Welcome Visitor: Login to the siteJoin the site



dibuat bersama Nurul Hamdanah


Submitted:Mar 8, 2013    Reads: 18    Comments: 0    Likes: 0   


Jalan ini lurus kupandang

lurus kususuri

Tak mungkin aku tersesat

Kuterus menapakkan kaki telanjangku di atas jalan yang lembab...

Meredup...

Menggelap....

Cahaya Islamkah?

Kecemasan mulai menggerayangi tubuhku

Ketika kegelapan mulai menggrogoti siang

Tubuhku mulai gemetar dan semakin berguncang hebat

Hampir kukira mataku ditipu kegelapan

Namun kengerian malam itu

benar-benar menari-nari liar di depan wajahku memamerkan taring merah gelapnya di atas hidungku...

bau kebusukan itu mengaduk-aduk perutku mual

sesat........ sesat.......

sesat........ sesat........

A A A A A A A A A A A R G H . . . . . . .

Bisikan mengerikan itu serasa mengiris-ngiris telingaku

Dimana akidah? Dimana akhlak?

Butakan saja sudah mataku ini!

daripada melihat malam yang terperosok kesesatan....

sungguh....

tiada beda kebutaanku dengan sosok mengerikan kegelapan di depankku

. . . . . . . . .

Akhirnya kuberhasil menutup mata ini

. . . . . . . . .

Gelap.....

Lalu kuintip dari sela kelopak

Gelap.....

kupejam

Gelap.....

kubuka

Gelap.....

Tak beda....

Tak beda??

Kalau sama saja mengapa mesti kumenutup mata dari kesesatan itu?!

Kubuka sekarang mataku menantang kegelapan di hadapan.....

Apa itu?!

Apa itu dibelakang kegelapan?

Cahaya!!

Aku melihat cahaya di belakangnya!!

Ternyata selama ini ia ditutupi kegelapan....

Cahaya kedamaian yang menentramkan....

Cahaya yang bertahtakan Iman dan Ihsan

Cahaya yang bernamakan Islam





0

| Email this story Email this Poetry | Add to reading list



Reviews

About | News | Contact | Your Account | TheNextBigWriter | Self Publishing | Advertise

© 2013 TheNextBigWriter, LLC. All Rights Reserved. Terms under which this service is provided to you. Privacy Policy.