Welcome Visitor: Login to the siteJoin the site

Surgaku Ternyata Masih ditelapak Kaki Ibuku

Novel By: Rendix Alextian
Memoir



his novel tells the true story, a young woman rebelling against her mother. But at the end of this story is a happy ending View table of contents...


Chapters:

1

Submitted:Mar 1, 2013    Reads: 246    Comments: 1    Likes: 0   


Rendix Alextian

Mempersembahkan

Surgaku Ternyata

Masih Di Telapak Kaki Ibuku

Suatu ketika disaat aku masih sekolah di kelas 3 SMA di salah satu SMA favorit di kotaku. Perkenalkan namaku Kirana Amelia Sari, biasa dipanggil Amel, aku seorang gadis belia yang saat ini sering disebut-sebut sebagai kembang perawan di sekolahku. Aku hidup bersama dengan kedua orangtuaku, mereka sangat menyayangiku karna aku adalah anak semata wayang mereka. Aku bukanlah anak dari golongan orang kaya, tapi aku adalah anak dari golongan orang sederhana. Ayahku adalah seorang penjual bakso keliling dan Ibuku hanyalah seorang pencuci keliling.

Suatu hari, disaat aku baru saja pulang dari sekolahku, dan berjalan melewati pinggir jalan raya menuju rumahku tercinta, tiba-tiba ada sebuah mobil merah mewah melaju kencang ke arahku, tiba-tiba aku tertabrak olehnya, aku terjatuh setengah sadar karena sakit yang luar biasa itu, dan kulihat mobil itu berhenti, dari kejauhan pemilik mobil itu keluar dari mobilnya, dan berjalan kearahku, tapi setelah itu aku tak melihat apa-apa. Setelah sadar ternyata aku sudah berada di Rumah Sakit, yang kurasakan hanya kepalaku yang pening bukan main, lalu disampingku terlihat seorang Pria Tampan yang memakai Jas hitam berdasi, dia melihat kearahku dan mencoba berbicara kepadaku, "Kamu sudah sadar????", lalu setengah sadar aku menjawabnya,

"hemmmt, kamu siapa??", dia menjawab,

" Aku adalah orang yang menabrak kamu tadi siang, bagaimana? kamu sudah baikan? maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini? Semua biaya sudah aku tanggung, kamu sudah baikan kan??", aku pun menjawab,

"Iya, gag apa-apa!! aku mau pulang, nanti aku dicariin orang tuaku!!", pria itu menjawab,

"Jangan, kamu belum sembuh total! aku semakin merasa bersalah jika kamu mau pulang hari ini", dengan penuh keyakinan aku menjawab,

"Tidak, aku ingin pulang hari ini!! Titik, aku sudah sembuh!!", lalu orang itu menjawab,

" Ya udahlah, jika itu mau kamu!!aku gag bisa nglarang kamu". Lalu orang itu mengantarku dengan mobilnya pulang ke rumahku, di tengah jalan kami bercakap-cakap. Dia bertanya padaku,

"Perkenalkan namaku Vikry, Bolehkah aku mengenalmu??Itupun jika kamu mau, tapi kalau tidak juga gak apa-apa!! ", karna dia sangat baik kepadaku, aku tidak sampai hati menolak perkenalannya,

"Iya, boleh! Namaku Amel", dia menjawab,"Oww, Amel!! Aku harus mengantarmu kemana? Aku tidak tahu alamatmu!", lalu aku menjawab

"Ohh, maaf! aku lupa memberi tahumu, rumahku di Jalan Setiabudi depan situ, kalo ada Gapura besar warna Ungu kiri jalan, langsung masuk aja! nanti ada pertigaan, belok kanan! kiri jalan udah rumahku, tapi rumahku jelek lo!!!", dia menjawab,

"Oww, gpp! Aku gak masalah kok!! Belok sini kan??", Aq menjawab,

"Heemtt, tapi aku takut kalo orang tuaku nanti marah-marah, jadi dari pada kamu nanti kena marah, mending turunin aku di Gapura aja!!", Dia menjawab,

" Oow, gitu! ya udahlah ! aku nurut ma kamu! tapi beneer gpp?? soalnya ini udah malam!", aku menjawab,"Gpp, benerr!! udah berhenti disini aja!!", lalu mobil itu berhenti di Gapura, dan aku beranjak keluar, tapi tiba-tiba dia memegang tasku dan berkata,

"Amel, apa aku boleh minta nomor HPmu,(Sambil tersenyum) karena aku slalu kesepian, itupun jika boleh, tapi kalo gak ya udah!!", Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya aku memutuskan untuk memberinya,

"Iya, boleh!! tapi jangan di kasih ke orang lain ya!! cuma buat kamu aja!! catat, 0889987XXX!!", dia menjawab,

" Oww, makasih ya!! Sampai ketemu lagi, dhaaa". Aku akhirnya turun dari Mobil dan berjalan menuju Rumahku, mobil itupun beranjak pergi. ketika aku sampai dirumah, Ibuku tiba-tiba mendatangiku, dan bertanya,

"Nak, kamu dari mana saja! kok jam segini baru pulang, Bapakmu cemas, nyariin kamu terus!", aku dengan sedikit kasihan menjawab,

"Maaf,bu! tadi siang aku di senggol mobil, trus aku pingsan dan orang yang menabrak itu membawaku ke Rumah Sakit!", Ibuku kaget seketika dan berkata,

"Ya ampun, hla kok bisa! kamu kalo jalan hati-hati, hla trus gimana keadaanmu, Ibu cemas sayang!", aku menjawab,"Gpp,bu! cuma pusing aja kok! ", Ibuku menjawabnya,

"Ya udah kalo gpp, sekarang makan ya, itu lauknya masih ada, supaya cepat sembuh!". dan akupun beranjak makan, setelah itu tidur, dan kulihat Bapakku tertidur pulas di kursi ruang tamu, karna menungguku.

Keesokan harinya, ketika aku beranjak pergi ke sekolah, tiba-tiba HPku berdering, dan kulihat ada nomor baru memanggil, lalu kuangkat! "Hallo, siapa ya??", lalu orang itu menjawab,"Amel, ini aku, Vickry! masih ingat aku kan?? yang tadi malam itu??? gimana, kepalamu udah baikan belum??", seketika itu juga aku menjawab,"Oww, kamu??? ada apa???? aku sudah sembuh kok! Ni aku mau berangkat sekolah!", lalu dia menjawab,"Maafin aku ya! gara-gara aku kamu jadi kayak gini! Ya udah, kamu berangkat sekolah dulu aja!, nanti pulang sekolah aku telepon lagi!!", lalu aku menjawab,

"Iya, makasih! aku berangkat sekolah dulu ya! dhaaaa", lalu menutup telepon itu, dan segera menuju ke sekolah.

Setelah pulang sekolah, ketika aku berjalan keluar dari gerbang sekolah tiba-tiba dari belakangku ada mobil melaju pelan dan berhenti disampingku, ternyata itu mobil Vikry! lalu perlahan-lahan kaca mobilnya di buka, lalu dia menyuruhku masuk ke dalam mobilnya,

"Mel, masuklah! aku mau mengajakmu makan!", dan kulihat teman-teman sekolahku semuanya melihat kearahku, mereka iri denganku karena ada mobil mewah menjemputku, tapi ada satu orang yang membuatku penasaran, namanya Reza, dari pertama aku sekolah di tempat itu dia selalu melihatku dengan wajah aneh, seolah-olah dia menyukaiku tapi aku tidak menganggapnya serius, karena mungkin dia hanya mengagumiku saja!, lalu aku segera masuk ke dalam mobil itu, dan mobil itupun segera melaju kencang an berhenti di Restoran mewah depan sebuah Mall, yang ku tau Restoran itu hanya untuk kaum-kaum Elite saja, bahkan uang sakuku selama sebulan belum tentu bisa membayarnya. Dan dia keluar dari mobil, berjalan menuju pintu samping kiri, dan membukakan pintu untukku, aku beranjak keluar seperti seorang bidadari kaya raya yang baru pulang sekolah dan turun dari mobil mewah. Dia menggandeng tanganku dan segera masuk kedalam, aku sebenarnya takut masuk ke tempat itu tapi aku memaksakannya, setelah sampai di dalam, kulihat kemewahan yang begitu membuatku kagum, lalu dia menuju ruang yang lebih dalam, sepertinya dia sudah memesan tempat. Akhirnya kami pun tiba, dia mempersilahkanku duduk! Dia berkata padaku,"Kamu mau pesan apa, mel?",lalu dia memberikanku Daftar Menunya, aku membacanya tapi tak ada satupun makanan yang aku kenal, karena aku takut jika nanti salah pesan ,aku berkata padanyanya,"Terserah kamu aja,vik!", lalu dia memanggil pelayan dan memesan makanan yang paling mewah di Restoran itu.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan Vikry datang, yang kurasakan hanya kagum dengan tampilan Menu-menu itu, sangat cantik dan menggugah selera, jujur kuakui aku baru pertama kali melihat langsung makanan-makanan mewah itu. dan akhirnya aku memakannya! sambil makan kami berbincang-bincang, dia berkata,"Mel, makasih ya! kamu udah mau nemenin aku makan! gimana, makanannya enak gak?? ", aku menjawabnya perkataannya,

"Ya, enak kok! kamu kok mau sih, ngajak aku makan ketempat ini, aku jadi gak enak ngrepotin kamu!" lalu dia berkata,

"Gak kok, kamu gak ngrepotin aku sama sekali, aku malah seneng banget , benerr! ", lalu dengan sedikit lega aku menghabiskan makanan itu, sambil berbincang-bincang kami menghabiskan waktu bersama, dia menceritakan tentang kehidupannya yang mewah, dan katanya dia itu adalah calon direktur di perusahaan milik ayahnya.setelah selesai, kami pun pulang, Vikry mengantarku pulang sampai ke Gapura.

Beberapa bulan berlalu, dan kini adalah pengumuman kelulusanku, aku was-was karena akhir-akhir ini aku sering membolos. Tapi ternyata aku lulus juga!, namun beberapa saat setelah kelulusanku si Reza, mendekatiku dan mengajakku pawai keliling kota dengan motornya yang usang, aku langsung menolaknya! Entah apa yang ada pikiranku, sejak aku sering dekat dengan Vikry, kelakuanku sedikit berubah, dulu aku terbuka kepada teman-temanku, sekarang aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Vikry. Disaat setelah pengumuman kelulusanku, Vikry menjemputku kembali dan mengajakku pergi ke Mall, katanya mau Shopping bulanan sih!, setelah kami tiba di Mall, dia membelanjakanku baju-baju mahal yang amat bagus, aku berpura-pura menolaknya, namun ia memaksa! Akhirnya dengan senang hati aku menerimanya.

Setelah kuhabiskan waktu Shopping bersamanya, dia mengajakku main ke Apartemennya yang mewah, dengan sedikit was-was aku kesana bersamanya, setelah sampai, dia membuka pintu apartemennya dan menyuruhku masuk!!, Aku masuk dan kulihat apartemen itu begitu mewah dan sangat nyaman! setelah itu aku duduk di Sofa, dia mendekatiku dan berkata,"Mel, tempatnya bagus kan??? Selagi kita sekarang sedang berduaan sendirian begini, apakah aku boleh berkata sesuatu kepadamu?", Aku dengan sedikit terkejut menjawabnya,"Boleh, apa yang ingin kamu katakan?", Dengan penuh keyakinan dia berkata kepadaku,

"Mel, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, kuakui aku memang menyukaimu, dan lama-kelamaan rasa suka itu berubah menjadi Cinta, karena kamu selalu menemaniku disaat aku kesepian dan butuh teman, untuk itu apa kamu mau menjadi pacarku!!", akupun bingung harus berkata bagaimana, tapi aku sendiri juga menyukainya, karena dia seorang pria yang baik, lalu aku berkata, "Beneran, kamu suka ma aku?? Buktinya apa??", aku menjawab seperti itu karena aku takut jika dia mempermainkan aku, lalu dia menjawabnya,"Mel, jika kamu mau menjadi pacarku, kamu boleh tinggal di apartemen ini sesuka hatimu, dan jika selama 2 bulan, kamu bisa membuatku bahagia aku berjanji akan memberikan apartemen ini kepadamu.!!" dan akupun begitu terkejut dengan jawaban dia, setahuku jika dia ingin mempermainkan aku, tidak mungkin dia mau memberikan apartemen mewah seperti ini, dan aku berpikir sejenak, jika aku menjual semua tanahku, dan menjual diriku juga, belum tentu aku bisa membeli apartemen semewah ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya,"Benarkah, dengan apa yang barusan kamu katakan?? Oke, jika itu mau kamu! aku bersedia jadi pacarmu, sayang! tapi apa jaminannya jika aku benar-benar boleh tinggal disini??", dia diam sejenak, lalu segera berkata,"Ya, mel!! jika kamu mau jadi kekasihku, bawa kartu kreditku ini, dan belanjalah sesuka hatimu!!tapi aku juga ada satu permintaan, aku mau mulai 2 hari kedepan kamu harus meninggalkan orang tuamu, dan hidup bersamaku di Apartemen ini,aku berjanji akan membahagiakanmu!!",

aku terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan, tapi entah apa yang ada dipikiranku, hingga akhirnya aku menyanggupinya tanpa memikirkan akibatnya. Setelah cukup lama aku di apartemen itu, dia mengantarku pulang, sampai di Gapura! Setelah mobil itu berhenti, aku segera keluar, tapi tiba-tiba Vikry memegang tanganku, aku menengok kearahnya, lalu bibirnya yang merona perlahan mendekati bibirku, aku tak kuasa menahan hasrat itu, dia menciumku dengan penuh kelembutan, yang kurasakan hanyalah nikmat, ternyata benar kata orang, jika ciuman pertama itu tiada duanya!, setelah itu aku keluar dari mobil sambil tersenyum, dan menuju kerumahku.

Sampai dirumah, aku di maki-maki oleh bapak dan ibuku, karena aku pulang larut malam, entah kenapa yang dulu aku diam jika aku dimarahi, sekarang aku balik memaki mereka, entah apa yang merasuki pikiranku, aku memaki mereka hingga ibuku menangis, lalu aku segera masuk kamar dan tidur begitu saja. Keesokan harinya aku mengumpulkan pakaian-pakaianku kedalam tas, semua yang aku perlukan kutaruh dalam tas, entah apa yang ada dipikiranku, hingga aku harus setega itu meninggalkan orangtua yang membesarkan aku dari kecil, setelah aku mengemasi barang-barangku, aku beranjak pergi dari rumah, tapi kulihat ibuku sedang menjemur pakaian milik tetanggaku yang baru saja dicuci di halaman rumahku, beliau melihat kearahku dan berkata,"Nak, kamu mau kemana? kok bawa tas segala, kalo mau pergi kok gak bilang Ibu dulu??", tanpa kusadari aku berkata demikian,"Aku mau minggat, aku gak betah dirumah, apa-apa dimarahin, keluar sebentar aja dicariin! pokoknya aku mau minggat, Titik!", lalu ibuku berlari kearahku dan aku menghindar darinya, beliau menarik tanganku agar aku segera mengurungkan niatku, ibuku berkata kepadaku dengan wajah penuh kesedihan,"Amel, kamu jangan ngambek seperti itu, semua ini ibu lakukan karena bapak dan ibu menyayangimu,dan tidak ingin kehilangan kamu,nak!", tapi aku sudah memutuskan untuk meninggalkan mereka, lalu dari kejauhan kulihat Bapakku pulang dari pasar, dan ketika melihatku membawa tas, beliau berlari kearahku,"Amel, apa yang kamu lakukan? kamu mau kemana?", aku takut dengan bapakku, lantas aku tidak menghiraukan perkataannya dan aku mempercepat lajuku, namun ibuku tetap saja menarikku dari belakang, serta bapakku juga menghadangku dari depan, aku tersudut dan tidak bisa lari kemana-mana, lalu dengan terpaksa aku menendang ibuku hingga terjatuh di belakangku, lantas bapakku berkata kepadaku dengan wajah penuh amarah, "Apa yang kamu lakukan? Itu ibumu, setega itu kamu kepada orangtuamu? kamu gak ingat siapa yang melahirkan kamu?? Setan apa yang merasuki dirimu? ayo, pulang!", dan akupun terdiam, yang ada dipikiranku adalah apa yang harus aku lakukan saat ini untuk pergi dan menghindari caci maki bapakku, lalu kulihat disampingku ada sebuah batu berukuran sedang, aku refleks mengambilnya dan memukulkannya kewajah bapakku, hingga beliau tersungkur dihadapanku dengan wajah penuh darah, aku segera berlari dari mereka, lalu ibuku terbangun dan berteriak ke arahku,"Amel, tega kamu! dengan orangtuamu sendiri, kamu jadi anak durhaka sekarang, jangan harap ibu akan memaafkan kamu,! pergi kamu dari sini, anak durhaka! Tuhan akan membalaskan luka orangtuamu!!, aku tidak menghiraukannya, yang aku pikirkan hanyalah kesenangan semata.

Setelah beberapa saat, aku tiba di Apartemen milik Vikry, dan aku mengetuk pintu, lalu Vikry membukakan pintunya!"Amel sayang! akhirnya kamu datang juga, aku menunggumu dari tadi, masuuk!!", aku segera masuk, dan meletakkan tasku setelah itu, aku duduk di kursi dan termenung, yang aku pikirkan tak lain adalah kedua orangtuaku, lalu Vikry mendekatiku dan bertanya,"Sayang, kamu kenapa?? ada masalah apa? cerita dong!!", lalu aku menjawabnya,

"Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan orang tuaku, mereka kesepian! aku adalah anak satu-satunya, dan sekarang aku meninggalkan mereka", Vikry berkata,

"Udahlah, gak usah terlalu dipikirin, kamu udah saatnya pisah dari mereka karena sekarang kamu sudah dewasa!, ayolah jangan terlalu dipikirin,sayang! aku mau mengajakmu jalan-jalan, cepat ganti baju ya!!," lalu aku menuju kamar mandi dan berganti baju disana, setelah selesai aku keluar dan segera turun dari apartemen menuju mobil Vikry. Kami pun bersenang-senang bersama, dari makan di restoran mewah, membeli kalung emas di toko perhiasan, dan tak terasa hari semakin gelap, dia mengajakku mampir di Bar mewah tempat ia biasa menghabiskan waktu malamnya disana. Disana aku dikenalkan dengan teman-teman Vikry yang membawa pacarnya masing-masing disana, dan mereka menantangku untuk bermain kartu Remi dan jika setiap kali kalah harus meminum segelas Bir, seumur-umur aku belum pernah merasakan minum-minuman seperti itu, awalnya aku menolak tapi Vikry membujukku, akhirnya dengan terpaksa aku mengikuti tantangan mereka.

Awalnya, aku menang, tapi lama-kelamaan aku terus-terusan kalah, hingga tak terasa aku sudah menghabiskan 4 botol Bir, kepalaku terasa berat ketika aku masih bermain kartu, hingga aku kalah lagi, dan minum segelas bir lagi, dan kurasakan tanganku tak dapat lagi mengambil kartu, aku menyerah dan tidur di pangkuan Vikry, yang saat itu masih bermain kartu, hingga sampai akhirnya aku mabuk dan tertidur pulas di pangkuannya.

Di pagi hari yang cerah, aku terbangun dari tidurku, dan ternyata aku sudah ada di Apartemen Vikry, aku tidak menyadarinya jika disampingku ada Vikry, ketika aku sadar, ternyata aku sudah telanjang bulat, dan tak memakai sehelai pakaian pun, hanya selimut tipis yang menutupi badanku, aku terkejut seketika ketika kulihat Vikry juga telanjang disampingku, dan kepalanya berada di atas perutku!, aku terbangun dan Vikry juga ikut bangun, aku baru sadar jika kesucianku telah direnggut oleh Vikry. Aku menangis diatas tempat tidur, lalu Vikry juga terbangun dan menenangkan hatiku,

"Sayang, sudahlah! terima saja! aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, kita nikmati saja surga dunia ini, hidup cuma sekali jangan dibikin runyam,!" aku hanya bisa diam dan terpaku, dan sejak saat itu hidupku berubah, yang dulu pendiam sekarang berubah menjadi arogan.

Aku dan Vikry semakin menjadi-jadi, kami sering berhubungan intim seperti layaknya suami istri, dan tidak memikirkan dosa dan akibat yang akan terjadi.

Suatu ketika disaat aku sedang menonton TV di dalam apartemen Vikry, tiba-tiba ada seorang perempuan mengetuk pintu dari luar, saat itu Vikry sedang tidak ada ditempat, lalu aku membukakan pintu, dan kulihat ada seorang wanita yang sedang hamil tua, memakai daster warna jingga dan membawa koper, aku tidak tau siapa dia, dan aku bertanya kepadanya,

"Maaf,mbak! mau cari siapa? mungkin anda salah kamar!", lalu dengan wajah yang aneh dia menjawab,

"Ini benar Apartemennya Vikry kan? iya, tidak salah lagi. Kamu siapa? berani tinggal di apartemenku?", aku terkejut seketika itu juga, karena mendengar perkataannya, lalu aku jawab,

"Heii, mbak? kamu gak salah? ini apartemenku, ini bener miliknya Vikry, dan sekarang sudah dikasih ke aku!", mendengar itu dia marah, membanting kopernya,

"Apa kamu bilang, liat anak siapa yang sekarang aku kandung ini? haaaa?.. kamu pasti cewek simpanannya Vikry, dasar cewek gak tau diri! mana Vikry, aku mau ketemu dengannya?", lalu aku menjawab,

"Vikry tidak ada, kamu mau apa? aku gak percaya dengan omong kosongmu, pergi kamu dari sini, kamu kira aku tolol, gampang kamu boongin??", lalu seketika itu juga, aku menutup pintu, tapi dia mendorongnya juga, karena dia lebih kuat, akhirnya aku terpelanting kedalam, dan ia berhasil masuk! lalu aku dibanting ke kursi, dan setelah itu dia menarikku keluar apartemen, aku tidak mampu melawannya, lalu dia mendorongku ke tangga, dan aku terjatuh dan menggelinding dari atas kebawah engan posisi tertelungkup. Aku tidak bisa menghentikan lajuku, lalu mataku membentur pagar tangga, hingga aku pingsan seketika itu juga! yang kurasakan hanya kepalaku pusing dan rasa sakit yang luar biasa di kedua mataku, sejak saat itu aku tidak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar dari pingsan, aku masih merasa pusing di kepalaku tapi aku tidak bisa melihat apa-apa, semua gelap gulita, lalu aku berteriak,"Dimana aku....??? siapapun juga, tolong beritahu aku, dimana aku sekarang??", lalu kudengar disampingku ada suara Vikry menjawab pertanyaanku,"Mel, kamu sekarang ada di Rumah Sakit, ini aku Vikry, kamu sudah sadar?? kamu sudah koma selama 3 hari!", lalu setelah mendengar itu aku berkata,"Kenapa semuanya gelap seperti ini?? apa yang terjadi, lalu siapa wanita yang kemarin mendorongku hingga jatuh dari tangga?", Vikry menjawab,

"Sebenarnya dia adalah istriku, maafkan aku karena telah membohongimu,! Oo...ya, tadi kata Dokter kamu positif buta, karena terbentur saat jatuh dari tangga kemarin, aku sudah mengurus semua administrasi di Rumah sakit ini hingga 1 minggu kedepan, kamu jangan khawatir, Mel!, tapi aku tidak bisa menjagamu lagi, karena saat ini istriku sudah pulang, maafkan aku! aku harus meninggalkanmu!",

mendengar hal itu, aku menangis, lalu kudengar suara langkah kaki Vikry menjauhi diriku, dan lama kelamaan suara itu menghilang, aku hanya bisa menangis meratapi nasibku yang begitu memilukan ini, dan aku benar-benar merasa bersalah kepada orang tuaku, aku mengabaikan mereka demi kesenangan semata, lalu melukai hati mereka begitu saja, dan inilah yang terjadi kepadaku, aku terkena karma atas kedurhakaanku. Begitu naasnya nasibku ini, sudah buta seperti ini, bahkan orang yang aku percaya dan aku sayangi ternyata membohongiku dan meninggalkanku begitu saja, aku benar-benar sedih.

Sudah kuhabiskan waktu hampir seminggu dirumah sakit itu, hari-hari kulalui hanya dengan menangis dan menangis, tidak ada orang yang memperdulikan aku, dan selama itu aku sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, aku bingung karena besok pagi aku sudah harus keluar dari rumah sakit ini, lalu yang aku pikirkan adalah kemana aku harus pergi, aku tidak punya siapa-siapa disini, bahkan parahnya lagi aku tidak tau rumah sakit ini ada daerah dimana. Keesokan harinya, seorang suster mendatangiku dan menyuapiku sepiring makanan organik, lalu setelah habis dia berkata kepadaku,

"Maaf,Non! waktu anda di Rumah sakit ini sudah habis, dan saya sarankan anda untuk segera pulang, karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menanggung biaya perawatan anda!", mendengar hal itu aku terdiam, aku bingung harus kemana, lalu dengan terpaksa aku pergi dari rumah sakit itu dengan berjalan kaki, dan sebuah tongkat yang menggiring dan menemani jalanku, aku tak tau harus kemana, aku hanya berjalan mengikuti naluriku, hingga hujanpun tiba dan aku berteduh di depan sebuah rumah makan kecil, sudah hampir 2 jam hujan itu belum reda, aku hanya bisa duduk di samping pintu masuk rumah makan itu, lalu kudengar suara langkah kaki menghampiriku, lalu dia berkata kepadaku,

"Nak, masuk sini loo, jangan disitu nanti basah! bener gpp, masuk sini aja", ternyata itu adalah suara wanita setengah baya, dan beliau mengingatkan tentang Ibuku, aku menangis disaat itu juga, lalu aku menjawab,

"Maaf,Bu! disini aja gpp, aku ini gadis buta, gak pantas masuk kesitu! Nanti pengunjungnya pada kabur!". mendengar hal itu Ibu tadi berkata,

"Ya ampun, gadis cantik seperti kamu kok buta sih,Ibu gak nyangka, ayo gpp masuk ke dalam!, jangan disini nanti kamu masuk angin!", lalu ibu itu menggandeng tanganku, dan menarikku kedalam, lalu aku disuruh duduk di meja tamu, beliau juga duduk disampingku dan menanyakan sesuatu,

"Nak, nama kamu siapa? rumah kamu mana?", lalu menjawabnya,

"Rumahku di Padalarang sana,bu! namaku Amel", ibu itu lantas bertanya kepadaku,

"Hah, Padalarang! itu kan jauh, trus kamu kok bisa sampai disini, kamu sudah makan belum?", aku menjawab,

"Ceritanya panjang,bu! aku tidak bisa menceritakannya, sudah pagi tadi bu!", mendengar hal itu ibu tadi lantas memanggil karyawannya, lalu berkata,

"Kamu buatkan nasi goreng untuknya, ya!", setelah mendengar itu, aku berkata,

"Gak usah repot-repot bu! aku gak mau ngrepotin ibu, aku juga tidak punya uang sepeserpun untuk membayarnya!", lalu ibu itu menjawab,

"Untuk kamu, saya kasih gratis, nak! gak usah mikirin bayarannya ya!", lalu dengan sedikit lega aku menjawab,

"Terima Kasih,bu!! Saya gak bisa membalas kebaikan ibu!", lalu seporsi nasi goreng datang di hadapanku, baunya yang harum tak dapat aku tahan, meskipun sedikit malu, aku langsung melahap habis nasi goreng itu.

Setelah cukup lama, aku berteduh di warung makan itu, dan kami saling besenda gurau, lalu kudengar suara hujan mulai reda, lalu aku berpamitan kepada Ibu itu,

"Bu, terima kasih karena telah menerima dengan baik disini, saya mau melanjutkan perjalanan saya!", lantas ibu tadi bertanya, "Nak, kamu mau kemana?? Ibu disini terhibur ketika bicara denganmu!", lalu aku menjawab,

"Saya mau jalan sebisa saya, gak ada tujuan yang pasti, karena saya sudah tidak punya tempat tinggal lagi,bu!! maaf,bu! karena telah merepotkan Ibu, permisi!", ketika aku hendak berdiri dan berjalan keluar dari warung makan itu, tiba-tiba ibu itu berkata demikian,"Nak, jika kamu mau!! Tinggalah bersama Ibu karena ibu tidak punya anak perempuan, dan ibu sendiri dirumah!, Anak laki-laki ibu sedang bekerja diluar kota,!", mendengar hal itu, aku bingung harus menjawab bagaimana, di satu sisi aku butuh tempat tinggal, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin merepotkan Ibu itu, karena pastinya aku akan merepotkan beliau, lalu aku menjawab,"Bu, bukannya saya nanti malah merepotkan Ibu, saya ini gadis buta dan tidak bisa membantu ibu!", lalu dengan penuh senyum, ibu itu berkata,

"Nak, kamu tidak akan merepotkan Ibu malah ibu akan lebih senang karena ibu tidak sendirian lagi dirumah, coba pikirkan baik-baik dulu!!", dengan keyakinan akhirnya aku memutuskan untuk menerima keinginannya, lalu aku disuruh duduk lagi, sedangkan Ibu itu membereskan warungnya, karena disaat itu hari sudah mulai gelap dan menu makanannya sudah terjual habis.

Setelah itu, aku diajak pulang oleh ibu itu, sesampainya dirumah kami berbincang-bincang sejenak, lalu aku menanyakan nama ibu itu, ternyata beliau bernama Bu Fitri, setelah itu aku mandi dan mengganti pakaianku, karena Bu Fitri meminjamiku bajunya sewaktu beliau masih muda. Hari-hari kulewati bersama Bu Fitri, beliau sangat baik kepadaku, aku dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Lalu di suatu malam, kami berbincang-bincang di depan rumah, hanya aku dan bu Fitri saja, sampai akhirnya aku menceritakan kisah hidupku kepada beliau, beliau sangat iba kepadaku lalu dengan hati yang tulus, beliau berkata kepadaku,

"Mel, kamu jangan menyerah begitu saja, aku membenarkan perkataanmu tadi, siapa orangtua yang tidak sakit hati jika anak kesayangannya pergi meninggalkannya, tapi ingat satu hal, mel! Sebesar apapun kesalahan kamu, sebesar apapun dosa kamu kepada orangtuamu, kamu tetaplah anak mereka, dan akan tetap jadi anak mereka! Memintalah maaf kepada mereka, mel! Mungkin satu kali kamu meminta maaf, mereka belum bisa memaafkannya, tapi jika kamu pantang menyerah dan selalu mencari kesempatan untuk meminta maaf, Ibu tidak ragu lagi, pasti mereka akan memaafkan semua kesalahan kamu selama ini.", setelah mendengar itu, aku menangis pilu penuh haru, aku ingin meminta maaf kepada mereka, tapi aku tidak berani pulang, setelah itu aku beranjak tidur, karena malam itu sangat dingin dan ibu Fitri tidur disampingku, ketika itu aku berkata,

"Bu, aku tidak ingin merepotkan ibu lebih lama lagi, aku ingin kerja tapi keadaanku seperti ini, apa yang harus aku lakukan!", lalu bu fitri menjawab,

"Tidak usah,nak! Kamu dirumah saja, kamu tidak merepotkan ibu sama sekali.", mendengar itu aku tetap saja membantah,

"Tidak Bu! aku ingin kerja semampuku, agar aku tidak merepotkan ibu, tolong bu! bantu Amel!" lalu bu fitri berpikir sejenak dan berkata,

"Ya sudah jika itu maumu, Mel!, kamu bisa bantu ibu nyuci piring di Rumah makan ibu!", mendengar itu aku sedikit lega, walaupun yang aku hanya bisa mencuci piring

tapi setidaknya aku tidak terlalu merepotkan ibu. Hari pertama aku bekerja membantu mencuci piring, 2 piring aku pecahkan, tapi dengan sabar bu Fitri menanggapinya, karena beliau memakluminya, lalu setelah 3 hari tiba-tiba Bu Fitri mendapat telepon dari anaknya, yang katanya sudah pulang dan sampai rumah, walaupun tidak jelas percakapan mereka, tapi setidaknya aku bisa mendengarnya, katanya anak Bu Fitri akan menyusul ke rumah makan itu, sebentar lagi karena sudah sangat rindu dengan ibunya, ketika mendengar itu aku teringat akan Ibuku di rumah, andaikan aku bisa pulang dan memeluk ibuku serta melepas rindu yang amat dalam, tapi mungkinkah mereka mau memaafkan semua kelakuanku yang sangat keterlaluan itu, aku mencuci piring sambil meneteskan air mata yang membasahi bajuku, lalu Bu Fitri mendekatiku dan lantas berkata,"Mel, anak Ibu sudah pulang, sebentar lagi dia mau kesini! Nanti ku kenalkan sama kamu ya!", lalu dengan suara serak aku menjawab,"Iyaa Bu, betapa indahnya pertemuan seorang Ibu kepada anaknya, sudah lama tidak bertemu!", mendengar Bu Fitri lantas bertanya,"Kamu kenapa,Mel! kok sepertinya habis menangis, cerita sama Ibu!", lalu aku menjawab,"Aku teringat Orangtuaku di rumah,Bu! tapi suahlah, mereka takkan memaafkan semua kesalahanku yang begitu menyakiti mereka saat itu!", Bu Fitri lalu menasihatiku,

"Mel, tidak ada orangtua yang tidak mau memaafkan anaknya, seberapa besar apapun kesalahan kamu, walaupun itu sulit bagi mereka tapi Ibu yakin mereka kelak akan memaafkan kamu! Kamu jangan putus asa seperti itu, nanti kalau kamu sudah cukup yakin, segeralah menemui Orangtuamu, Ibu akan menyuruh anak ibu untuk mengantarkanmu ya!, kamu istirahat dulu saja!". Lalu aku disuruh duduk oleh Bu Fitri, setelah beberapa saat aku mendengar suara langkah kaki menuju dapur, tidak salah lagi itu adalah anak Bu Fitri, mereka saling berpelukan dan melepas Rindu, aku hanya bisa tersenyum haru dari kejauhan ketika mendengar pertemuan mereka, lalu setelah itu langkah kaki itu mendekatiku, dan berhenti tepat di depanku! Aku tak tahu kenapa dengan diriku, ketika ia mendekatiku hatiku rasanya tak karuan, lalu tiba-tiba dia berkata padaku,"Amel, apa benar itu kamu?? Apa kamu masih ingat dengan aku?", Mendengar hal itu aku kaget, lalu aku menjawab,"Maaf, mas! Saya buta dan saya tidak bisa melihat anda, saya memang Amel, apa anda tidak salah orang? kenapa anda mengenali saya?", lalu dia menjawab dengan sedikit kaget,"Benar kamu Amel? Ya ampun kenapa bisa begitu, mel? Sejak kapan kamu buta? apa yang terjadi? Aku Reza teman SMA mu, kamu masih ingat?", Aku kaget mendengar itu, lalu aku menjawab,"Reza??? Benar itu kamu, ya ampun ! Lama tak jumpa ya? Bagaimana kabar kamu?, kamu ternyata anaknya Bu Fitri tow? maaf ya aku tidak bisa menjawabnya sekarang karena ceritanya panjang,!", mendengar itu Reza menjawab,"Kabarku baik, iya aku anaknya Bu Fitri, kamu kok bisa disini, Mel?", sebelum aku bisa menjawab tiba-tiba Bu Fitri mendekati kami dan berkata,"Ternyata Amel itu teman SMA kamu to, Za! Oalah,ya sudah kalian ngobrol situ dulu aja, Ibu tak nglayani pelanggan dulu ya!", Lalu kami berbincang-bincang cukup lama, dan aku menceritakan kisahku padanya, dia sedih ketika mendengar kisahku itu!. banyak cerita yang aku sampaikan kepadanya, tidak terasa waktu sudah petang, Bu Fitri membereskan semua dagangannya, Reza pun juga ikut membantunya, lalu setelah selesai kami pulang.

Sampai di rumah, Reza mengajakku jalan-jalan dengan motornya, walaupun aku tidak bisa menikmati jalan-jalan itu, tapi setidaknya aku bisa mendengar keramaian kota, aku tak tau kenapa aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya, aku memeluknya dengan erat di atas motor, di jalan kami saling bercerita dan yang ku tau Reza aalah orang yang amat sangat baik, dia tidak malu ketika

memboncengkan gadis buta seperti aku ini, aku sungguh terharu dengan sikapnya yang baik itu, dan aku menyesal kenapa dulu aku mencampakannya ketika kami masih sekolah SMA dulu, setelah cukup lama kami pun pulang. Sampai di rumah dia menyuruhku untuk segera tidur, lalu akupun menurutinya, aku tidak tau dengan apa yang sedang ia rencanakan. Keesokan harinya ketika aku bangun, aku tak tau kenapa hari itu begitu sepi, tidak terdengar suara Bu Fitri yang sedang memasak di dapur, atau suara Reza sama sekali, lalu aku meraih tongkat yang tadi malam aku taruh di samping tempat tidurku, setelah itu aku berdiri dan berjalan menuju luar rumah, tiba-tiba aku merasakan ada banyak orang di depanku, tapi tak ada suara sedikitpun yang terdengar, aku berhenti lalu tiba-tiba mereka berteriak,

"Happy Birthday Amel, Happy Birthday Amel, Happy Birthday,Happy Birthday,Happy Birthday Amel, moga kamu panjang umur ya!! sehat selalu dan sembuh dari penderitan yang kamu alami!", Aku kaget seketika karena aku tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunku, aku terharu dan meneteskan air mata, aku tak menyangka jika ada orang lain yang masih peduli denganku, aku terduduk di lantai sambil menangis lalu mereka juga ikut duduk,"Amel, tiup lilinnya dong! Tapi sebelumnya berdoa dulu, agar apa yang kamu impikan segera terwujud ya!", Lalu aku berdoa dengan penuh haru,"Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa hamba, yang telah menyakiti kedua orangtua hamba, ampunilah dosa-dosa mereka, Ya Alloh! Hamba adalah anak yang durhaka, pertemukanlah hamba dengan orangtua hamba Ya Allah, agar hamba bisa meminta maaf kepada mereka, serta membahagiakan mereka hingga akhir hayat, dan limpahkanlah rohmat dan rezeki kepada orang-orang yang ada di depan hamba ini Ya Alloh!", mendengar itu mereka terharu, lalu aku meniup lilinnya dan Bu Fitri berkata,"Sungguh Mulia keinginanmu,Nak! Bu Fitri akan membantumu untuk mencari orangtuamu!", lalu Reza juga berkata padaku,

"Mel, hari ini aku akan mengajakmu mencari orangtuamu, aku tak akan berhenti dan pulang sebelum menemukan mereka! Ayo, kita segera berangkat!", mendengar itu aku bingung, apa yang harus aku lakukan! Aku takut mereka tak akan mau memaafkan aku, karena dulu aku terlalu menyakiti mereka bagitu dalam.

Setelah itu, aku dan Reza berangkat menuju rumah orangtuaku, di Padalarang sana, di dalam perjalanan aku was-was, apa yang harus aku katakan agar mereka mau memaafkan aku lagi. Lalu sampailah kami di depan rumah orangtuaku, Reza mematikan suara mesin sepeda motornya, lalu berjalan menuju depan pintu utama rumahku, dia mengetok pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban sama sekali, lalu Reza berkata padaku,"Mel, kayaknya orangtuamu tidak ada di rumah!", lalu aku bingung harus berbuat apalagi, kami akhirnya menunggu di depan rumah, lalu aku berkata kepada Reza,"Za, aku takut! aku takut mereka tidak mau memaafkan aku, aku sudah berbuat sesuatu yang sangat menyakitkan, mereka tak akan segampang itu memaafkan aku! Aku sangat rindu kepada mereka, sudah 3 Tahun lamanya aku tidak bertemu mereka sama sekali, apalagi sekarang aku sudah buta seperti ini, ya inilah akibat dari kedurhakaanku pada mereka,!!", Mendengar itu Reza menjawab,"Mel, kamu masih ingat kata-kata Ibuku tadi! Tidak ada orangtua yang tak mau memaafkan kesalahan anaknya walaupun itu adalah kesalahan yang sangat besar sekalipun, semua itu perlu proses! Kamu harus yakin dan ikhlas bahwa kamu harus meminta maaf kepada mereka, bagaimanapun caranya! Apa kamu akan berlarut-larut dalam kesalahan masa lalu mu seperti ini. Ingat,Mel! Surgamu ada di telapak ibumu, tanpa Ibumu kamu tak akan terlahir di dunia ini.", Setelah mendengar semua kata-kata Reza, aku merenung sejenak! Benar kata Reza itu, bahwa mereka adalah 2 orang yang membuatku terlahir di dunia ini, mereka adalah segalanya bagiku, lalu aku kembali menangisi penyesalanku, andaikan aku bisa mengembalikan waktu itu, aku tak akan menyakiti mereka, sungguh aku benar-benar menyesal. Sudah 2 jam kami menunggu di depan rumah, tapi mereka tak muncul-muncul juga, lalu Reza bertanya padaku,"Kamu masih ingat dimana rumah Ketua RT disini? di ingat-ingat dulu, setidaknya kita bisa menanyakan keberadaan mereka saat ini!", lalu aku mengingat-ingat rumah Ketua RT itu, akhirnya aku ingat,"Kalo gak salah, sebelum masuk gang rumahku ini, ada rumah warna kuning menghadap ke selatan, depannya ada masjid!", lalu Reza mengajakku menuju kesana, lalu kami tiba di depan rumah itu dan kata Reza, tidak salah lagi itu adalah rumah yang sama dengan apa yang kukatakan tadi, lalu kami menuju depan rumah itu dan mengetuk pintu, mereka lalu membuka pintu,

"Maaf, cari siapa ya?", kata seorang ibu kepada kami, lalu kami menjawab,

"Apa benar ini rumah dari Ketua RT disini, kami sedang mencari informasi!", Lalu Ibu itu bilang,

"Iya benar, tunggu sebentar ya! saya panggilkan Pak RT dulu..... Pak, ada tamu!!", Setelah beberapa saat kemudian, keluarlah Pak RT, lalu bertanya kepada kami,"Ada yang bisa saya bantu,Mbak mas!!", lalu Reza menjawab,"Iya,pak! Kami mau bertanya, apa Pak Cahyo dan Bu Yuli masih di tinggal di komplek sini?", pak RT pun menjawab,

"Wahh, sepertinya sudah pindah sejak 2 Tahun lalu!", mendengar itu kami tercengang, lalu Reza berkata,"Pindah,Pak? Kalau boleh tau, pindahnya kemana ya,pak?", lalu Pak RT menjawab,"Wah,Kurang tau ya mas!! Setahu saya, mereka pindah karena alasan yang jelas, katanya gara-gara anak perempuannya, itu yang saya tahu! Kalau boleh saya tau, Anda siapa dan ada perlu apa ya dengan Keluarga Pak Cahyo?", Lalu Reza terdiam tidak berani menjawab, akhirnya aku menjawab,"Saya Amel, anak perempuan Pak Cahyo! Anda masih ingat dengan saya,Pak? Dan ini teman saya, (Sambil menangis) saya mohon bantu saya,Pak! Cari informasi tentang keberadaan mereka, saya sangat menyesal telah meninggalkan mereka! Saya mohon,Pak!",Mendengar itu Pak RT Kaget, lalu berkata,"Amel, benar itu kamu? Dasar anak tak tau diri, Kamu gak kasihan dengan orangtuamu, tega-teganya kamu memperlakukan mereka seperti itu, seandainya aku orangtuamu, aku tak akan memaafkan kamu! Ibumu tiap hari menangis, Bapakmu tidak mau bicara lagi sejak kepergianmu!, Tega-teganya kamu, pergi kamu dari sini! Saya tidak mau melihatmu lagi,", Lalu aku menangis di depan pintu, dan terduduk di lantai! sedangkan Reza menenangkan aku, Pak RT Lalu menutup pintunya dengan keras,"Braaakkk" lalu aku berteriak dengan kencang,"Pak... pak, tolong bukakan pintunya! saya ingin meminta maaf kepada mereka, saya mohon pak... saya mohooon!! Sekarang saya buta, karena kedurhakaan saya,pak! Saya mohooonn.... tolong katakan dimana mereka!!", Aku tidak menyerah begitu saja, aku terus berteriak hingga akhirnya Pak RT membukakan pintunya lagi dan berkata,"Bapakmu jualan Soto keliling di Pasar Legi!, cari sendiri sana!!! Dasar anak tidak tau di untung,Itu akibatnya jika kamu Durhaka kepada orangtuamu sendiri", lalu Pak RT menutup pintu lagi dengan kerasnya, dan Kami segera pergi dari rumah Pak RT, aku berjalan sambil menangis! Lalu Reza berkata,"Sudahlah,Mel! Kamu yang sabar ya, yang penting kamu yakin dan siap untuk meminta maaf kepada mereka! Aku berjanji akan mengantarkanmu sampai kamu bertemu dengan orangtuamu, Mel!!, Ayooo, kita ke pasar Legi, untuk mencari Bapakmu!", Setelah itu, kami berangkat menuju Pasar Legi.

Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya sampailah kami di Pasar Legi, saat itu masih siang hari dan kami memarkirkan sepeda motor, lalu berjalan mengelilingi pasar dengan berjalan kaki, Reza bertanya-tanya kepada penjual Mie ayam di daerah pasar itu,

"Maaf,pak? Apa anda kenal dengan Pak Cahyo, penjual soto yang sering keliling di daerah sini?", Lalu penjual Mie Ayam itu menjawab,

"Kenal, tapi seharian ini saya gak lihat beliau keliling di pasar ini, mungkin sedang sakit! Pak Cahyo penjual soto yang bisu itu to?", Mendengar itu aku tercengang lalu aku menjawab,"Pak Cahyo gak bisu, beliau Bapak saya!", lalu penjual itu menjawab,

"Bisu dari dulu ya,Nak! Kamu anaknya to? Pantesan... Bapaknya Bisu, hla anaknya Buta... hahahaha!", Mendengar Lecehan itu, Reza segera menarikku kembali ke jalan, dan mengajakku melanjutkan pencarian. Sudah hampir 7 Jam kami mencari tapi Reza tidak menemukan Bapakku sama sekali, lalu kami memutuskan untuk melanjutkannya besok pagi.

Keesokan harinya, tepatnya jam 7 Pagi kami berangkat melanjutkan pencarian, tapi sebelumnya aku meminta restu kepada Bu Fitri terlebih dulu, agar hari itu kami dapat menemukan Bapakku. Setelah itu kami berangkat menuju Pasar Legi, sampai disana kami kembali menyusuri pinggir-pinggir pasar berharap tiba-tiba Reza bertemu dengan Bapakku, sudah 2 Jam kami tidak menemukannya lalu kami mampir di salah satu dagangan kaki lima untuk membeli Makanan ringan, karena kami kelelahan mencari Bapakku. Setelah cukup kenyang kami melanjutkan pencarian kami, aku tidak menyerah begitu saja karena aku ingin bertemu mereka lagi, jujur kuakui aku sangat merindukan mereka, hampir 5 Tahun lamanya aku tidak bertemu mereka, walaupun aku tidak bisa melihat mereka tapi rindu ingin bertemu bukan berarti harus melihat namun yang terpenting adalah bisa merasakan mereka ada di dekatku, itu yang membuatku merasa bersalah meninggalkan mereka, dan aku akan terus mencari mereka sampai kapanpun. Reza seorang sahabat lama yang sangat mempedulikan aku, hingga dia lebih mementingkan diriku daripada dirinya sendiri, ia menggandeng tanganku kesana-kemari dan membuatku merasa nyaman dan semangat untuk mencari kedua orangtuaku, aku benar-benar salut dengannya! Di dalam hiruk-pikuknya keramaian pasar, dia selalu menggandengku kemanapun dia berjalan, ia tak malu menggandeng seorang gadis buta seperti aku, sungguh itu membuatku merasa semakin menyayanginya. Teriknya matahari tidak menghalangi pencarian kami, hingga suatu ketika Reza tiba-tiba berhenti di tengah jalan, seperti melihat sesuatu yang membuatnya tercengang, lalu aku bertanya,"Kenapa berhenti, Za! Ada apa?", Lalu Reza menjawab, "Sebentar,Mel! Aku melihat seseorang yang mungkin kita cari saat ini, tapi aku masih ragu jika itu benar! Dia sangat berbeda dari yang dulu", Jantungku berdebar saat itu juga, tak tau apa yang harus aku lakukan, lalu aku berkata,"Apa benar itu Bapakku, Za? Kenapa kamu masih ragu jika itu Bapakku? Bagaimana ciri-cirinya, katakan Za!", Lalu Reza berkata padaku,"Orang tua itu sangat kurus, Mel! Tidak seperti Bapakmu yang dulu, apa benar Dia Bapakmu yang kita cari saat ini, tapi wajahnya sangat mirip walaupun kini Dia kelihatan tua,!", Aku berdebar-debar saat itu sambil meneteskan air mata, aku bertanya dalam hati! Apa benar orang yang aku cari-cari itu sudah ada di depanku, walaupun orang tua berbeda dari yang dulu, lalu aku bertanya,"Mendekatlah, Za! Apa ada bekas luka sayatan di tangan kirinya", Mendengar itu, Reza melepas pegangan tanganku lalu mendekatinya dengan perlahan, lalu Reza kembali menarik tanganku dan berkata,"Mel, apa yang kamu tanyakan tadi benar! Ada bekas luka di tangan kirinya, lukanya membekas jelas!", Dan saat itu juga aku menangis karena aku yakin bahwa Penjual Soto benar-benar Bapakku, lantas aku berkata pada Reza,"Za, tolong antar aku mendekati orang itu! Bilang ke Orang tua itu aku ingin meraba wajahnya, karena aku masih ingat dengan jelas, bagaimana wajah Bapakku!", Mendengar hal itu, Reza memanggil Bapak itu, lalu Bapak itu berhenti dan menengok ke belakang, lantas Reza langsung menarik tanganku dan mendekatkan aku padanya, lalu aku langsung meraba wajah Bapak itu, kuraba perlahan-lahan memastikan apakah Beliau itu benar-benar Bapakku, Aku tercengang seketika itu juga, lalu aku meraba tangan kirinya, dan kurasakan benar-benar ada bekas luka di tangannya! Aku menangis di depan orang itu, karena aku yakin Beliau benar-benar orang yang aku cari saat itu, Sungguh rasa itu benar-benar aku rasakan, Rindu yang amat dalam aku lampiaskan saat itu juga, lalu aku memeluknya dan berkata,"Bapak,.. bapak! Maafkan aku,Pak! Aku sudah tega menyakiti Bapak dan Ibu, maafkanlah aku Bapak! Aku Amel pak, anak Bapak....... Aku Rindu dengan Bapak!", mendengar itu si Bapak itu, membanting tanganku dan melepas pelukanku, dan tak berkata sepatah katapun, lalu Dia pergi begitu saja sambil mendorong gerobaknya, lalu Reza mengejarnya dan menarik tangannya, dan berkata,"Pak, tolong maafkan Amel.. Dia benar-benar menyesal telah menyakiti anda! Tolong,pak... Kasihan dia,pak!... Dia sudah terlalu sengsara, kini sekarang dia sudah buta, apakah Bapak tega dengan anak Bapak sendiri, kini tak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali hanya ingin bertemu dengan keluarganya dan meminta maaf,pak! Dan itu tidak akan menyembuhkan kebutaannya, saya mohon Pak!!... Ampuni Amel........", Mendengar itu, dia melihat kearah Reza dengan mata yang merah dan berkaca-kaca seolah menahan air mata yang ingin keluar, tapi tak sepatah katapun terucap dari mulutnya, hingga Reza hanya bisa terdiam karena merasa iba dengan keadaan ini, tak ada yang bisa ia perbuat lagi. Sedangkan aku menangis sambil tertelungkup di tanah, air mataku tak dapat aku tahan, aku menangis sedu-sedu sambil berteriak "Baaapaaakk.... Aku mohon ampuni aku! Aku hanya ingin meminta maaf.. pak! " lalu aku mendekati Bapakku sambil meraba-raba jalan, sampai di belakangnya aku meraba kakinya dan memeluknya sangat erat, sambil menangis tersedu-sedu,"Aku mohon, maafkan Amel, Pak!!", lalu Bapakku melihat kearahku, dengan mata tajam dan berkaca-kaca lalu tiba-tiba air matanya menetes ke rambutku, dan Beliau memegang pundak dan menarikku untuk berdiri, lalu aku berkata,"Bapaaak, tolong maafkan semua kesalahanku(sambil menangis)!! Ampuni dosa-dosaku, sekarang aku sudah buta,pak! Tak ada yang bisa aku perbuat lagi, selain meminta maaf atas semua kesalahanku! Aku bukan lagi Amel yang Bapak banggakan seperti dulu, sekarang aku hanya sampah yang tak berguna, karena kedurhakaanku ini,Pak!!! Bila Bapak tidak ingin memaafkan aku, antarkan Amel menemui Ibu untuk meminta ampun, Pak!", mendengar itu Bapakku langsung memelukku dengan erat lalu menarik tanganku dan membawaku ke rumahnya, dan meninggalkan gerobaknya begitu saja, si Reza mengikuti kami dari belakang. Gang demi gang kami lewati, memang sedikit agak jauh dari pasar Legi, lalu sampailah kami di depan rumah, ketika Bapakku membuka gerbangnya yang terbuat dari bambu itu, jantungku berdebar-debar sangat kencang, aku tak tau apa yang harus aku katakan ketika sudah berada di depan ibuku tercinta, tapi aku pasrah mereka mau memaafkan aku ataupun tidak, toh saat ini aku sudah kena azab dari hasil kedurhakaanku sendiri, yang terpenting bukan masalah mereka mau memaafkan aku atau tidak tapi bagaimana aku mau meminta maaf kepada mereka, karena yang aku tau mereka sangat sakit hati karena ulahku ini, tapi itu semua tidak akan membuatku gentar, karena aku sudah payah mencari mereka hanya untuk meminta maaf atas semua salahku, Bapakku sudah memaafkan aku tapi mungkin ibuku tidak akan memaafkan aku, karena aku masih ingat dengan jelas kata-kata beliau dulu ketika aku meninggalkannya. Lalu Bapakku membuka pintu perlahan-lahan, namun Beliau tiba-tiba berhenti, seolah mencari-cari Ibuku, setelah itu Beliau kembali menarik tanganku, dan membawaku ke dapur sedangkan Reza mengikutiku dari belakang, aku berjalan sambil mengusap air mataku, yang membekas di pipi, lalu Bapakku berhenti dan Reza mendekatiku dari belakang lalu berbisik kepadaku,

"Mel, itu Ibumu, dia sedang memasak! Dan dia tidak melihat kita, Ayo mel!! Mendekatlah... Aku akan mendukungmu dari sini!!", Lalu Bapakku melepas gandengannya, dan aku segera berjalan mendekati Ibuku perlahan-lahan, setelah aku yakin berada di belakangnya, lalu aku bersujud di depannya dan berkata sambil menangis,"Ibuuu.... Maafkan atas semua kesalahanku,Bu!! Aku bersedia melakukan apapun agar Ibu mau memaafkan aku!", seketika itu juga, Beliau menengok ke belakang lalu melihat kearahku, lalu berkata,

"Kenapa kamu datang lagi kesini, Kamu sudah aku anggap bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergi dari rumah ini, Ibu tak mau melihatmu lagi! Apa kamu kurang puas menyakiti Bapak dan Ibu, haaaaa??? Ingat Mel, Siapa yang melahirkan kamu? Siapa yang membesarkan kamu, siapa yang rela membanting tulang demi kelancaran sekolahmu? Tega-teganya kamu menyakiti Bapak dan Ibu, sekarang dengan mudahnya kamu meminta maaf?? Apa kamu tidak merasa bagaimana perasaan Ibu dan Bapak ketika kamu sakiti, hanya karena Kekayaan kamu tega menelantarkan orangtuamu sendiri, Anak macam apa kamu?? Pergi dari rumah ini sekarang juga".. Lalu Ibuku menghindar dariku, aku lantas mengejarnya hingga aku terjatuh, lalu kuraba kakinya sambil menangis tersedu-sedu,

"Ibuuuu... Maafkan aku bu! Hiiii iiii.... Amel mohon, Bu! Amel menyesal telah menyakiti Ibu dan Bapak," Ibuku lalu melihat kearahku sambil mencoba melepas tanganku dari kakinya, setelah itu Beliau berkata,

"Segampang itu kamu meminta maaf, Dulu kamu menyakiti Bapak dan Ibu setega itu, sekarang dengan mudahnya kamu meminta maaf! Lihat Bapakmu, Sejak kepergianmu, Bapakmu tak mau bicara sama sekali sampai saat ini, karena Beliau sakit hati dengan kelakuan kamu yang sangat menyakitinya, Ingat Mel.... ingat! Seberapa kayanya dirimu, tak akan mampu membayar kerja keras dan pengorbanan Ibu selama ini, Kamu anak satu-satunya dalam keluarga ini tapi dengan teganya kamu menelantarkan Bapak dan ibu hanya karena iming-iming kekayaan dari seorang laki-laki yang tidak jelas itu? Sekarang mana, laki-laki yang kamu banggakan itu? Ibu sudah tidak menganggapmu sebagai anak Ibu lagi, sekarang pergi dari rumah ini dan jangan kembali lagi, mengerti...", Mendengar perkataan itu, hatiku hancur. Aku hanya bisa menangisi penyesalanku, tak henti-hentinya aku menangis dan menangis, lalu Reza mendekati Ibuku dan berkata,

"Sebelumnya saya meminta maaf,Bu! Jika saya lancang, tapi sekarang Amel sudah menyesal atas semua kesalahannya, Dan kini dia terkena azab yang telah membuat dia menyesali perbuatannya, Amel sekarang buta,Bu! Untuk itu saya mohon maafkanlah Amel, dia anak Ibu satu-satunya, Tuhan maha pengampun tapi kenapa hambanya tidak bisa saling memaafkan!, Saya mohon,Bu... Maafkanlah Amel", Mendengar itu, Beliau melihat kearah Reza dengan mata yang berkaca-kaca dan berkata,

"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menasihatiku? Apa kamu laki-laki itu? Dia buta karena ulahnya sendiri, karena ia tega menyakiti orangtuanya,!", lalu Reza menjawab,

"Saya bukan laki-laki yang Ibu maksud, saya hanya teman sekolahnya Amel dulu! Dan saya yang mengantar Amel mencari Ibu.", Mendengar itu Beliau marah, lalu melepaskan ikatan tanganku, Beliau mencoba menghindar tapi aku tak henti-hentinya untuk memegang kakinya sambil menangis tersedu-sedu, berharap Beliau mau memaafkanku,

"Ibuuuu..... Ibuuuu!! Haaa aaaa, Amel mohon Bu... Amel mohon maafkan Amel...", tapi Ibuku tak berhenti juga hingga aku terseret-seret sampai ke ruang tengah, Ibuku hanya berjalan dengan air matanya yang berlinang membasahi lantai, Reza dan Bapakku yang melihatnya tak mampu menahan air matanya, karena takjub dengan kemauanku yang keras untuk meminta maaf, hingga tetangga-tetangga yang mendengar tangisanku segera mendekat dan melihatku dari balik pintu, lalu tak tahu apa yang aku pikirkan hingga tiba-tiba aku memanggil Reza an berkata demikian,

"Reza, tolong ambilkan baskom berisi air putih", Mendengar itu Reza sedikit bingung, mungkin dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang seang aku rencanakan, tapi dia segera bergegas menuju dapur dan mengambil Baskom lalu mengisinya dengan air putih, dan segera membawanya kedepan Ibuku,

"Ini Mel, Airnya!" Kata Reza kepadaku, lalu aku menarik kaki kanan Ibuku dan aku celupkan ke dalam baskom berisi air tadi, Ibuku mengelak tapi aku tetap nekat mencelupkannya, lalu aku bilas kaki Ibuku dengan perlahan-lahan, linangan air mataku tertumpah ke dalam air itu, aku melakukannya dengan hati yang ikhlas, lalu kucium kaki Ibuku, dan kuminum air yang kotor itu sambil bersujud! Dan saat itu juga, orang-orang yang melihatku mengusap air mata mereka, karena tak mampu melihat sebuah peristiwa penuh haru itu, Ibuku sendiri pun tak mampu menahan kekecawaannya, dan akhirnya luluh hatinya. Bapakku, Reza, dan para tetangga yang melihatnya semua tak mampu menahan luapan air mata, mereka menangis melihat keikhlasanku, kubasuh kaki ibuku dengan penuh rasa bersalah yang mendalam, lalu kulepaskan kaki kanan ibuku, dan selanjutnya aku membasuh kaki kirinya juga dengan penuh keikhlasan, lalu aku berkata kepada Ibuku dengan suara penuh penyesalan,

"Ibu, kau adalah orang yang membuatku yang dulu tak pernah ada kini menjadi nyata dan hidup di dunia ini, kau adalah orang yang rela mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan aku, kau adalah seorang wanita yang tegar menghadapi cobaan karena anakmu ini telah menyakitimu, namun setega apapun aku, Aku.... tetap adalah anakmu, dan Ibu tetap akan menjadi Ibuku untuk selamanya! Ibu, Maafkan aku!..", Mendengar itu, Ibuku menangis. Lalu Beliau duduk di depanku, dan memegang pipiku dengan penuh kelembutan, dan berkata,

"Amel anakku... Benar apa yang kamu katakan, seburuk apapun kamu, kamu tetaplah anak Ibu! Ibu memaafkan semua kesalahanmu, tapi jangan pernah kamu ulangi lagi kesalahan itu, sakit hati Ibu... Kamu mengerti, Nak? Sekarang kita mulai hidup yang baru, walaupun kamu buta tapi kamu tetap anak Ibu,!". Hatiku sangat terharu ketika mendengar itu, lalu aku tersungkur di bawah Ibuku, kuambil air cucian kaki Ibuku dengan kedua telapak tanganku, dan kuminum perlahan-lahan sampai habis, dan air terakhir kubasuh ke mukaku, air mataku bercampur dengan air itu, aku sangat bersyukur dengan keikhlasan Ibuku, lalu Ibuku berkata padaku,

"Amel, sudah! Ibu sudah memaafkanmu, ayo bangun! Peluk Ibu.", Lalu Ibuku menarik tanganku keatas, akupun berdiri dengan perlahan. Lalu Ibuku memelukku dengan sangat erat, aku menangis tersedu-sedu, aku membisikan kata di telinga Ibuku,

"Ibuu... Terima kasih, engkau sudah mau memaafkan semua kesalahan Amel, Amel berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Bu!", Ibuku menjawab,

"Sebesar apapun kesalahan kamu,Mel! Ibu akan memaafkannya, Asalkan kamu mau meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,", Lalu aku melepas pelukanku, dan kutarik tangan Bapakku yang saat itu berada di sampingku, lalu aku memeluk Bapak dan Ibuku,! Suasana itu berubah menjadi sangat mengharukan, Reza pun menangis haru, dan lega melihat kami kembali utuh menjadi satu keluarga lagi.

Sejak saat itu, Aku berjanji pada diriku sendiri, tak akan meninggalkan kedua orangtuaku lagi. Lalu dengan keajaiban Tuhan, keesokan hari setelah kejadian itu aku terbangun dari tidurku, dan aku melihat cahaya terang lagi seperti dulu, Aku benar-benar bersyukur, atas doa Ibuku yang selalu menyertaiku akhirnya penderitaanku berakhir. Terima Kasih Ibu.....

2 Tahun kemudian, Reza dan Bu Fitri datang kerumahku, dan saat itu pertama kalinya aku melihat wajah Bu Fitri, tapi bukan itu yang membuat aku terkejut, melainkan mereka datang untuk mempersuntingku sebagai calon Istri Reza, tanpa berpikir panjang aku menerimanya karena Reza adalah orang spesial dalam hidupku, dan kami pun menikah.

THE END

Copyright By Rendix Alextian

http://rendixalextian.blogspot.com/2012/02/novel-surgaku-ternyata-masih-di-telapak.html





0

| Email this story Email this Novel | Add to reading list



Reviews

About | News | Contact | Your Account | TheNextBigWriter | Self Publishing | Advertise

© 2013 TheNextBigWriter, LLC. All Rights Reserved. Terms under which this service is provided to you. Privacy Policy.