Welcome Visitor: Login to the siteJoin the site

The Black Dahlia

Book By: msmay
Fan fiction


It's true what they say, love is blind.


Submitted:Jan 24, 2014    Reads: 7    Comments: 0    Likes: 0   


The Black dahlia

By: Elle Sang

Chapter One: Belles Du Jour

Sinar matahari sayup-sayup memasuki kamar berukuran Queen Size berwarna Crème itu, memaksa mataku yang melekat erat untuk terbuka. Dengan berat hati ak­u memisahkan selimut yang membalut tubuh, aku melangkah menuju pintu kaca yang memisahkan kamar berdekor simpel dan teras diluar. Kamar ku berada di lantai atas villa karena menurut Ibu aku jauh lebih memerlukan banyak ruang daripada kedua saudaraku. Angin kencang menyapa diriku yang pada saat itu hanya memakai T-Shirt tipis dan sebuah celana pendek hitam, untuk beberapa saat pagar teras menopangku seakan tanpa adanya pagar itu aku akan jatuh kebawah. Dari atas aku dapat memerhatikan dengan jelas Tom sedang asyik membersihkan mobil BMW Convertible berwarna hitam milikku yang hampir tak pernah ku pakai lagi. Mobil itu kado dari Ayah saat aku berumur delapan belas, tepat dua tahun yang lalu.

Tom adalah salah satu orang kepercayaan Ayah, mantan Private Guard. Kenapa mantan? Karena mulai dua bulan yang lalu ia resmi menjadi "Nanny" untukku, karena pekerjaan Ayah sebagai politisi mengharuskannya meninggalkan putri yang hanya sebatang kara di Bali, akhirnya Ayah meminta Tom untuk menjaga rumah dan well… aku. Never liked the idea, one bit. Dan aku selalu memanggil pekerjaan Tom sebagai babysitting, tapi akhir-akhir ini Tom lebih sering menjadi supir pribadiku. Banyak staff Ayah yang tergila-gila dengan Tom entah kenapa, maybe it's because he has a gorgeous body? Or maybe it was his smile? Tanpa sadar ternyata Tom sedang melihatku melamun diatas teras dan menghentikan semua aktivitasnya, seketika aku langsung memasang façade muka jutek yang selalu menyertaiku kemana saja dan berjalan masuk ke kamar. Setelah accident diluar itu, aku langsung masuk ke kamar mandi yang berhias marmer. Aku berhenti di depan kaca yang terletak diatas wastafel itu, menarik nafas, dan akhirnya menyalakan keran air bathtub. Aku mengambil sabun lavender keluaran L'Occitane dan menuangkannya ke bathtub yang sekarang sudah penuh, kamar mandi ini penuh dengan produk L'Occitane. Beberapa memang ku beli tapi kebanyakan adalah kado dari staff-staff dan kolega Ayah, mereka tidak perlu pusing untuk mencarikan kado ulang tahun ku beberapa bulan yang lalu. Karena sudah jelas aku terlalu obsessed dengan merek asal Perancis ini.

After my much needed hot bath, aku berjalan ke walk-in closet berwarna putih yang berada tepat disebelah kamar mandiku. Memilih bathing suit Victoria's Secret, Dress putih milik Marni, dan flip flops Havaianas. Aku berjalan keluar dari kamar dan menuju dapur. Karena kebanyakan staff Ayah tinggal di Guest House disebelah villa, dapur pasti ramai pada jam sarapan dan makan malam. Tepat pukul tujuh pagi sarapan sudah tertata rapi di meja makan, begitu juga dengan makan malam.

"Good Morning"

Aku menuangkan krimer ke dalam kopi dan tetap mengaduknya, tanpa perlu melihat kearah suara sapaan tersebut aku sudah menyadari siapa yang mengatakan dua kata itu. Cindy, asisten ku. Well, pada saat Ibu sedang sibuk mencari asisten untuk membantunya dalam hal-hal yang aku kira sangat tidak penting, aku mengajukan agar aku memiliki hak yang sama dengan Ibu. So, here we are. Pekerjaan Cindy cukup gampang, mengatur jadwal ku sehari-hari, mengambilkan laundry ku, atau bahkan menemaniku saat belanja. Cindy duduk tepat di depanku sehingga terlihat jelas apa yang sedang ia baca,

"Ugh, do you mind? You're ruining my appetite!" Ucapku dengan ketus.

Cindy, menyadari perubahan nada pada suaraku sontak langsung tanggap apa yang sedang ku permasalahkan.

"Oh, ini. Tadi Mbak Henny minta tolong buat nge-cek jadwal. Punya dia ketinggalan di mobil."

Aku kira Ibu sudah melupakan janjinya, sampai-sampai butuh Cindy sebagai asisten. Cindy masih berumur sama sepertiku, lebih muda malah. Dia bekerja untuk membiayai kuliahnya lagipula aku bukan boss yang jahat kok, jadi Cindy betah-betah saja bekerja untukku. Setelah menyelesaikan kopi-ku, aku langsung berjalan menuju dapur, aku sedikit kaget melihat pemandangan di depanku. Tom, dengan santainya sedang membaca koran edisi hari ini di bar stool dapur. Memakai kaos polos warna hitam dan celana panjang warna abu-abu. Menyadari ia sedang ku perhatikan, Tom memalingkan pandangannya dan tersenyum kepadaku.

"Good Morning, Madame."

Aku mendadak terdiam membisu, Tom melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Madame?"

Cindy pun sekarang melihatku seolah aku telah melakukan sesuatu yang tidak biasa, tabu bahkan. Akhirnya aku hanya memaksakan senyuman kecil untuk membalas sapaan pagi dari Tom dan membalikkan badan menghadap jendela yang menggambarkan pemandangan Bali dengan cerahnya. Cindy meletakkan mug teh yang sudah kosong disebelah cangkir kopi favoritku.

"Hari ini mau kemana? Galeria atau Beachwalk?" Tanya Cindy

Aku melihat jam yang berada di dinding dapur. Oh! Sekarang baru jam Sembilan pagi, toko-toko di mal pun belum semuanya buka. Aku melirik kearah Cindy dan menghela nafas.

"Not now, I want to go for a swim. Maybe we all could head to Beachwalk for lunch? Tom what do you think?" Ujarku mengalihkan pandangan ke Tom yang sekarang sudah melipat koran dan meletakkannya di meja dapur.

"My job is to do as you please, Madame"

Jawab Tom dengan gampangnya. Gosh, how I love those British man! Pikirku. Tom berasal dari keluarga yang cukup berada di Inggris, ia memilih masuk militer karena merasa dia berhutang banyak pada negara asalanya, namun ditengah menjalani masa tugas di timur tengah Tom mengalami masalah dengan komandannya. Masalah tersebut akhirnya mengantar Tom kembali ke London setelah enam bulan. Pada saat Tom pulang ke London, Ayah sedang menghadiri konferensi perdamaian dunia yang diselenggarakan di London. Tom hanya disana untuk bertemu temannya, tapi malah ditawari Ayah pekerjaan yang menurutnya sangat-sangat menarik. Tanpa berpikir dia langsung menerima tawaran Ayah dan pindah ke Indonesia. Tom bekerja untuk Ayah selama satu tahun sebelum dipindah tugaskan menjagaku.

"Clear?"

Cindy mengangguk-angguk kecil, tanpa menunggu aba-aba aku langsung melenggang menuju kolam renang di belakang villa. Melepas dress putih Marni dan flip flops ku aku pun langsung menyelam ke dasar kolam yang berwarna biru laut itu. Saat itulah aku melihat sosok Tom berbicara di iPhone-nya, dari cara bicaranya ia sedang menerima telefon dari Ayah. Aku pun berenang menuju permukaan, dan duduk terdiam mendengarkan pembicaraan 'penting' itu. Aku menggelengkan kepala menyadari apa yang sedang dibicarakan Tom. Setelah akhirnya Tom menutup pembicaraan itu dengan 'Good day, Sir.' Aku tertawa sinis.

"Let me guess, he couldn't come home and send his regards to me and mom?" Ucapku memandang kolam dibawah.

"Yes, he's leaving for Lisbon in an hour. He said he's very sorry."

Tom menyadari perubahan raut mukaku pun perlahan duduk tepat ditepi kolam, memasukkan kembali iPhone miliknya ke dalam saku.

"He's not sorry, he's never sorry." Balasku tidak mengalihkan pandangan sekali pun dari kolam yang semakin lama semakin mendingin itu.

Terlihat dari sudut mataku Tom memejamkan matanya sesaat. Tak tahu apa lagi yang harus dia katakan untuk merubah pendapatku tentang Ayah.

"He did this for you. He wants nothing more than to see you happy."

Happy? Kapan terakhir kali Ayah mau mengurusi hal yang sudah kukerjakan? Nggak pernah sekali pun dia datang ke acara sekolah sampai recital piano ku yang terakhir. Aku mengusap rambut yang basah dan acak-acakan karena berenang tadi.

"Tu ne comprends pas [1]" Jawabku tanpa berpikir lagi. Toh, Tom juga mahir berbahasa Perancis, kenapa harus dipungkiri lagi?

"il vous aime, je le comprends qui.[2]" Aku menggelengkan kepala. Air mata yang telah kupendam tanpa sadar telah keluar dengan sendirinya, aku menundukkan kepala dan berharap bahwa Tom tidak melihatku dalam keadaan seperti ini. Tapi, dia melihat dengan jelas bahwa seorang yang lebih sering dianggap jutek bisa juga menangis.

"Shhhhh"

Tanpa sadar aku sudah berada di pelukan Tom. Jujur ini adalah satu-satunya momen dimana seorang cowok bisa menenangkan aku disaat aku sedang histerisnya menangis, Abby atau Noa biasanya lebih sering melakukan hal itu daripada Adam, pacar -Well, ex now- ku waktu itu. Untuk pertama kalinya pun aku merasa tenang dipelukan seseorang.

"Your family loves you more than anything in this whole world. You're his only daughter, he'd be the biggest fool not to love someone as beautiful and talented as you. He's lucky to have a daughter like you, he said that to me himself." Ujar Tom sambil memelukku lebih erat dari sebelumnya, aku pun membalas pelukan hangat dari Tom.

"Dee, Mrs baru telefon katanya lagi on the way ke airport mau ke…."

Suara Cindy membuatku tersadar apa yang sedang terjadi di tepi kolam, reflex aku langsung melepas pelukan Tom dan berdiri melihat Cindy di ambang pintu yang tertegun melihat pemandangan tak wajar antara aku dan Tom.

"Jakarta." Tutup Cindy setelah melihat reaksiku dan Tom.

Kita bertiga hanya memandang satu sama lain, tidak ada satu pun kata terucap selain dari Cindy tadi. Aku mengacak-acak rambut bob-ku dan memakai kembali flip flops yang tergeletak di sebelah kolam renang. Melihat jam di iPhone hitam ku yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang, aku menghela nafas lega karena aku punya alasan untuk menghindari konfrontasi Cindy tentang kejadian di kolam.

"I'm going to change into more appropriate clothes for lunch." Ucapku sambil mengambil dress Marni warna putih diatas kursi dan berjalan masuk, aku berjalan menyusuri tangga keatas setengah berlari. Setelah sendirian di kamar, aku menyandarkan kepala di pintu untuk menenangkan detak jantung yang tak terkontrol lagi. What just happened? Why did I freak out when Cindy saw me with Tom? Why was I returning his hug? Kepalaku mendadak pening memikirkan hal yang telah terjadi. Apa-apaan sih ini?

Tanpa berpikir lagi aku langsung mengambil blouse warna biru keluaran Maison Martin Margiela, celana jeans Rag&Bone hasil buruan Abby dari Sydney minggu lalu, dan Wedge Sandals Paloma Barcelo warna crème dari Ibu. Tas kanvas McQ by Alexander McQueen sudah menungguku di kursi anyaman dekat notebook Apple di meja, aku memasukkan iPhone beserta charger dan headset ke dalamnya. Setelah puas melihat apa yang ku pilih, aku menuju ke koridor bawah. Tom dan Cindy sedang asyik berbicara sampai akhirnya Tom menyadari aku sudah menunggu di dekat foyer berhias vas antik hasil perburuan Ibu di Thailand tiga tahun lalu.

"Which car do you prefer for today?" Tanya Tom membuka lemari di dinding yang menyimpan banyak kunci mobil. Aku tersenyum mengingat Tom membersihkan BMW hitam ku.

"Is the black convertible ready?" Balasku duduk di salah satu kursi tamu warna hitam yang dipilih Ibu during her re-decorate yang kesekian kalinya. Kursi ini di impor langsung dari Italia, nggak heran tekstur kulitnya lembut sekali.

"I cleaned it this morning."

Aku mengangguk, memberikan isyarat pada Tom untuk mengambil mobil di garasi. Cindy kemudian menyusul keluar, aku duduk terdiam sesaat memikirkan apa yang terjadi beberapa hari ini semenjak aku pulang dari Singapore.

"The car is ready, Madame."

Lamunanku buyar seketika, mendengar suara British milik Tom dari pintu depan. Aku berdiri dan berjalan melewati pintu, Tom sudah menunggu dengan pintu kursi belakang Convertible terbuka. Cindy sudah duduk manis di kursi depan. Tunggu…

"Cin, do you mind moving to the back?"

Cindy yang sedang asyik mendengarkan lagu dari iPod kesayangannya tidak mendengar kalimatku barusan, dengan geram aku pun melepas paksa earpod dari telinga kanannya. Ia pun kaget melihat tindakan ku barusan.

"I said, DO YOU MIND MOVING TO THE BACK?" Ujarku kesal bukan main, Cindy dengan tatapan kagetnya, pindah ke kursi belakang mobil. Aku melempar tas McQueen ku ke bawah dashboard dan menatap Cindy seolah dia baru saja melakukan act of felony. Ketika aku sudah duduk di depan barulah Tom masuk dan mulai menyetir mobil keluar dari villa.

[1]: You don't understand

[2]: He loves you, I understand that.

Chapter Two: Piano and Heartbreaks

"Where to?" Tanya Tom setelah mobil BMW ku sudah melaju ke arah Sunset Road yang terlihat jelas sangat padat.

"Beachwalk, Tom."

Tom tidak membalas perkataanku barusan, it's normal. He's ex-military anyway. Aku memalingkan pandangan ke arah jalanan, Cindy seperti biasa lebih tertarik untuk mendengarkan lagu-lagu yang ia pindah dari iTunes daripada memerhatikan apa yang sedang ku bicarakan. Aku memutar kedua bola mataku ketika lampu berubah menjadi merah. Liburan kali ini lebih banyak ku habiskan di jalanan dan di kolam renang ketimbang bersosialisasi dengan keluarga. Ayah seperti biasa sibuk di dunia Politik, Ibu? God knows what she does. Kemungkinan besar pergi keliling Indonesia bersama teman-teman high class-nya, Abang? Working his ass out in Dubai, Mas? Entah pergi kemana. So all I did this summer was practically drowning myself, bosen juga sih liburan sama temen. I mean, seriously who could keep up with Abby's appetite of shopping? Muterin Orchard Road pun belum cukup buat Abby. So when she decided she would continue her shopping trip to Australia, aku lebih milih buat stop di Bali dan mengistirahatkan kakiku yang hampir copot. Untung mengobati rasa bersalahnya, Abby mengirim dua buah jeans Rag&Bone yang ia beli khusus buatku dari Sydney dengan kartu warna hijau bertuliskan 'Wishing you were here with me, the shopping spree would've been fun if I have my trusty stylist next to me.'. Aku tertawa melihat isi kartu itu saat menerima paket dari Abby. Anyway, mobil BMW hitam ini pun sudah memasuki areal parkir Beachwalk, Kuta. Tom memarkirkan mobil dengan mulus, entah kenapa hari ini aku lebih senang melakukan sesuatu sendiri. Biasanya Tom berlari-lari kecil untuk membuka pintu mobilku, tapi hari ini aku langsung membuka pintu Convertible itu sendiri.

"I'm in the mood for something grilled."

Kataku begitu menginjak masuk area pertokoan di Beachwalk. Cindy, yang sudah mencopot earpod putihnya mengiyakan permintaanku dan mencoba berjalan mengikutiku yang sangat cepat. Tom berjalan tak jauh dariku. Ketika berjalan di depan counter Make Up Forever barulah aku menyadari laki-laki yang duduk di bangku cokelat itu sedang mencermatiku dari atas hingga bawah. Aku berhenti dan mencoba mengenali siapa laki-laki yang umurnya sama dengan Tom itu. Ia pun berjalan menghampiri ku, and of course my two entourage.

"I'm sorry, you're Deianira Richards?" Sapa laki-laki itu. There's something about him that seems very familiar, like I've seen him before. Tapi siapa ya?

"Yeah. You are?" Balasku melepaskan sunglasses Chanel yang tidak pernah lepas dariku agar dapat mencermati beautiful creature yang sedang berbicara kepadaku ini.

"My name is Christian Brown, I work for NYPD. I'm here to investigate your father's case?"

Oh! Ya tuhan, I forgot to mention. Ayah mendapat dead threats beberapa waktu yang lalu via e-mail dan mail, a little creepy might I add. Setelah staff (dan Tom tentunya!) melacak IP Address darimana e-mail itu berasal, barulah ketahuan bahwa e-mail itu dikirim dari komputer seorang Drug Dealer buronan NYPD yang beroperasi di Bali. Saat itu Tom yang masih memikirkan keselamatan Ayah, langsung mengontak NYPD dan meminta mereka untuk menindak lanjuti kasus ini. Walau pertama mereka mengatakan bahwa ini bukan jurisdiksi mereka, begitu mereka tahu Ayah adalah target dari dead threats itu. Mereka langsung mengirim tim untuk mencari Drug Dealer (whose name is very hard to pronounce, and I forgot.) disini.

Jadi ini yang mereka kirim? He's waaay to pretty to be a cop. Should be a photo model anyway.

"Oh right, thanks for coming." Ucapku, akhirnya dapat mengeluarkan sebuah kalimat.

Christian memiliki rambut cokelat gelap dan mata berwarna hazel, chiseled physics ..since he's a cop (Obviously, bwaah!), dan sebuah senyum yang mungkin mampu menandingi senyum seribu watt milik Tom.

"Do you have a moment? I need to talk to you about a few details."

Aku mengangguk dan mengisyaratkan pada Cindy dan Tom untuk tetap berada disana. Cindy tersenyum dan Tom memalingkan pandangannya dari tanganku yang sedang dipegang Christian ke poster di counter Make Up Forever. Did I just saw hurt in his eyes? Or was it jealousy? Christian mengajakku duduk di dekat fountain dan memberikan sebuah kertas berisi rencana pengamanan villa. Aku membaca kertas itu dengan seksama, shocked melihat kata-kata 'locked down, if necessary' dan setelah itu menelan ludah.

"Locked down? Seriously?" Tanyaku tak percaya dengan prosedural yang diberikan NYPD untuk 'mengamankan' Ayah yang bahkan sedang tidak berada dirumah.

"If it is necessary, Miss May. I will be occupying the second guest house along with my team, so if anything happens, we will know."

Unbe-bloody-livable, pikirku.

"I have a private guard who happens to be ex-MI5 member, Mr. Brown. And a house with a bunch of governmental staffs who works for the Intelligence Agency. Why would I need a house with cops in it?"

Okay, kalau ini menurut mereka adalah satu-satunya jalan untuk 'mengamankan' politisi yang sedang terbang ke Lisbon dengan 10 Guards who's highly trained with martial arts, NYPD berarti sudah kehilangan strategi. Christian menatapku sangat lekat sebelum kembali berbicara

"Because even though your father is not home at this point, we're afraid he's after you" Aku terdiam ketika Christian memaparkan bahwa Drug Dealer itu bisa saja dengan gampangnya menyakiti Ayah dengan cara memorak-porandakan keluarganya, orang-orang yang mendukungnya selama ini. And that he knew the famous politician couldn't live without his precious daughter.

"He knows where you are. There's a chance he might even try to kidnap you." Lanjut Christian dengan cepat.

"Okay. You can move in to the house as soon as possible." Jawabku, defeated.

Christian tersenyum dan menuliskan sebuah nomor di kertas prosedural tadi, dan menambahkan 'call in urgent'

"My number, if you need anything. I'll be a few foots away." Jelasnya mengembalikan kertas itu kepadaku, aku tertawa dan mengucapkan thanks karena telah memberikan nomor telefonnya.

Aku berjalan kembali ke depan counter Make Up Forever dan melihat Tom bersandar di seberang, menatap Christian seakan-akan dia adalah musuh terbesar di hidupnya.

"Tom, are you okay?" Sapaku,

Tom hanya tersenyum kecil dan tidak mengalihkan pandangannya sampai Christian keluar dari Beachwalk. Aku heran dengan perbuatan Tom barusan dan memutuskan untuk berjalan menuju Café Sardinia, Tom yang sadar bahwa aku sudah berjalan cukup jauh, berlari mengejarku. Aku tetap tidak menggubris keberadaannya maupun Cindy disampingku, my main focus is to eat. Setelah sampai di Café Sardinia, aku memesan steak salmon dan sebotol wine yang langsung dibalas oleh ocehan Cindy tentang buruknya habitku minum di siang hari and how irresponsible it was. Cindy memilih Tenderloin steak dengan lemon tea, sedangkan Tom lebih memilih fettucine dan kopi robusta. Selesai mengambil order waitress itu pun langsung pergi dan tidak lama kembali membawa pesanan kita masing-masing. Kali ini wine pilihanku jatuh pada Chianti Classico yang cocok menjadi teman makan steak, karena tidak mungkin sekali aku makan steak tanpa wine. Tom menolak tawaran wine ku dengan alasan yang logic, he's working.

"Do you mind stopping by Farah Khan's boutique, Cin?" Tanyaku pada Cindy begitu kami menyelesaikan lunch dan beranjak pergi.

"Ok." Timpalnya,

Cindy langsung pergi ke lantai bawah menuju butik yang ku maksud. I need a dress for a benefit tonight, dan karena aku bakalan datang sendiri, I need to wow the guys there. Masih bingung who should I bring since I broke up with Adam a few months ago. Aku mengeluarkan sekotak rokok Marlboro dari tas McQ-ku beserta lighternya, mengambil sebatang, dan menawarkannya kepada Tom yang berada disampingku. Tom mengambil satu batang dan aku menyalakan batang rokok tersebut dengan lighter gold berlambang tengkorak, setelah itu barulah menyalakan rokok yang ku pegang. Kita berdiam diri disela hiruk pikuk publik.Tom pun jauh lebih fokus pada asap rokok yang ia buat.

"The way you looked at Christian, I take it you don't like him?" Tanyaku memecah keheningan tiba-tiba, Tom membuang puntung rokoknya di asbak dan mulai memerhatikan aku lagi.

"No, I don't like him." Balasnya datar,

"Why?"

"Because I don't want him in your life, he's not good."

Aku terdiam sejenak menelan kata-kata yang baru saja dilontarkan Tom, why would he care anyway?

"And why is that?"

Tom hanya tersenyum sinis mendengar pertanyaanku barusan. Alih-alih menjawab, Tom berdiri dan berjalan menjauh. Aku membuang rokokku dan berjalan menyusul Tom yang sekarang sudah berjalan kearah area parkir.

"You didn't answer my question."

Tom berhenti berjalan dan berputar menghadapku, mata birunya seakan menyiratkan sesuatu. Between anger and hurt.

"Tom?"

Aku berjalan mendekati Tom, yang seolah terpaku oleh suaraku. He's hurt, terlihat jelas sekali sekarang. Sebelum aku sadar tanganku sudah memegang pipinya, berusaha menghilangkan rasa sakit yang berasal entah darimana. Ia memejamkan mata sesaat seakan berharap hal ini tidak akan pernah berakhir. When he opened his eyes, I could clearly see tears forming. What have I done? Aku menarik tanganku kembali sebelum Tom bisa meraihnya, berlari menuju pintu masuk. Aku langsung berlari ke dalam salah satu stall dan menangis didalamnya. Tiba-tiba lagu Labels or Love Fergie pun menghentikan tangisku, aku menarik nafas dan menghapus sisa mascara yang melunturi pipiku. Tanpa perlu melihat nomor yang tertera di screen iPhone, aku tahu siapa yang menelfon.

"What?" Ujarku dengan suara serak,

"Dimana? We have to get back, you need to get your hair and make up done before 7 and your manicurist has arrived." Timpal Cindy.

"You can go back first Cin. I'll call Noa, I need to discuss some things with her anyway." Balasku men-dismiss Cindy.

"Okay."

Aku menutup pembicaraan itu dengan menghela nafas panjang, what a mess. Aku akhirnya memberanikan diri keluar dan menge-check make up ku, terlepas dari mascara yang tadi sempat ikut larut dengan tangis. Everything is pretty much tolerable, kok. Aku mengeluarkan compact powder NYX dari pouch dan mulai mengaplikasikannya,dilanjutkan dengan lipglass MAC dan blush on Benefit. Hanya berjarak beberapa detik, Noa mengabariku kalau dia sudah di Beachwalk. Aku membereskan peralatan Make Up On the go milikku memasukkannya dalam tas dan berjalan keluar.

Nuansa vintage Nanny's Pavillon sangat terasa diiringi dengan permainan piano Claire De Lune karya Debussy. Noa, salah satu orang yang paling dekat denganku beside Cindy, sedang menikmati teh dicangkir berwarna kuning pastel bermotif polkadot di penghujung ruangan. Aku langsung menghampiri gadis berambut hitam itu.

"Sorry, I had a moment of weakness." Sapaku setelah duduk, Noa tersenyum dan kembali menikmati tehnya.

"I don't know where to begin, after since I came home after the Singapore trip with Abby.. I kept having the strangest feelings for Tom. Everytime he smiles, I would just stare." Ucapku memandang ke glass wall yang menyekat café ini dengan dunia luar.

"Does these feelings continue? Up until now?" Balas Noa sesudah menghabiskan teh Twinings favoritnya

"Yes, I don't know what's wrong with me." Aku mengusap kedua mataku, mencegah agar air mata yang mulai membentuk tidak mengalir keluar.

Noa menarik nafas dalam-dalam dan memandangku seakan aku

menghadapi fase terberat di dalam hidup.

"Dee, even the dumbest person on Earth will say the same thing. You're in love with him."

Mendadak detak jantungku serasa berhenti setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Noa. Am I seriously falling for this guy? My own driver. A guy whose eight years older than me. Was that the reason he was hurt? What did I do though?

"Here, this might help." Ucap Noa memberikanku sebuah kotak berwarna gold dengan pita hitam diatasnya. Aku mengambil kotak itu dan membuka tutupnya. Buku Jane Austen: Pride and Prejudice tergeletak di dalam kotak itu.

"Pride and Prejudice?"

"It suits you!"

Aku tertawa mengingat alur cerita Pride and Prejudice. 'It suits you´ buku ini menggambarkan jelas bagaimana perbedaan derajat, pekerjaan, dan sifat tidak dapat menghalangi kasih sayang. Elizabeth Bennet yang keras kepala bertemu dengan Mr.Darcy yang angkuh. Jariku menyentuh cover buku itu, dan kembali memusatkan perhatianku pada pemandangan diluar.

"The answer you seek, Dee. I can't help you with that, only time and yourself can tell." Balas Noa sambil tersenyum, tak lama kemudian Noa pamit harus menemani adiknya belanja drawing kits. Setelah bertemu Noa, aku memutuskan untuk langsung pulang and actually deal with my problem. I don't want to run from my own feelings anymore.

Chapter Three: Over The Love

Taxi Blue Bird berhenti tepat di depan gang menuju villa. Setelah aku membayar, aku berjalan masuk gang. Aku berdiri di depan gerbang villa namun akhirnya memilih lewat pintu belakang, aku berjalan perlahan melewati Gues House yang sepertinya sudah dihuni oleh tim Christian.

"Sneaking?" Sapa Christian dari teras depan Guest House.

Aku tersenyum, OMG!! He's topless? In my house?

"I… Uhh.. I was avoiding the manicurist. My nails are still fine." Balasku sekenanya.

Christian berjalan keluar dari Guest House, menghampiri ku yang berdiri diluar. Semakin dekat Christian, semakin aku berjalan ke belakang. Tanpa ku sadari aku sudah berada di tepi kolam renang. Christian sekarang berada lima centimeter di depanku. Dan sebelum aku tahu Christian mendorongku jatuh ke kolam renang, meninggalkan tasku di kursi. Aku mencoba berenang keatas tapi berkali-kali Christian menarikku kebawah.

"Christian.. Stop." Pintaku ketika Christian menarikku kearahnya. Kita berdua tertawa lepas, until our faces were mere centimeters and he finally kissed me. Berlangsung selama beberapa menit before someone cleared his throat, aku melepas pelukan Christian dan berenang ke tepi kolam, melihat Tom yang berdiri mematung dengan memasang muka jijik terhadap Christian. Wait, that's not disgust. It's pure anger. Christian hanya tersenyum dan berjalan kembali ke dalam Guest House, meninggalkan aku dan Tom diluar. Sebelum aku bisa menjelaskan apa yang terjadi, Tom sudah berjalan pergi melempar handuk yang ia pegang tadi ke lantai. Aku mengambil handuk itu beserta tasku dan berjalan masuk ke dalam villa sambil mengeringkan rambut. Tom duduk di bar stool meneguk Guinness dingin tanpa sekalipun memperhatikanku, aku menarik nafas dan berjalan pergi meninggalkan dapur kearah kamarku.

Aku mengambil iPhone dan melempar tas McQ-ku ke kursi sebelum menyalakan keran untuk mandi. Aku mengganti bajuku yang semula blouse dan jeans menjadi dress warna mint keluaran Band of Outsiders yang aku beli baru-baru ini dengan flat shoes metallic milik Miu Miu. Setelah rambutku benar-benar kering aku berjalan menuju ruang tengah, melewati dapur dan Tom yang sekarang sudah menenggak habis botol Guinness ketiganya. Aku duduk di depan Grand Piano warna hitam yang dulu sering dimainkan Ibu waktu aku masih kecil, tanganku memencet tuts piano yang sedikit berdebu itu. Cukup lama menentukan lagu apa yang akan aku mainkan. Akhirnya, aku memilih lagu Young and Beautiful milik Lana Del Rey.

Tom yang semula ingin menenggelamkan rasa sakitnya dalam bir kebangaan Irish itu pun berhenti, seakan mencoba memikirkan sesuatu. Jari-jemari ku dengan lincahnya masih memainkan tuts piano hingga lagu itu habis. Tom berjalan keluar dari dapur dan duduk disampingku, aku menghela nafas.

"You're hurt." Kataku menyadari kalau aku tidak segera mengakhiri kejanggalan antara kita berdua, semua akan tetap seperti ini. He kept staring to the piano like it actually bore so many of his secrets.

"Do you know how much I miss someone playing this piano?" Balas Tom, Out of topic tiba-tiba.

Aku menggelengkan kepala. Tom tertawa, this time cynically. Dia menunjuk partitur lagu Florence and The Machine - Never Let Me Go yang pernah ku mainkan sebulan yang lalu. Dia mengambil partitur itu beserta marker merah dan melingkari salah satu liriknya. 'And it's over, and I'm going under but I'm not giving up I'm just giving in' aku menatap mata birunya mencari suatu kepastian dari apa yang ia beritahukan. I could just easily stare at those blue eyes everyday. Aku menundukkan kepala, Tom lift my face up so I was facing him directly and brush some hair that was straining my face.

This is not right, I shouldn't be doing this. Refleks aku langsung menarik diriku dari sentuhan Tom dan berjalan pergi, menjauh darinya. Aku sedang berjalan menuju kamarku sebelum tangan seseorang menarikku kebawah. It was none other than Tom's, yang sekarang berdiri tepat di depanku.

"What is it?" Tanyaku berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi.

Tom tidak menjawab pertanyaanku dan memberikan sebuah box beludru kecil warna hitam dari saku celananya. Setelah memberikan box itu, Tom berjalan kearah sayap barat yang ia huni selama dua bulan ini. Aku menaikkan satu alisku mencermati box yang berada di tanganku sekarang. What's in it? Aku berjalan kembali memasuki queen sized bedroom warna crème yang menjadi saksi bisu perjuanganku, Tanpa sadar aku sudah duduk diujung tempat tidur yang dilapisi sheet satin hijau memegang box dari Tom. Perlahan akhirnya aku membuka box itu.

"Oh my god…" Ujarku tidak percaya akan apa yang ada di depanku.

Sebuah kalung berbentuk bunga daisy with diamonds encrusted in it. Kalung itu simpel, tapi ketika dilihat dari dekat terlihat sangat mewah. Dari detil liontinnya pun aku tahu kalung itu hasil buatan Tiffany & Co, edisi terbaru hasil kolaborasi dengan Baz Luhrmann dalam film The Great Gatsby. It suits my dress for tonight. Suara ketukan di pintu kamar terdengar jelas dari dalam. Aku mengalihkan pandangan dari kalung berhias onyx hitam itu dan meletakkannya di atas meja rias sebelum membuka pintu.

Cindy sudah berada di depan pintu dengan make up artist favoritku, Melissa. Aku memberikan senyum kecil sebelum mempersilahkan mereka masuk, Melissa langsung menuju meja rias dan menyiapkan segala peralatan 'perang'nya.

"Cin, changing plans. You'll wear the Farah Khan. I'll wear Lanvin" Timpalku mengingat bahwa dress Farah Khan warna bronze itu jauh lebih cocok melekat pada kulit Cindy yang lebih gelap. Cindy mengiyakan permintaanku dengan mengambil dress yang daritadi menggantung di atas mannequin. Melissa dengan cepat langsung mengurus rambutku, she described my hair as a 'hot mess'. Sambil menunggu curling iron yang sedang menggulung rambutku, dengan nggak sabar aku menelfon host Gala malam ini yang tak lain adalah salah satu anak dari sahabat Ibu. Lola.

"Hey babe, gettin' ready?" Sapa Lola diseberang seolah dia tahu apa yang sedang dilakukan Melissa denganku.

"Uhh.. Pretty much. Care to elaborate about tonight's plan, love?" Timpalku menirukan suara Tante Kharisma, bunda-nya.

"Ugh, please. Basic stuff, speech, benefit, arts, boys." Balas Lola dengan suara monoton yang membuatku mengernyit. She's the host! For the love of god, show some excitement.

"Oh, Males dateng nih." Ujarku ngasal.

Melissa yang sedang asyik menata rambut pun memberikan tatapan sinis yang ku balas dengan senyum penuh kemenangan khas milikku.

"You have to come. It ain't a party without you, babe!" Jawab Lola dengan excited. Aku akhirnya memutuskan untuk datang, I got no plans for tonight anyway. Menghakhiri pembicaraan dengan Lola, barulah aku sadar Melissa sedang memperhatikan kalung dari Tom.

"Kado dari Adam?" Tanya Melissa, setelah meletakkan curling iron diatas meja rias dan mengambil bobby pin. Sesaat aku terdiam, bingung mau menjawab apa.

"Bukan." Jawabku singkat setelah aku kembali ke realita dan menemukan suaraku kembali.

"Terus? Nggak mungkin Mrs, ngasih kalung The Great Gatsby kan ke anaknya? It's a guy."

Tidak adanya respons dariku seakan membenarkan spekulasi Melissa. Mengambil diamku sebagai isyarat bahwa ini bukanlah diskusi untuk dilanjutkan lagi, ia pun melanjutkan tugasnya. Tepat pukul tujuh malam, Melissa selesai denganku. Ia langsung pamit pulang dan keluar dari kamar.

I easily slipped from my mint dress into my black Lanvin's, dan memasang heels dari Gianvito Rossi warna merah. Aku melihat ke cermin, menatap pada bayanganku sendiri yang sekarang hampir tak ku kenali. Dengan berat hati aku melangkah keluar dari kamar menuju koridor, Cindy sudah duduk di kursi memakai dress Farah Khan yang ku order. Dan Tom…

He looked ravishing in his Armani suit. Tom sepertinya sedang sibuk memikirkan sesuatu sehingga tidak menyadari aku sudah berdiri disampingnya.

"Lovely painting" Ujarku memecah keheningan yang menyelimuti ruangan ini, Tom mengalihkan pandangan dari lukisan Affandi milik Ayah dan untuk pertama kalinya memperhatikan ku dari atas hingga bawah. Ia hanya tersenyum mengisyaratkan bahwa lukisan itu memang bagus.

"Same car, Madame?" Tanya Tom setelah menarik nafas.

"No, it's late. Bring in the Lexus instead."

Tom mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan mengambil mobil. Aku termenung sejenak memikirkan kejadian-kejadian hari ini. I kissed Christian, I touched Tom, Tom gave me a beautiful necklace that's worth $5,367.

"Kalung baru, Dee?" Tanya Cindy membangunkanku dari lamunan. Pertanyaan tadi hanya ku balas dengan anggukan kecil.

"Dari?"

Oh, not again!!

Bak artis Hollywood yang sudah memenangkan ratusan piala Oscar's, aku memasang kembali façade ku. Menghiraukan pertanyaan Cindy, melangkah maju keluar mengambil langkah panjang berkat heels-ku. Tom, seperti biasa sudah menunggu disebelah mobil membukakan pintunya untukku.

"Cin, you're sitting up front." Ujarku tegas, Cindy langsung menempati posisinya disebelah driver. Tom membukakan pintu belakang untukku yang hanya ku balas dengan tatapan kosong. Mobil Lexus silver milik Abang pun berjalan keluar dari pintu gerbang villa berlambang singa, suasana di mobil sunyi senyap. Tak ada sepatah kata pun keluar selain suara Florence Welch menyanyikan bait-bait lagu Over The Love. Cry and cry and cry, Over the love of you. Cindy yang biasanya selalu ceria entah kenapa malam ini mendadak menjadi diam seribu bahasa.

Now there's green light in my eyes,
And my lover on my mind.
And I'll sing from that piano, tear my yellow dress and,
Cry and cry and cry and,
Over the love of you.

Cry and cry and cry and,
Over the love of you.

Tom cleared his throat suddenly. Aku mengangkat kepala dan menaikkan satu alisku.

"We're here, Madame."

Setelah mengatakan hal itu Tom membukakan pintuku. Aku disambut oleh karpet merah lengkap bersama ratusan lampu blitz kamera milik paparazzi yang datang malam ini. Kerjaan tante Kharisma, setiap hal yang dia lakukan harus selalu di liput media supaya semua orang di dunia (heck I don't even watch her interview) tahu. Nggak penting, to the max!

"Deianira, Deianira, pose dong buat Grazia."

Salah satu paps memanggil-manggil namaku. Ugh, fine fine. Aku berdiri dengan satu tangan di pinggang memeragakan baju yang sedang ku pakai. Take a good look, people. Berjalan sedikit saja, salah satu infotainment kelas kakap sudah menghadangku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti 'date malam ini siapa?' 'pakai baju rancangan siapa?' dan yang paling membuatku muak; 'bagaimana rasanya menjadi anak seorang politisi terkenal?' seriously people! Get a life! Aku hanya tersenyum sebentar sambil mengatakan bahwa host gala malam ini sudah menunggu dan berjalan pergi.

Bau bunga mawar langsung menyusup masuk ke dalam paru-paru begitu aku menginjakkan kaki di venue gala malam ini, duh kayaknya Lola harus cari obsesi lain deh selain bunga ini. Tak perlu lama berjalan hingga semua orang mengenaliku. Lola dari atas panggung sudah melambaikan tangan berhias gelang BVLGARI-nya kearah ku, menyuruhku untuk mengambil tempat duduk di depan. Aku membalas lambaian Lola dan berjalan ke depan mengambil tempat duduk disamping Siki Thereoux dan Alexandria Handoko.

"You look chic tonight, cher" Sapa Siki dengan nada French yang dibuat-buat. Seolah tak mau kalah, Alexandria yang menggunakan dress Herve Leger warna merah trashy itu menarik kursiku lebih dekat dengannya.

"Love your necklace, hon! Is it Bvlgari? Just like Lola's? Heard you both went necklace shopping together."

True, we did went together. Tapi hasil shoppingku tidak menghasilkan kalung seharga lima puluh juta kan? And seriously, the necklace is still brand new. Even in Tiffany's. Aku tertawa sinis dan menggelengkan kepala.

"un cadeau[3] '' Jawabku dalam bahasa perancis, Siki ikut tertawa. Alex menyikut Siki dan memintanya untuk mengartikan kalimatku barusan. Siki hanya menaikkan bahunya dan kembali fokus pada main entertainment malam ini.

Lola turun dari panggung dan langsung duduk disampingku. Unlike her so wannabe friends, aku tahu posisi. Alex tidak henti-hentinya menguap sampai akhirnya pamit pulang walaupun kita baru berada di tengah acara, setelah itu dilanjut Siki yang 'mendadak' dapat telfon dari keluarganya ketika pelelangan. Aku memutar bola mata dan menenggak habis isi gelas champagne ku. Tiba-tiba waitress mengantarkan segelas champagne baru kehadapanku.

"Dari sebelah sana" Ucap waitress itu sambil menunjuk dua meja disebelah kananku. Aku mencari-cari orang yang dituju waitress itu dan menyadari senyumannya. Aku berjalan menuju meja tadi dan sesampainya langsung mencium pipi Derek. Derek Smith, cowok kelahiran Ireland itu langsung memelukku hangat.

"How's my girl?" Tanya Derek setelah melepas pelukanku sambil tersenyum.

"Good. Did you know I got a new babysitter?" Balasku mengingat Tom dan ide Ayah dua bulan silam.

"I do. Luke told me about it." Jawab Derek menganggukkan kepalanya.

Setelah acara itu selesai Derek dan teman-teman jock-nya memilih untuk menghabiskan malam ini clubbing. Aku yang lagi tidak mood memilih pulang dan sekali lagi menikmati keheningan selama perjalanan pulang. Begitu menginjakkan kaki ke dalam villa, aku langsung mencopot heels yang mulai menyiksa kedua kakiku dan berjalan menuju kamar.Setelah mengganti dressku dengan tank top Victoria's Secret dan celana pendek hitam, aku menyempatkan diri mampir ke dapur. Cindy mengucapkan selamat malam, menghilang ke dalam kamar sehingga sekarang hanya ada aku dan Tom berdua, lagi. Aku membuat dua gelas hot chocolate dan menawarkan salah satu gelas itu kepada Tom tanpa menggunakan sepatah kata pun. Tom menerima tawaranku tanpa senyum sama sekali. Aku duduk di salah satu bar stool agak jauh dari Tom.

Tom mendadak sudah ada disampingku, mengambil cangkir yang sekarang sudah kosong ditangannya. Setelah meletakkan dua buah cangkir di bak pencuci, Tom membalikkan badan menghadapku yang dumbstruck dengan perlakuannya. Dia mengambil langkah demi langkah untuk berdiri di depanku, before I knew it, he was kissing me. This time it wasn't like the one I shared with Christian in the pool, this was more passionate and meaningful instead of filled by raging lust. It was companionship. Aku sedikit kecewa ketika Tom mengakhirinya.

"Bedroom?" Tanya Tom setelah menarik nafas.

[3]: A Gift

Chapter Four: Love?

Aku terbangun dari tidur dan merasa seluruh badanku pegal bukan main, setelah melihat sesosok manusia disebelahku yang sedang tertidur pulas barulah memori semalam datang lagi. So, it wasn't a dream after all. Tom membuka matanya dan menatap kearahku yang sedang dilemma.

"Morning."

Aku tersenyum mendengar suara Tom dari sampingku. He grabbed my wrist and held it in his, not breaking eye contact during the process.

"What are we going to do now?" Tanyaku kembali berbaring di tempat tidur menghadap Tom yang sedang menopang kepalanya.

"Quel qu'il soit que vous voulez, mon amour[4]" Balas Tom tanpa berpikir lagi,

"Vraiment? même si je vous demande de sauter d'une falaise?[5]'' Timpalku menggoda Tom yang tertawa sekarang.

"Chérie, je serais certainement le faite qui. Tu ne me manquer si je suis allé?[6] " Tanya Tom memasang puppy eyes yang sukses membuatku tertawa terbahak. Aku memperhatikan Tom sejenak, how perfect he is next to me. Aku menarik wajah Tom, dan dengan pelan membisikkan..

"pas un peu[7] " Yang langsung dibalas Tom dengan memegang dadanya seakan-akan aku sudah menusuk hatinya. Aku melihat jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit, aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil tank top Victoria's Secret dan celana pendek hitamku yang tergeletak di kaki tempat tidur akibat semalam. Tom was watching my every move, aku melemparkan senyumku padanya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memulai ritual hot bath yang kali ini lengkap dengan lilin aromaterapi berbau Lavender. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Tom sudah kembali memakai T-shirt dan celana berdiri membelakangiku menatap keluar dari ruangan ini. Cahaya matahari membuatnya terlihat seperti malaikat jatuh tak tahu darimana ke dalam hidupku.

"Cindy will be up and running in a few minutes, you might want to head down. " Ucapku sambil mengenakan silk robe warna hitam berinisial 'D' sebelum memeluk Tom dari belakang.

Tom menarik nafas dan melepaskan dirinya dari warm embrace yang hampir tidak pernah ku tujukan ke siapapun, berjalan keluar sambil mengedipkan mata sebelah kanannya. Aku langsung berjalan masuk ke kamar mandi dan menenggelamkan diri dalam lautan busa berbau lavender L'Occitane. Last night was a mistake, was it ? Kalau memang itu adalah kesalahan, kenapa semuanya terasa benar sekarang ? Why don't I feel guilty ?

Keluar dari kamar mandi dengan kulit sedikit merah karena panasnya air, aku mengenakan atasan warna pink salem Karl Lagerfeld, celana jeans pendek J Brand, dan leather pumps keluaran Lanvin yang baru saja aku beli dari Singapore. Mengambil tas Celine Trapeze hitam, memasukkan buku jurnal warna merah dan berjalan menuruni tangga.

As usual, Cindy sudah duduk manis di kursi makan sambil menikmati teh Dilmah dan Tom.. Duduk di bar stool membaca koran hari ini. Untuk pertama kalinya, aku tersenyum melihat pemandangan yang biasanya terlihat boring.

"Bonjour "

Sapaanku berhasil membuat dua manusia itu memfokuskan pandangannya kepadaku. Cindy membalas sapaan pagiku dengan senyum kecil, Tom the tease he is, winked at me before returning to his newspaper. Aku mengambil mug kesayangan dari kabinet dibelakang Tom dan langsung membuat kopi, aku yang biasanya duduk di meja makan hari ini memilih duduk di bar stool berdampingan dengan Tom. Cindy menyadari adanya hal aneh langsung melihat ke arah ku dan Tom, aku membalas pandangan Cindy dengan senyum yang seakan menjawab bahwa aku dan Tom baik-baik saja. Handphone Cindy berdering, seems important. Batinku.

Selesai meminum kopi+krimer seperti biasa, aku menaruh mug ke dalam bak cuci dan membalikkan badanku membelakangi Tom. I feel a hand gently holding my waist and a head resting on my shoulder blades, Tom menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku menyadari suatu hal setelah Tom melakukan hal itu, Cindy sedang berada di ruang makan.

"Tom, Cindy is next to us " Ucapku mengingatkan Tom tentang Dangerous Liasons antara kita. Tom hanya tertawa dan kembali meletakkan kepalanya di pundakku. He then began trailing kisses from my shoulder to my neck, aku berusaha keras menahan diri untuk tidak memanggil namanya keras-keras di dapur.

"Tom.. " Ucapku, tanpa sadar mug yang masih ku pegang jatuh dan pecah dilantai, membuatku dan Tom kaget dan akhirnya tertawa. Namun tawa itu lantas mati ketika Cindy tiba-tiba muncul di dapur

"Dee, are you okay?" Tanya Cindy setengah terbata-bata, aku mengangguk dan tersenyum melihat reaksinya. Pandangan Cindy berubah yang semula fokus pada ku, menuju Tom yang berdiri disampingku. Dalam close proximately. Aku berjalan keluar dari dapur meninggalkan Cindy yang mematung menatap Tom. Setelah cukup lama, Tom pun masuk ke dalam kamarnya.

Christian was deep in thoughts, ketika aku berjalan menghampirinya di depan Guest House bercat kuning itu.

"Good morning" Sapaku, membuat Christian terbangun dari daydreaming-nya. Ia tersenyum dan menepuk perlahan kursi yang berada di dekatnya. Tanpa berpikir panjang aku menempati tempat duduk warna cokelat itu, kembali menghadap Christian.

"Morning, Gorgeous!" Balas Christian mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku tertawa kecil sebelum membalas kalimat Christian dengan menjulurkan lidahku keluar, kita berdua tertawa lepas setelah itu. Begitu tawa kami mereda, aku memalingkan pandangan melihat horizon Bali yang menawarkan berbagai warna hari ini.

Christian memegang tanganku yang langsung ku lepas. Merasa bersalah atas kejadian itu aku berjalan pergi dari Guest House, mencari Cindy. Tapi bukan Cindy yang kutemukan diruang tengah, Ibu dengan santai sedang memijit-mijit kakinya di sofa Harvey's merah maroon bersama teman high class-nya.

"Dee, temenin Ibu belanja ya nanti sama tante Zilda." Ujar Ibu melepas wedges Pierre Hardy merah miliknya sebelum berjalan menghampiriku dan memberikan pelukan. Seriously, paling benci sama fake affecionate yang sering ditunjukkan Ibu ketika teman-temannya ada dirumah. Serasa kita itu keluarga bahagia tanpa masalah sama sekali, when truth to be told we were quite the opposite. Aku membalas 'pelukan' Ibu dengan menepuk bahunya, menandakan bahwa aku ingin sekali melepaskan diri.

"I would love to, tapi aku ada janji sama Laras." Timpalku yang langsung disambut oleh muka muram Ibu, menandakan bahwa aku telah mengecewakannya. Aku memasang ekspresi innocent sambil menaikkan bahuku. Pertanda bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.

Setelah adegan diruang tengah aku langsung kabur keluar menemui Tom dan Cindy di depan mobil Mercedes Benz hitam. Tom hari ini memakai kemeja warna biru navy dan celana wana khaki, yang disetrika licin sekali. Cindy memakai long shirt hitam dan celana jeans biru milik Levi's. Mendadak aku mendapatkan sebuah ide…

"Cin, inget diskusi kita minggu lalu tentang day off?" Tanyaku, mendapatkan tatapan kaget Cindy. Ia mengangguk sebelum mengernyit.

"Well, guess what? It's your day off. Feel free not to tag me." Sindirku halus. Cindy tersenyum lega seakan beban berat baru saja aku pindahkan dari pundaknya, as predicted, Cindy memilih diam dirumah dan mengerjakan tugas-tugasnya. Tom mengangkat satu alisnya, mengirimkan tatapan mencurigakan padaku.

"Look at the brightside, you have me all to yourself" Balasku sambil masuk ke dalam mobil, tidak beberapa lama Tom masuk dan mulai menyetir mobil keluar dari villa.

"If you said that earlier this morning, I would be more than gladly to" Balas Tom, menggodaku lagi. Aku merasakan pipiku memerah mendengar kata-kata Tom barusan. Aku menyalakan radio dan spontan langsung ikut menyanyikan bait-bait lagu National Anthem yang dinyanyikan Lana Del Rey

"Tell me I'm your National Anthem.
Ooh, yeah, baby, bow down,
Making me so wow, wow.
Tell me I'm your National Anthem.
Sugar, sugar, how now,
Take your body down town.
Red, white, blue's in the skies,
Summer's in the air and baby,
Heaven's in your eyes.
I'm your National Anthem."

Tom, mendengarkan lirik lagu yang memang ku tujukan padanya hanya tertawa. Setelah lagu itu habis aku tersenyum melihat reaksi Tom yang begitu antusias menceritakan tentang perjalanannya ke Tibet dua tahun lalu. He's a charming man, gotta give him that. Tanpa sadar tangan Tom yang semula berada diatas personeling sudah berada diatas tanganku. Aku merasakan mobil berhenti di sebuah tempat, aku menaikkan satu alisku menatap Tom penuh dengan tanda tanya.

"You're free today right?" Tanya Tom setelah mematikan mesin.

Aku mengangguk, sebelum balik menatap laki-laki bermata aquamarine itu. Tom memberikan senyuman 1000 watt nya sebelum keluar dan membukakan pintu untukku. Sejenak aku berpikir, where are we that got Tom so excited? Serius deh, kelakuan Tom saat ini mirip anak TK yang sedang high on sugar. Tom menggandeng tanganku masuk kedalam sebuah ruangan gelap. Lampu di dinding pun menyala, menampilkan berbagai macam hasil karya fotografi yang tertata rapi di dinding. Aku berjalan menghampiri salah satu karya yang entah kenapa tidak terlihat asing bagiku. Seorang perempuan, menghadap ke arah laut dengan baju berwarna putih dan rambut bob pendek cokelat. That's me! Aku berjalan mundur sebelum menabrak seseorang yang dengan tanggap langsung menangkapku. Tom sudah melingkarkan tangannya padaku, masih dalam fase shock aku hanya terdiam berdiri memandang foto itu lagi.

"It's you." Ujar Tom tetap berada pada posisi yang sama.

"H-H-How?" Balasku terbata-bata

"Remember when you went to Maldives with your father?" Timpal Tom, menyandarkan kepalanya dibahuku. Maldives? Oh tuhan, Tom masih bekerja sebagai private guard Ayah saat Ibu dengan antusiasnya mengatakan bahwa kita semua (including dad's private guards) akan berlibur ke Maldives. I was deep in thought on that cliff. Adam dan aku masih pacaran pada saat itu, kami bertengkar hebat sebelum aku pergi.

"You were with…" Sebelum aku berhasil menyelesaikan kalimatku, Tom's lips are on mine in a mere second.

I pulled out as soon as it happens, mengingat bahwa galeri ini bukanlah milik Tom walaupun dia menyumbangkan suatu karya. Tom tersenyum dan mencium rambutku, menandakan bahwa apa yang kita punya tidak hanya sekedar benefits untuk satu sama lain. Kita menghabiskan tiga jam berada di galeri itu, mengamati karya-karya seni dari berbagai seniman. Pada saat yang salah perutku bernyanyi ria menandakan laparnya diriku yang dibalas dengan tawa milik Tom.

Selesai tertawa Tom, mengantarkanku ke salah satu tempat favorit untuk lunch hasil rekomendasi Lola. Nama café ini cocok dengan menu yang disajikan, The Little Green Café karena masakan mereka vegetarian. Suasana outdoor dan tanaman hijau menyambutku seketika, merindukan rumah Nana di Jogja. Aku mengambil spot favorit di bawah canopy warna hijau dan memesan cake chocolate and coconut slice, Vegan burger with salsa sauce, yang terakhir adalah Strawberry smoothies. Tom memesan Veggie Burger dan Blueberry smoothies. Pesanan kami pun tidak lama keluar, Tom dengan cepat menghabiskan Veggie Burgernya.

"Umpphf" Ucapku dengan mulut penuh dengan cake, yang surprisingly delicious!! Tom menatapku seakan aku baru saja menandingi jeritanku tadi malam. Aku menelan cake itu sebelum tersenyum.

"You have to try this" Jawabku memotong cake itu dengan garpu dan menyuapkannya pada Tom.

"Sinful little thing right?" Tom menelan cake itu dan tersenyum penuh arti mendengar perkataanku barusan.

"Sinful, eh? Ehehehe" Timpal Tom sambil tertawa. Aku memasang façade cemberut dan melihat kesampingku.

"Aww, honey. I was kidding!" Balas Tom kembali tertawa.

Damn his laughs, it's very contagious. Aku pun tertawa mengikuti ritme tawa Tom.

Waiter membawakan bill lunch kami. Saat aku mau mengambil dompet di dalam tas Celine, Tom dengan secepat kilat sudah mengeluarkan Mastercard dari saku celananya. Heran deh, Tom selalu memilih membawa kartu kredit dibandingkan uang cash. Aku mengirim death glare pada Tom yang hanya dibalas dengan senyumannya.

"You don't have to do that. I am perfectly fine with paying for my own meals, Tom" Tuturku tanpa titik dan koma.

"You're forgetting something, darling." Balas Tom

Aku memandangnya dengan tatapan penuh tanya.

"You're a girl, I'm the guy. Without Cindy tagging you, you're my girl." Aku yang pada saat itu sedang menikmati Strawberry smoothies­ milikku sedikit tersedak karena statement Tom barusan. His girl?

"I thought we weren't… You know? Exclusive?" Timpalku mengembalikan gelas smoothiesku pada posisi semula.

"Well then, what ever this is. As long as you're with me, I'm paying everything. Deal?" Jawab Tom dengan ekspresi serius. I thought he was kidding, he wasn't peeps, he wasn't. He's freaking dead serious about this! Aku mengangguk dan tersenyum.

Tom kissed me slowly, I was lost in his kiss when suddenly a familiar voice brought us back to our situation.

"Dee?"

[4]: Whatever it is that you want, my love

[5] : Really ? Even if I ask you to jump off a cliff ?

[6] : I would certainly done that. Won't you miss me when I'm gone?

[7] : Not one bit

Chapter Five : Once Burn, Twice Shot

Aku terdiam beberapa saat mengenali suara itu, Cindy, dengan muka tidak percaya sedang berdiri tidak jauh dariku melihatku dan Tom yang sedang duduk berdua.

"This is your idea of giving me a day off? So you can make out with your driver? God… " Ucap Cindy tidak percaya akan apa yang terjadi.

"You think I was that dumb? You guys have been acting strange for these past few weeks, every time I turned my back you were always on to each other. I was right, you guys are crazy." Lanjut Cindy dengan amarah yang hampir memuncak. Tom, sebagai seorang gentleman menawarkan kursi yang ditempatinya dan berjalan menjauh agar aku dan Cindy dapat menyelesaikan scene konfrontasi ini.

"It's been going on for some time Cin. I didn't tell you because I do think it's best to keep this from you." Ucapku begitu Cindy berhenti berbicara.

"Best? Were you planning to actually tell me about this? Your affair with Tom?" Wow, WOW! Affair? Aku menggelengkan kepala, seakan membantah apa yang berusaha Cindy katakan.

"Sooner or later I will have to tell you, but after the both of us could determine what we are. Right now it's all a blur! Whether I'm his boss or his lover" Timpalku memainkan api dari lighter yang berada di tangan kananku.

"Out of all the guys in the world, Dee! Why him? " Tanya Cindy dengan nada penasaran. Aku meluruskan blouse yang ku pakai dan menatap Cindy seakan aku akan membunuhnya jika ini keluar dari kotak rahasianya.

"Because he's been there for me, he's nice, and the last he truly cares about me. Unlike any other shitty boyfriends I had." Jawabku pelan, mematikan lighter ditanganku dan menaruhnya kembali ke dalam tas.

Cindy hanya terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

"This will stay between us, clear?" Balasku mengangkat satu alisku dan menatap Cindy langsung.

Cindy mengangguk dan pergi keluar dari cafe, meninggalkanku sendiri di tempat duduk sebelum Tom kembali.

"Everything alright, dear? " Tanya Tom melihat ekspresi wajahku yang sedikit kusut.

"Pretty much. I'm just scared. If she , lord" Aku tidak mampu melanjutkan kalimatku. Tom menyadari mental breakdown yang sedang ku alami mengajakku berdiri dan berjalan menuju mobil. Perjalanan dari cafe menuju tempat yang diinginkan Tom memakan waktu satu setengah jam, aku tertidur pulas selama perjalanan itu. Tom membangunkanku ketika kita sudah sampai, setelah aku bangun aku menyadari d





0

| Email this story Email this Book | Add to reading list



Reviews

About | News | Contact | Your Account | TheNextBigWriter | Self Publishing | Advertise

© 2013 TheNextBigWriter, LLC. All Rights Reserved. Terms under which this service is provided to you. Privacy Policy.