BIDADARI UNTUK IKHWAN

BIDADARI UNTUK IKHWAN

Status: Finished

Genre: Religion and Spirituality

Houses:

Details

Status: Finished

Genre: Religion and Spirituality

Houses:

Summary

Judul : BIDADARI UNTUK IKHWAN
Penulis : IBNU HAFIDZ

Sinopsis :
Novel yang ditulis oleh Ibnu Hafidz ini mengisahkan seorang ikhwan yang berjuang di jalan dakwah dengan kesungguhannya. Ia telah mengabdikan dirinya untuk berjalan kaki “blusukan” masuk ke rumah-rumah pinggiran yang dihuni oleh banyak orang miskin.
Mulai dari anak kecil dan preman yang garang pun tak luput dari sasaran dakwahnya. Sekali lagi skenario Allah pun berjalan begitu indah. Dengan tetap istiqomah menjaga diri dari fitnah dunia, akhirnya ia berhasil mendapatkan seorang bidadari cantik nan solihah yang menjadi idola dan membuat banyak mahasiswa terpesona. Namun tak sampai di situ, ada cerita lain yang menjadikan novel ini seru untuk dibaca.
Share :
Twitter

Summary

Judul : BIDADARI UNTUK IKHWAN
Penulis : IBNU HAFIDZ

Sinopsis :
Novel yang ditulis oleh Ibnu Hafidz ini mengisahkan seorang ikhwan yang berjuang di jalan dakwah dengan kesungguhannya. Ia telah mengabdikan dirinya untuk berjalan kaki “blusukan” masuk ke rumah-rumah pinggiran yang dihuni oleh banyak orang miskin.
Mulai dari anak kecil dan preman yang garang pun tak luput dari sasaran dakwahnya. Sekali lagi skenario Allah pun berjalan begitu indah. Dengan tetap istiqomah menjaga diri dari fitnah dunia, akhirnya ia berhasil mendapatkan seorang bidadari cantik nan solihah yang menjadi idola dan membuat banyak mahasiswa terpesona. Namun tak sampai di situ, ada cerita lain yang menjadikan novel ini seru untuk dibaca.

Chapter1 (v.1) - JILID 1

Chapter Content - ver.1

Submitted: January 27, 2017

Reads: 48

A A A | A A A

Chapter Content - ver.1

Submitted: January 27, 2017

A A A

A A A

JILID 1

 

“Akhi Khalid, antum sudah sholat dhuhur?” aku terbangun dari lamunanku saat Andi teman satu LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menepuk pundakku.

 

“Akh, antum mengagetkan ana aja! Oh iya, ana belum sholat dhuhur nich!” aku menjawab sambil memakai tas ransel hitamku kembali, yang saat itu masih tergelatak dilantai.

 

“Akh, kalau gitu ayo kita kemasjid sekarang!” ajak Andi.

 

Aku hanya hanya menganggukkan kepala, sambil berdiri dan berjalan menuju masjid kampus yang jaraknya tidak begitu jauh dari fakultasku.

 

Hem, nikmat benar air wudhu yang membasahi kulit-kulitku ini. Terasa semua ringan dalam membasuh semua kotoran-kotoran dunia. Iqhomat sudah mengumandang, tanda sholat akan dimulai.

 

“Benar-benar cantik, wanita tadi! Siapa dia? Aku baru melihatnya sekarang!” lamunku.

 

“Allahu Akbar!” aku tersentak saat Imam mengucapkan takbir rukuk.

 

“Masya’ Allah, aku sedang sholat!” sertamerta pun aku langsung membuang jauh-jauh pikiran yang telah menjauhkan aku dari kekhusyu’anku dalam sholat.

 

***

 

Kebutuhan rohaniku telah aku laksanakan, sekarang waktunya untuk kebutuhan jasad ini. Dholim, jika aku mengacuhkan kebutuhan tubuh ini.

 

“Akhi, antum sudah makan?” tanyaku pada Ridwan teman satu LDK, yang sedang duduk-duduk diserambi masjid.

 

Ana, belum makan Akh! Kenapa, mau ngajak makan? Tapi ingat Akh, ana kalau makan nggak suka kalau dikantin kampus kita ini!” ucap Ridwan

 

aku tersenyum sambil mengatakan “nggak suka, apa kemahalan?”

 

“hehehe, antum sudah tahu rahasianya yach!” Ridwan mengatakan sambil tertawa

 

“Kita kan sama-sama mahasiswa, tahulah yang dipikirkan! dan kita kan Al-Ikhwan (saudara)! Jadi kita harus lebih mengetahui keadaan saudaranya sendiri!” kataku sambil bernada sok mengejek

 

Ridwan tertawa sambil mengatakan “antum ini, ada-ada saja! Benar juga, kita Al-Ikhwan (saudara) jadi harus lebih tahu! Sekarang, Antum harus tahu kalau ana lagi boke’! Jadi antum harus mentraktir ana!”

 

“Akh, antum! kapan punya uangnya? Boke’ kok terus! Ok lah, sekarang ana traktir” kataku sambil tertawa dan mengajak Ridwan disebuah warung. Tentunya yang murah dan enak.

 

***

 

Hem, sepi sekali dikontrakan! Mungkin teman-teman masih ngisih kajian atau mengikuti kajian pikirku dalam hati. Aku merogoh saku celana, mencari kunci kontrakan. “Ini dia!” kataku. Aku buka pintu sambil berucap salam, tetap tidak ada yang menjawab salamku. Mungkin memang teman -teman masih aktif dalam kegiatan masing-masing. Biasanya kalau jam-jam tidur siang ini, teman-teman masih lebih aktif untuk berdakwah. Biasanya Yanto, Deni, Heri dan Samsul selalu pulang sore, karena banyaknya aktifitas di SKI (Sie Kerohanian Islam) fakultas mereka. Alhamdulillah kegiatanku sekarang sudah tidak sepadat seperti mereka, mungkin teman-teman mengerti kalau aku sekarang lebih disibukkan rencana untuk mengerjakan skripsi. Sehingga amanah-amanah dakwah, tidak begitu banyak dibebankan kepadaku. Dulu, saat masih banyak-banyaknya aktifitas dakwahku. Aku banyak sekali mempunyai binaan, mulai dari kajian anak-anak SD, SMP, SMA, anak-anak jalanan sampai kajian para preman yang sudah tobat. Tapi alhamdulillah sekarang lebih berkurang, sekarang aku hanya mengisi kajian ditempat para preman saja.

 

Pernah suatu hari, aku meminta tolong teman-teman untuk mengisi kajian para preman. Ternyata teman-teman banyak yang belum siap untuk mengembangkan dakwah dikalangan para preman. Sehingga kajian untuk para preman, masih tetap aku yang mengisi. Memang sangat unik sekali saat bertemu dengan preman-preman itu, saat-saat pertama mengenal mereka. Entah apa yang membuat para preman ini sadar, akan pentingnya mengenal Islam lebih dalam. Perjumpaan yang sangat unik, saat aku selesai mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang beruntung, aku berjalan sendirian diperkampungan kumuh itu.

 

Disebuah pinggiran kali, aku berpapasan dengan tiga para preman. Mereka melihatku dengan tatapan yang tajam, seakan aku adalah mangsa yang siap untuk diterkam, dan tentunya sangat lezat. Jantungku berdetak kencang, aku merasakan ketakutan saat berhadapan dengan para preman. Tak pelak aku pun beristikfar dalam hati dan meminta perlindungan kepada sang Maha pelindung. “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman (Ali Imran 175).” Aku teringat dengan apa yang difirmankan Allah, sungguh dahsyat apa yang kurasakan setelah mengingat Ali Imran ayat 175. Tubuhku seakan siap menjadi tentara Allah yang akan menghadang para segerombolan kaum Bani Israil.

 

“Hai kamu! Kesini” teriak salah satu preman itu, memanggilku.

 

Dengan santai aku pun mendatangi ketiga preman itu “ada apa Bang?” jawabku.

 

“Jadi ini yach, Guru ngaji itu!” ucap salah satu preman yang berada ditengah.

 

“Iya Bos, dia salah satu dari guru ngaji itu!” jawab salah satu preman disebelahnya.

 

Aku hanya diam dan menatap mereka, serta bersiap siaga jika mereka akan berbuat sesuatu kepadaku.

 

“Apa benar kamu guru ngaji, yang ngajar digubuk sana?” tanya preman yang dipanggil Bos, dan kemungkinan dia memang memang Bos preman didaerah kumuh ini.

 

“Iya benar!” jawabku singkat dan mantap, sambil sedikit menganggukan kepala.

 

“Hem, aku sudah mendengar kalakuan kalian pada anak-anak disini!” ucap si Bos preman itu. “apa kamu nggak takut, sama kami!” ucapnya lanjut, dengan sedikit agak membentakku.

 

Saat itu aku hanya sedikit tersenyum lalu mengatakan “maaf kalau saya mengganggu atau ada kelakuan saya dan teman-teman yang tidak mengenakkan, kami mengajar kesana hanya untuk meningkatkan keilmuan anak-anak, serta mencari pahala yang dijanjikan oleh Allah swt! Tidak ada maksud lain selain itu.” Ucapku tenang dan tegas

 

“Jadi, kamu memang benar-benar tidak takut pada kami!” Bos preman itu membentak keras kepadaku

 

“Maaf, bukan bermaksud seperti itu! Saya dan teman-teman, mengajar dengan keIkhlasan. Bukan mencari permusuhan!” jawabku mencoba untuk menenangkan mereka.

 

“Dasar bocah. Kamu sudah berani menginjak daerah kami!” ucap salah satu preman yang berambut gondrong.

 

“Sudah sikat saja!” ucap preman yang berbadan ceking, berambut cepak sambil langsung bergerak mengepungku, tidak terkecuali preman yang berambut gondrong itu. Si Bos preman hanya melihat dan diam saja.

 

Darah sudah mendidih, luapan emosi sudah menerjang pada ketiga preman itu. Aku juga sudah bersiapsiaga menerima serangan dari kedua preman itu.

 

“Tak ada yang saya takuti selain Allah swt, jikalau saya mati disini! Maka akan banyak tentara Allah yang akan menghajar kalian! Dan saya syahid dijalan-Nya” ucapku keras

 

Saat si preman gondrong akan menyerang, terdengar teriakan keras “HENTIKAN”. Kami menoleh pada Si bos preman itu. “Sudah, hentikan!” perintahnya lagi.

 

Aku masih tetap bersiapsiaga jika sewaktu-waktu mereka menyerangku.

 

Si Bos preman itu mendatangiku, lalu dia tersenyum sambil berkata “Hai anak muda, siapa namamu?”

 

“Khalid, Khalid Hendriansyah!” ucapku tenang dan tetap tegas.

 

“Baru kali ini, saya berhadapan dengan anak muda yang berani!” ucap Si bos preman, selanjutnya dia mengatakan “sebenarnya beberapa kali, ada anak muda yang mengajarkan ngaji pada anak-anak diperkampungan kumuh ini. Tetapi mereka adalah anak muda yang munafik, mereka mengatakan kebesaran Tuhannya tetapi mereka menakuti manusia. Mereka takut pada kami, para preman! Saat aku melihat kamu, aku ingin menguji keberanianmu, aku ingin menguji keimananmu, ingin menguji kekuatan kepercayaanmu kepada Tuhanmu. Dan menguji, apakah kamu dari golongan anak muda yang munafik itu? Sungguh luar biasa keberanianmu, engkau tak takut akan kematian. Bahkan engkau mencari kematian, kematian diatas nama Tuhanmu! Dan ternyata kamu bukan dari golongan anak-anak muda yang munafik itu.”

 

Nih preman gak tau kali ya, kalau aku sebenarnya juga takut! Tapi Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah swt, rasa takutku pun menjadi sebuah keberanian. Ucapku dalam hati.

 

Si Bos preman mendekat kepadaku, lalu menepuk pundakku sambil mengatakan “hai anak muda, kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya. Kami ingin anak-anak kami di didik oleh orang-orang yang memang mengerti tentang Tuhan. Tidak takut akan ancaman manusia, tetapi dia lebih menakuti ancaman-ancaman Tuhannya. Sehingga anak-anak kami nantinya, menjadi seorang pemberani dalam hidup. Dan termasuk dari golongan orang-orang yang shaleh.” Si bos preman itu memandangi aku, layaknya berharap kepadaku, berharap tentang ajaran kebenaran. Berharap akan datangnya cahaya keIlahian. Setelah itu Si bos berkata “Khalid, jangan kamu kira bahwa kami tidak perduli dengan masa depan anak-anak kami! Kami berpenampilan seperti ini, karena kami ingin melindungi daerah ini, dari preman-preman yang lain! Dengan seperti ini kami lebih leluasa untuk bergerak.”

 

Aku tersenyum saat Si bos preman itu menatap tajam penuh makna, penuh pengharapan dari orang yang menginginkan kebenaran. “Insya Allah, saya akan mendidik anak-anak dilingkungan sini dengan ilmu yang pernah saya dapatkan! Saya hanya menginginkan keridhoan Allah saja dalam berjuang, bukan yang lainnya.” Ucapku.

 

“Terima kasih, Khalid! Dan jika kamu butuh apa-apa silakan panggil kami.” Ucap Si bos preman sambil akan beranjak pergi.

 

Saat dia akan beranjak pergi, serta merta pun aku langsung memanggil Si bos “maaf, saya belum tahu nama Abang!”

 

Si bos preman membalikkan tubuhnya menghadap aku, dia tersenyum sambil menjawab “Panggil aku, Jamal! Sampai jumpa Khalid”

 

Saat hendak Si bos preman alias Bang Jamal melangkah meninggalkanku, aku berteriak “Assalamua’alaikum, Bang”

 

Bang Jamal menoleh, sambil tersenyum dan menjawab “Walaikumsalam” setelah itu dia pergi.

 

Aku tertegun sesaat, pikiranku menerawang mengingat apa yang dikatakan Bang Jamal “Kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya.” Sungguh luar biasa apa yang diucapkan Bapak Jamal. Tiada kata yang seindah dengan pengingatan keras, seperti apa yang diucapkan Bang Jamal. Sungguh aku benar-benar takut, takut jika tidak dapat mengemban amanah ini. Sebuah ucapan yang harus diperhitungkan, meski ucapan itu diucapkan oleh orang-orang jalanan atau bahkan seorang preman.

 

Tiada hal yang harus kita singkirkan, dari pernyataan seorang preman yang begitu agung. Mungkin pernyataan Bang Jamal, layak disetarakan dengan Aristoteles atau mungkin Imam Ghazali, sungguh pernyataan yang tidak dapat diduga dari mulut seorang yang masih tidak begitu mengenal tentang kebenaran dari Tuhan. Tapi tetap, Bang Jamal adalah Jamal, bukan Aristoteles atau bahkan Imam besar Al Ghazali.

 

Yang aku tahu, dijaman seperti sekarang ini pernyataan yang di ucapkan oleh Bang Jamal sangat langka. Kita lebih banyak tahu, tentang orang-orang yang selalu berpikiran sempit tentang ajaran-ajaran kebenaran ini, Islam. Apalagi menganggap bahwa, anak-anak yang mempelajari agama Islam, adalah anak-anak yang ketinggalan jaman. Mereka mungkin lupa dengan apa yang dikatakan Imanuel Kant, bahwa tingkatan paling tinggi dari estetika dan etika, dari derajat manusia adalah rasa keimanan yang tinggi terhadap agamanya (relegius).

 

Setelah aku kenal bang Jamal, terjadi banyak hal yang memang membuatku kagum dengan Dia. Sosok preman yang satu ini memang beda dengan preman-preman yang lainnya. Dia tidak pernah meminta uang apapun didaerah kekuasaannya, apalagi hanya sebatas uang keamanaan. Tetapi tetap kerjanya Bang Jamal, jadi bodyguardnya pemilik hotel. Kata Bang Jamal sich, pemilik hotel itu takut, takut kalau ada yang bikin gara-gara dihotelnya. Jadi akhirnya Bang Jamal yang diminta perlindungannya.

 

Sungguh memang ironis dinegara kita ini, para penegak hukumnya sudah tidak lagi dapat diandalkan sebagai penegak hukum yang sebenarnya. Hingga akhirnya orang-orang yang punya uang pun, lebih aman dijaga preman dan satpam. Setalah sering bertemu, akhirnya aku beranikan diri untuk mengajak Bang Jamal bikin kajian khusus para preman- preman. Luar biasa tanggapan bang Jamal, ternyata sangat menerima sekali ajakanku itu “ini yang ditunggu-tunggu dari dulu, jarang ada pengajian buat para preman!” ucap Bang Jamal saat itu.

 

Tiada hal yang dapat menggembirakan hati ini, kecuali ajakan untuk berbuat baik disambut dengan kebaikan pula. Sejak saat itulah, aku sering mengisi kajian para preman-preman. Dan akhirnya aku banyak tahu, nama-nama dari preman diwilayahku sendiri.

 

Lambat laun kajian para preman yang aku adakan semakin ramai saja, karena para preman ini sering mengajak teman-teman preman lainnya untuk ikut ngaji juga. Beberapa preman yang masih baru mengikuti kajian, banyak yang canggung. Sehingga sesekali ada celetukan yang kadang jorok, lucu, atau bahkan mengharukan. Mengharukan, karena ternyata banyak para preman ini yang tidak dapat membaca Al Qur’an, “baca Al Qur’an! La wong baca koran aja susah kok” itulah celetukan menyayat hati. Dinegara yang katanya sebagian besar umat Islam ini, ternyata tidak sedikit yang belum bisa membaca Al Qur’an. Tapi tertera dengan jelas di KTPnya (Kartu Tanda Penduduk), ISLAM. “Jadi, sebenarnya yang benar ini, yang mana? Islam KTP apa KTPnya yang Islam. Kalau Islam KTP sich masih punya identitas keIslamannya, nah kalo KTPnya yang Islam berarti yang Islam itu?.” Gumamku dalam hati

 

Hari-hari yang aku lalui dengan para preman, ini sungguh memberikan kesan yang tersendiri. Kesan yang membuatku kagum dengan semangat mereka, semangat yang ingin lepas dari jeratan syetan. Sungguh besar rahmat Allah, disaat banyak orang yang menjauhi agama Islam, tetapi mereka dengan berbondong-bondong belajar agama yang haq ini, Islam. Mereka tidak merasa malu dengan keIslamannya, bahkan hari demi hari mereka menjadi bangga dengan apa yang mereka peroleh.

 

Sejak saat itu aku sering main kerumah bang Jamal, tak jarang pun bang Jamal main-main ketempat kosku. Beberapa teman-teman aktivis dakwah sempat kaget, dengan jalinan pertemananku dengan bang Jamal. Sampai-sampai Deni, dengan ceplas-ceplosnya mengatakan

 

“Akh, Khalid! Antum punya banyak binaan preman, kok gak disuruh untuk lebih meningkatkan keimanannya! Sehingga dandanan para preman itu menjadi lebih sopan lagi”

 

“Sebenarnya, gini Akh! Seseorang diberikan peringatan tidak harus langsung, kita harus mengetahui kadar keimanan dari seseorang yang akan kita beri peringatan. Ana takut, kalau ana memberikan peringatan yang keras kepada mereka, akhirnya menjadi lari dengan dakwah kita. Cukup tunjukkan perilaku kita saja, biar mereka meniru apa yang kita perbuat, dan tidak usah banyak berkata-kata! Karena sesungguhnya, Islam adalah agama prilaku! Maka berikan contoh, karena sesungguhnya contoh itu yang mudah untuk ditiru.” Memang ucapan Deni benar, tetapi suatu hal yang mendasar, yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah rasa kasih dan sayang serta memberikan peringatan dengan lemah lembut. Juga memberikan amanah kepada seseorang, dengan sesuai tingkatan keimanannya. Tidaklah seorang yang bijak, jika menyeruhkan kebenaran tetapi dia sendiri tidak melakukan. Tidaklah kebenaran itu akan terwujud, jika kebenaran itu hanya berada pada ucapan-ucapan semata. Tidaklah ucapan-ucapan kebenaran akan terwujud, jika perilaku si pengucap menyimpang dari perkataan kebenarannya. Orang bijaklah, yang menyerukan tentang kebenaran, dan dia mengetahui kebenarannya serta mengetahui kadar iman dari seorang yang akan diserunya.

 

Hari demi hari, pertemanan kami sangat dekat. Bang Jamal, sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Sehingga rasa kekeluargaan kami terasa begitu kental. Istri bang Jamal, mbak Surtini juga sudah mengikuti kajian ibu-ibu yang diadakan oleh teman-

 

teman akhwat kampusku. Apalagi Joko, putra bang Jamal ini lebih senang datang ke kajian dari pada pergi ke sekolah “sekolah itu bosenin, Ustad! Masa kerjanya cuman belajar melulu, nggak ada mainnya.” Itulah kata Joko saat aku tanya. Tapi memang, Joko menjadi anak yang lebih cepat menangkap pelajaran agama daripada pelajaran-pelajaran yang lainnya. “saya kan pengen kaya’ ustad Khalid!” akunya polos. Saat Joko mengatakan itu dengan polos, badan ini menjadi benar-benar bergetar. Beribu tanya dihatiku “apakah aku layak dijadikan contoh, bagi Joko?” sering juga bang Jamal mengatakan kepadaku, “Khalid, Joko benar-benar kagum dengan kamu! Sering aku tanya tentang cita-citanya, dia selalu berkata. “aku pengen jadi ustad. Kayak, ustad Khalid!” aku mohon jangan sampai kamu kecewakan Joko!.” Sungguh ucapan bang Jamal menjadi cambuk bagiku. Cambuk yang selalu mengingatkan aku, untuk selalu mendekatkan diri pada Allah Azza wa jalla.

 

Beberapa kali saat aku mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang beruntung. Selalu ada semangat baru bagiku, untuk dapat meningkatkan kualitas mereka. Terutama kualitas dari pengetahuan agama mereka. Mungkin seperti itulah Allah, memberikan kenikmatan berdakwah padaku.

 

Saat aku sedang mengisi kajian, aku didatangi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sesekali mereka menanyakan tentang data-data daerah kumuh ini pada salah satu RT. Setelah mereka mendapatkan data-datanya, mereka langsung pergi. Dan setelah itu tak lama muncul sebuah kegiatan kemanusian, berupa pembagian sembako dan alat-alat masak gratis. Dan anehnya kegiatan itu sangat mengetahui seluk beluk dari daerah kumuh ini. Sehingga mereka dengan leluasa membagikan sembakonya kepada penduduk. Entah dermawan mana yang membagikan sembako itu, yang aku harapkan tidak ada maksud yang lain selain kegiatan kemanusiaannya.

 

Pertama- tama kegiatan pembagian sembako itu bersifat biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan kegiatan sembako menjadi kegiatan kajian rutin. Entah siapa yang mengusulkan kajian itu, tak pelak kajian keIslaman yang aku dan teman-teman adakan, menjadi sedikit peminatnya. Apalagi kajian ibu-ibu yang diselenggarakan oleh para akhwat kampus.

 

Saat aku sedang mengadakan kajian rutin para preman, aku mencoba untuk mengorek beberapa keterangan tentang para dermawan- dermawan yang membagikan sembako. Dengan mengorek keterangan dari para preman, aku bisa leluasa mendapatkan banyak ketarangan yang sangat berharga.

 

“Bang Jamal, tahu nggak kajian yang dilaksanakan setiap jum’at malam itu?” tanyaku

 

“Iya saya tahu, Khalid!” jawab bang Jamal saat itu

 

“Saya cuma ingin tahu, berapa banyak orang-orang yang datang disana?” tanyaku

 

“Sangat banyak yang datang kesana, Khalid! Bahkan beberapa dari kita pun pindah ke kajian mereka” ucap bang Jamal

 

“Benar, banyak sekali warga kita yang ikut kajian mereka! Kabarnya sich, orang-orang yang ikut kajian mereka itu dikasih uang saku plus oleh-oleh kalau pulang” ujar Dadang preman gondrong anak buah bang Jamal.

 

“Loh, lalu kenapa bang Dadang nggak ikut kajian mereka?” tanyaku dengan heran

 

“Saya kok, merasa ada yang ganjil yach di kajian itu!” kata bang Jamal

 

“Benar Bos!” ucap bang Dadang. Selanjutnya dia mengatakan “saya pernah melihat mereka yang wanitanya memakai jilbab. Seperti teman-teman mas Khalid yang pake jilbab besar-besar itu! Tetapi saat saya melihat terus, ternyata saat masuk kedalam mobil, mereka melepas jilbabnya. Dan disitu ada tiga wanita, empat laki-laki. Mereka terlihat tertawa lepas, para wanita itu dipeluk oleh laki- lakinya! Saat itu saya sebenarnya mau hajar mereka karena bertingkah tidak baik dan saya kira itu juga melecehkan ajaran Islam. Tetapi saya urungkan, karena waktu itu saya sendirian. Takut juga, kalau dikeroyok mereka!”

 

“Dasar, penakut kamu! Siapa yang ajari kamu jadi pengecut begitu” bentak bang Jamal, “kenapa kalau takut nggak bilang! Bisa aku hajar mereka. Aku nggak pernah ajari kamu sebagai pengecut kan?” bang Jamal terlihat sangat emosi, melihat perilaku bang Dadang yang menurutnya pengecut.

 

“Sabar bang, sabar!” ucapku sambil memegangi tangan bang Jamal. “sebenarnya bang Dadang nggak salah bang, Islam mengajarkan kita untuk berani menindak kezaliman. Tetapi Islam juga mengajak kita untuk bisa membuat strategi. Kalaulah bang Dadang saat itu melawan mereka, dan setelah itu bang Dadang dihajar oleh mereka atau bahkan dibunuh oleh mereka! Maka saat ini kita tidak akan tahu perbuatan yang dilakukan oleh mereka. Dengan begini kita akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh mereka. Tetapi seandainya jika bang Dadang melawan mereka, meskipun bang Dadang kalah atau bahkan mati. Maka bang Dadang akan mendapatkan pahala, dan kematian bang Dadang adalah syahid. Surga adalah balasan bagi orang-orang yang syahid. Untuk saat ini sebaiknya kita pantau kelakuan mereka, para pembagi sembako itu!” ucapku tegas.

 

Semua yang hadir saat itu terlihat setuju sambil menganggukkan kepalanya. Sejak saat itu, aku dan teman -teman lebih intensif memusatkan perhatianku pada gerak-gerik para dermawan itu. Dan bang Jamal, sebagai spionaseku untuk mengorek semua kegiatan yang dilakukan oleh mereka.

 

“Ada maksud apa dibalik semua ini?” itulah sebuah pertanyaan besar, bagi kami para aktivis dakwah ini. Dan pada saat itu, muncul ideku untuk ikut kajian para pembagi sembako itu. .

 

***

 

Saat itu jum’at malam, pengajian diadakan ditempat rumah Bapak RT. Banyak sekali yang datang menghadiri. Saat akan masuk ke tempat pengajian, para penyambut tamu sudah bersiap memberikan makanan. Makanan-makanan yang memang lezat-lezat itu mengundang sekali untuk disikat. “hem, bagaimana tidak senang! Yang hadir saja dikasih makanan lezat kayak gini” gumamku sendirian.

 

Saat itu Samsul yang aku ajak untuk menghadiri kajian tersenyum, lalu mengatakan “Wah, Akh. Dakwah kita memang kalah canggih yach!”

 

Saat aku melihat sekeliling, terlihat memang tidak ada yang perlu dicurigai. Hanya saja, memang terlihat beda sekali dengan sistem kajianku. Terlihat beda karena aku bisa melihat para wanita yang juga ikut dalam kajian jum’at itu. Mereka mungkin lupa untuk menggunakan hijab (batasan/penutup) antara wanita dan pria.

 

Saat aku melihat sekitar, mataku melihat sosok seorang gadis berjilbab lebar yang sedang membagikan makanan kecil kepada para wanita. “siapa dia? Kayaknya aku mengenal dia! Hem, dimana yach?” pikirku. Memang aku merasa mengenal wajahnya.

 

Seorang ustad memakai sorban, naik ke mimbar yang sudah disediakan. Terlihat memang meyakinkan sekali orang itu. “oh namanya, kyai Badrul!” gumamku saat kyai itu mengenalkan namanya diawal pembukaan, baru kali ini aku mengenal kyai Badrul. Beberapa saat setelah lama ustad itu berceramah, dia langsung berkata “sesungguhnya agama Islam itu agama yang pasrah! Jadi sesungguhnya, orang-orang yang pasrah adalah orang-orang yang beragama Islam. Meskipun dia tidak beragama Islam, kalau dia pasrah kepada Tuhannya, maka dia orang Islam” kata kyai Badrul yang saat itu sedang berceramah didepan mimbar.

 

Sontak saja aku dan Samsul yang mengikuti kajian itu, saling berpandangan. Wajah Samsul terlihat geram “Akh, ini nggak bisa dibiarin! Ini namanya pendangkalan akhidah!” ucapnya lirih.

 

“Tenang, Akh. Jangan gegabah, kita lihat dulu maksud dari kyai yang baru kita kenal ini” jawabku lirih pula.

 

“Sesungguhnya, Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam! Jadi, untuk bisa menjadi agama yang rahmat, orang Islam haruslah saling menghormati dengan agama yang lainnya. Agar tercipta kehidupan saling menghormati, ucapkanlah selamat jika ada agama lain yang sedang merayakan perayaan! Karena Islam agama rahmat, ucapan selamat itu adalah ucapan rahmat!” kata kyai Badrul saat masih berada diatas mimbar.

 

Sontak pun aku dan Samsul saling memandang “Akh, ini memang nggak bisa dibiarkan! Ini sudah pendangkalan akhidah” ucap Samsul padaku

 

“Iya benar, ini memang sudah pendangkalan akhidah umat Islam! Entah kyai mbeling dari mana dia, dengan seenaknya ngomong kejamaah umat Islam seperti itu!” ucapku lirih

 

“Akh, setelah ini kita harus gerak cepat! Sebelum banyak orang yang akan didangkalkan akhidahnya” pintaku ke Samsul.

 

“Iya, kita harus gerak cepat!” jawab Samsul pasti.

 

Saat kyai Badrul selesai berceramah, datang beberapa bingkisan makanan. Bingkisan makanan itu dibagikan untuk oleh- oleh para jamaah yang hadir disitu. Saat pembagian sembako itulah aku melihat, sosok cantik yang berjilbab lebar itu lagi. Aku benar-benar menatapnya, sambil mengingat-ingat dimana aku pernah berjumpa dia.

 

Aku kaget saat Samsul menyikutku pelan, sambil berkata “Akh, antum jangan lihat akhwat terus! Ingat, pandangan pertama itu dari Allah tetapi selanjutnya dari syetan! Tapi akh, memang tuh akhwat cantik juga yach!”

 

“Ana, nggak melihat akhwatnya! Ana cuma melihat wajahnya” ujarku

 

“Hem, dibilang ngelihat akhwat nggak mau! Tapi malah bilang, melihat wajahnya akhwat. Ini malah lebih parah, Akh!” ujar Samsul sambil tersenyum.

 

“Yee, akh. Antum seharusnya dengerin ana dulu, jangan langsung potong pembicaraan ana. Ingat Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” ucapku kecut.

 

“hehe, begitu aja marah! Ana kan cuma bercanda, Akh!” ucap Samsul sambil cengengesan.

 

“Akh, sebenarnya ana merasa pernah bertemu dengan tuh Akhwat! Tapi ana lupa dimana?” ucapku dengan mengingat-ingat kembali.

 

“Hem, coba di ingat lagi! Ana juga heran, kenapa ada akhwat yang ikut kyai mbeling kayak gitu, ya akh!” ucap Samsul sembari mengambil makanan yang dibagikan saat awal masuk pengajian.

 

“Yee, antum ini gimana! Masa benci kyainya, tapi memakan pemberian kyai Badrul” kataku dengan nada bercanda mengejek.

 

“Hem, selama makanan ini nggak haram, kan boleh dimakan! Ingat Akh, ambil kuenya jangan ambil akhidahnya” jawab Samsul sambil mengunyah kue lalu tersenyum.

 

Aku tersenyum sambil mengatakan “Dasar, mahasiswa kontrakan!”

 

Saat aku masih melihat kearah wanita itu, wanita berjilbab itu menatapku sambil terlihat menajamkan matanya kearahku. Tak lama setelah beradu pandang denganku, wanita berjilbab itu langsung meninggalkan tempat dengan tergesa-gesa. “Akh, ana rasa akhwat itu mengenal ana! Antum tadi lihat nggak ekspresi wajahnya, saat ana beradu pandang dengan akhwat itu! Dia terlihat terkejut, dan dia langsung meninggalkan tempat

 

pembagian oleh-oleh untuk para jamaah! Akhwat itu terlihat sangat terburu-buru sekali” ucapku serius.

 

“Iya akh, tuh akhwat gimana nggak lari! Lah antum, ngelihatin akhwat kayak mau gebukin maling. Terang aja dia lari!” setelah itu Samsul terlihat serius sambil mengucapkan “Atau mungkin dia terpesona kali akh, sama antum. Biasalah, siapa yang nggak terpesona dengan antum. Pangeran tampan dari negeri kodok” ucap Samsul dengan masih mengunyah kue yang hampir habis, sambil cekikikan sendiri.

 

“Hem, nih Ikhwan! Becanda mulu’, apa nggak ingat kalau sering tertawa itu bisa mematikan hati!” jawabku jengkel.

 

Sambil cengengesan Samsul mengatakan “Afwan akh, afwan!”

 

Saat kami semua sudah mendapatkan bingkisan masing-masing, dan bergegas pulang. Dan pada saat kami akan pulang, aku menyempatkan memeriksa bingkisan yang sedang berada digenggamanku. Dan ternyata “masya Allah, berisi uang saratus ribuan” gumamku dalam hati.


© Copyright 2017 IBNU HAFIDZ. All rights reserved.

Chapters

Add Your Comments:

More Religion and Spirituality Books

Booksie Spring 2017 Flash Fiction Contest

Booksie Popular Content

Other Content by IBNU HAFIDZ

Untukmu Aku Ada

Book / Romance

BIDADARI UNTUK IKHWAN

Book / Religion and Spirituality

Popular Tags