelapan
Namun kengerian malam itu
benar-benar menari-nari liar di depan wajahku memamerkan taring merah gelapnya di atas hidungku...
bau kebusukan itu mengaduk-aduk perutku mual
sesat........ sesat.......
sesat........ sesat........
A A A A A A A A A A A R G H . . . . . . .
Bisikan mengerikan itu serasa mengiris-ngiris telingaku
Dimana akidah? Dimana akhlak?
Butakan saja sudah mataku ini!
daripada melihat malam yang terperosok kesesatan....
sungguh....
tiada beda kebutaanku dengan sosok mengerikan kegelapan di depankku
. . . . . . . . .
Akhirnya kuberhasil menutup mata ini
. . . . . . . . .
Gelap.....
Lalu kuintip dari sela kelopak
Gelap.....
kupejam
Gelap.....
kubuka
Gelap.....
Tak beda....
Tak beda??
Kalau sama saja mengapa mesti kumenutup mata dari kesesatan itu?!
Kubuka sekarang mataku menantang kegelapan di hadapan.....
Apa itu?!
Apa itu dibelakang kegelapan?
Cahaya!!
Aku melihat cahaya di belakangnya!!
Ternyata selama ini ia ditutupi kegelapan....
Cahaya kedamaian yang menentramkan....
Cahaya yang bertahtakan Iman dan Ihsan
Cahaya yang bernamakan Islam
|
Email this Poetry
|
Add to reading list






