Rasanya ada yang miris di hatiku
rasa kosong, rasa hampa
Hujan malam itu
hanya memperkuat gemeletuk hatiku saja
yang makin merasakan kesepian di malam yang tak berbintang ini
Ah . . . Sial . . .
Memakai jas aku menembus hujan malam itu
Jalanan basah berkilau
Ditimpa cahaya lampu jalanan yang menunduk
Harapanku untuk bertemunya tak akan mengerucut . . .
Namun . . . hanya sedang tertangkup tak terlihat oleh kekhawatiran
akibat langit galau malam yang memeras hujan
Sungguh menghapus kemungkinan
kemungkinan untuk melihatmu; aku hanya ingin melihatmu
Ugh . . .
Semoga kau hangat di kamarmu, cinta
Aku sampai di kampus
yang benar-benar tak terlihat makhluk hidup
yah . . .
yah . . .
kampus benar-benar tak terlihat berpenghuni
Aku mulai menaiki tangga ke tingkat dua
menyusuri koredor menuju ujungnya . . .
namun aku terhenti . . .
dan berbalik otomatis berkiblat ke arah asramamu . . .
dimana kau berada saat kita bersahutan melalui telepon-----
berharap bahkan paling tidak melihat atapnya saja tidak masalah
namun . . .
Ah sudahlah. . . pandanganku tertutupi gedung lain
Aku kembali berjalan ke buntu koredor ini; sanggar.
Sebenarnya malam ini latihan
Ternyata, manusia di dalamnya tidak lebih banyak dari jari-jari tanganku
Aku ikut duduk di dalam
terpaksa mendengarkan setiap percakapan
yang dibuntuti tawa di setiap ujungnya
Ternyata waktu, sama dinginnya dengan cuaca di luar
mulai membekukan pembicaraan
tawa mulai menjarang
hingga akhirnya durasi diam lebih panjang. . . .
Dua orang akhirnya pulang
Aku menatap jam tangan
Jam tangan?! Hmm. . .
Aku lucu sendiri
memori cepat berkelebat tentang
betapa malasnya aku mengenakan jam tangan yang selalu dibelikan ibuku dulu . . .
dulu . . . dulu . . . bukan setelah melihat pergelanganmu yang selalu dilingkari indah jam tangan
Ugh . . .
khayalan perdetik itu terhapus
saat aku tidak melihat keberadaan jarum cebol
Ah . . .
ternyata berselip di balik si jangkung
yang menunjukiku angka sepuluh
Aku juga pamit pergi . . . tak tersisa sesuatu yang dapat menahanku disini lebih lama
Kembali menyusuri koredor
seakan seperti terminal, aku kembali terhenti di tempat aku berhenti saat datang tadi
kembali mengarahkan badanku ke arah asramamu,
kembali berharap gedung di depanku ini rubuh saja karena menghalangi
namun aku tertegun melihat pemandangan langit yang aneh
aneh . . .
awan-awan itu bercahaya!
ini bukan bahasa kiasan bodoh!
Maksudku benar-benar bercahaya!
Bercahaya redup tinggi di atas rumah-rumah di bawahnya
bulankah yang menyorot awan-awan itu?
Tidak ada bulan! bahkan kalau pun ada, bukankah justru ia menggelapkan awan
ada kebakarankah yang menerangi awan itu di bawahnya?
Ah, tidak mungkin . . .
dari atas sini pun aku tahu bahwa awan itu tinggi sekali walaupun terlihat rendah dari yang lainnya
Aku bingung memikirkan jawaban dari pertanyaan awan tersebut
kunyalakan kamera handphoneku dan tangkapannya hanya membentuk seperti asap putih tipis di dalam kegelapan pekat
ternyata memang harus kamera mahal untuk dapat mengambil momen itu . . .
Uh . . .
ya sudah . . .
diriku telah sampai di parkiran
mulai memakai jas hujan, dan menyalakan tunggangan
aku menjalankannya lambat-lambat
tanpa sadar ingin berlama-lama berada di kampus ini
jalan berdugul-dugul kemudian ban ku membelah genangan air
aku berbelok
dan . . .
dan . . .
di bawah payung itu . . .
dia!
dia berjalan dengan dua orang lain
aku mengangkat tangan kiriku dan memanggil namanya
wajahnya memandangku dengan mata membesar
dan aku dapat mendengar suaranya jelas, tak dihalangi oleh hujan
mengucapkan dua suku kata namaku yang terbentuk di mulutnya.
ugh . . .
aku tidak berhenti dan melewatinya begitu saja
ah . . . tetesan hujan sekarang serasa membelai wajahku
membelai senyumku
hmm . . .
hujan ini mungkin yang akan selalu mengetuk atapku
untuk mengingatkanku padamu
|
Email this Poetry
|
Add to reading list






