Rahasia Musa,Almasih dan Muhammad

Reads: 512  | Likes: 0  | Shelves: 0  | Comments: 0

More Details
Status: Finished  |  Genre: Religion and Spirituality  |  House: Booksie Classic
Artikel ini berisikan tentang pengetahuan kehidupan yang sesungguhnya.

Submitted: September 13, 2012

A A A | A A A

Submitted: September 13, 2012

A A A

A A A


 

MENGUNGKAP  KALIMAT  ALLAH  ATAS  AYAT-AYAT-NYA  DALAM  KEHIDUPAN BAGI  ADAM  MANUSIA  PERTAMA,  ALMASIH  ‘ISA  ANAK  MARYAM  DENGAN KEJADIANNYA  YANG  TIGA  TAPI  SATU  DAN  MUHAMMAD  YANG  DIPERJALANKAN  /  ISRA’,  MI’RAD  SEBAGAI  RASUL DAN  PENGHABISAN  NABI

Assalamu ‘alaikum wwb / Selamat atas pembaca sekalian.

 

 P E N D A H U L U A N

 

Saya seorang hamba  dan tiada kelebihan atas diri, pendidikan maupun status dalam kehidupan di publik. Berawal dari rasa ingin tahu yang selama ini saya cari-cari, saya bertanya-tanya pada diri sendiri:

-Seperti apa Allah itu sebagai Tuhan Penguasa langit dan bumi?

-Bagaimana Dia berkuasa atas kehendak-Nya terhadap kehidupan manusia, sedang kita bertindak atas kehendak sendiri?

Saya mencari untuk mendapatkan jawaban itu. Sebelumnya saya pernah ikut satu golongan agama yang mengatakan Tuhan itu ada pada diri sendiri. Saya disuruh untuk merasakan keberadaan-Nya di dada sebeleh kiri/di hati. Dikatakan bahwa kita dapat tahu tuk merasakannya dan ada di sana yang menyebut  berlafazkan Allah...Allah...Allah...dst tanpa berhenti. Karena saya selalu berfikir setiap apa-apa yang saya terima, selalu logika, dapat diterima akal bahwa sesuatu itu diperbuat,  harus ada sebab untuk mendapat akibatnya. Beberapa kami yang baru memasuki, harus dimandikan tengah malam dam tidur hingga subuh dengan posisi yang menyiksa. Tiada dapat saya tidur satu malam itu. lalu saya tinggalkan karena saya tiada dapat menemui-Nya. Lalu saya mencari sendiri dengan apa yang didengar dari beberapa sumber yang menceritakan tentang Allah dan baca kitab. Setelah saya fikirkan dengan sendirinya, saya mulai menduga juga bahwa Allah itu berada di antara kita, dan tetap terus membaca-baca kitab. Tapi saya membaca kitab yang berbahasa Indonesia/terjemahan. Saya menduga bahwa setiap gerakan dalam kehidupan ini adalah Allah yang menggerakkannya.

Umpama kita berjalan,  Allahlah yang menjalankannya. Dia memberi kebebasan pada kita untuk berbuat sesuai yang kita inginkan. Maka Dia akan membalas nanti dari apa yang telah diperbuat. Jika kita berbuat salah, Dia beri kebebasan dan apabila terjadi suatu yang mencelakakan kita, maka disitulah tanda sayang-Nya Allah yang mengingatkan. Tetapi saya diliputi terus dengan tanda tanya, adakah kiranya Allah memperhatikan saya seorang hamba yang tiada apa-apanya, sedangkan manusia ini bermiliar  jumlahnya? Pernah juga saya ragu, adakah Allah itu? Atau hanya gambaran orang-orang dalam hayal semata? Sedang di kitab jelas mengatakan, tiada keraguan padanya. Itu kitab Tuhan, saya beriman.  Tapi aneh, Tuhan yang Mahamengetahui kok hanya menceritakan kisah nabi-nabi saja. Apakah Dia tidak menduga bahwa manusia kini sudah sangat majunya? Ada pesawat, mobil, tv dll. Maka saya semakin penasaran untuk mengetahuinya. Disini saya memang hanya berpedoman pada kitab. Saya hanya yakin pada kitab karna saya pernah membaca sebuah buku dari pembela Islam yang menerangkan agar waspada dengan isi hadits-hadits. Di buku itu mereka terangkan gak ada jaminan kebenaran akan hadits-hadits. Karena hadits-hadits itu hanya menurut orang-orang dan gak dijamin tiada salah. Di sana juga diterangkan boleh jadi karena sesuatu, mereka sebut nabi mengatakannya. Boleh jadi juga bertujuan baik, tapi ia sebut nabi yang mengatakan. Seperti orang mati ditangisi tersiksa. Agar percaya, nabi yang katakan, jadi supaya tidak ada lagi ribut dengan teriakan yang menjerit-jerit untuk menagisi mayat itu.  

Karena saya belum menemukan sebagaimana keberadaan Allah itu, saya terus cari tahu dan juga dengan membaca kitab, kembali saya mendapat jawaban. Untuk kali ini jawabannya semakin jelas dan nampak/kelihatan. Dengan pedoman ayat yang mengatakan bahwa Allah itu meliputi segala sesuatu, maka saya menyatakan bahwa apa yang ada yang dapat kita lihat ini, adalah Allah. Namun walaupun dengan yakin, saya masih juga ragu. Allah itu tidak dapat dilihat, bahkan Dia yang memperlihatkan.

“Dia tidak diperdapat dengan penglihatan dan Dia memperdapat penglihatan; dan Dia Mahahalus dan Mahamengetahui.”[SQ : Al-An’am / 103]

Maka saya terus membaca kitab tuk mencari-Nya. Saya membaca itupun tidak terus berlanjut. Kisah itu terputus dengan kegiatan-kegiatan saya. Namun kitab itu saya baca berulang dengan kembali dari awal. Pada suatu ketika saya sudah banyak juga mendapat keterangan dari membaca kitab itu. Maka dari apa yang sudah saya dapati, saya mau mencoba menulis dan mengirim tulisan itu ke surat kabar. Dan ada juga berfikir untuk menulis lalu dibukukan dan tentu mendapat sedikit uang. Sambil menulis dan mencari keterangan-keterangan seputar aturan atau ketentuan-ketentuan hukum, saya jadi terhenti dengan satu ayat yang menerangkan dilarang menulis kitab dan dijual. Allah melarang menulis suatu kitab yang menyatakan keterangan hal agama Allah / terhadap Allah, untuk mendapatkan uang sedikit. Jadi ini suatu ayat menggambarkan buku pedoman dalam agama Allah.

Maka celakalah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangannya, kemudian mereka berkata: Ini dari sisi Allah, supaya dapat mereka menjualnya dengan uang yang sedikit. Celakalah bagi mereka karena tulisan tangannya dan celakalah bagi mereka karena usahanya.”[ SQ: Albaqarah  /  79].

Ternyata pula ketika itu,  saya menemukan adanya surat kalimat Allah yang menerangkan perjalanan atas Bani Israil hingga menjadi kaum Nasrani, gambaran kehidupan kaum Timur, serta gambaran wahyu Allah kepada Bani Israil membuat bencana dua kali di muka bumi. Lalu pada suatu malam, saya di kejutkan dengan satu kalimat  yang menggambarkan kejadian Langit dan bumi. Dada saya berdebar dikala itu dan rasa merinding. Ini suatu pengetahuan yang saya anggap tiada akan pernah saya tamukan jawabannya. Suatu pertanyaan dahulu, Bagaimana Tuhan menciptakan langit dan bumi ini. Karena saya merasa tiada mungkin adanya jawaban itu, maka tuk mencari  jawabannya,  tidak saya fikirkan lagi. Namun kini saya tau jawabannya bahkan bagaimana Allah memulai menciptakan makhluk dari belum ada satu apapun. Sungguh Quran Maha ajaib, dengan kalimat seperti itu Allah menerangkan semua kehidupan ini dengan sempurna. Untuk kisah ini, dengan ijin Tuhan kami terangkan pada tulisan selanjutnya. Karena saya harus bekerja jauh ke satu daerah wilaya Tapanuli Utara, maka terhenti. Walaupun kitab itu tetap saya bawa, saya tidak mendapat lagi hidayah pengetahuan itu. Pekerjaan berlanjut ke daerah Batang Toru Tapsel dan kami tinggal di kec. Angkola Sangkur Nur. Saya berkenalan dengan seorang gadis dari ummat Kristiani. Saya jatuh cinta dan sangat menyayanginya. Dan lalau beriring dengan waktu, kami menikah di Medan tanpa sepengetahuan pihak keluarganya. Terjadi suatu pembicaraan antara kami dari hal kejadian Almasih ‘Isa anak Maryam. Dia mengatakan Tuhan Jesus, terjadi dari suatu penjelmaan, di mana dia bapak, dia anak dan roh kudus jadi tiga, dan ketiganya adalah satu Tuhan Jesus itu sendiri. Lalu saya sanggah, Dimana mungkin dia bapak dan dia anak?” Ia hanya menjawab, “Itu kalimat dan harus terjadi. Aku tau itu, tapi aku gak bisa untuk menerangkannya.” Lalu pembicaraan terhenti dan kamipun tidur. Di kala itu saya belum tahu dan baru mendengarnya. Karena sesuatu, dia kembali ke kampungnya. Saya kembali membaca-baca kitab. Saya sudah terbeban untuk menyampaikan kebenaran dari Allah terhadap agama Allah yang sudah  jauh ditinggalkan ummat. Saya kembali mencari beberapa keterangan untuk menyampaikan pada ummat. Kurang lebih 2 minggu kemudian, tanpa saya fikirkan lagi ada bapak yang juga jadi anak, itu sangat mustahil. Namun saat saya membaca kitab, saya kembali dikejutkan dengan mendapat keterangan gambaran mengenai kejadian Almasih, bahwa ia bapak, ia anak dan ruh Allah yang ketiga itu adalah kalimat Allah, Almasih yang satu. Sungguh atas rahmat Allah, tergambar oleh saya suatu pemandangan kejadian Almasih yang tanpa saya fikirkan. Dalam dugaan saya, hal itu sangat tidak masuk diakal, maka tiada saya perdulikan.  Tapi ternyata itu memang keajaiban bagi Bani Israil. Itu dari kitab Injil, pasti benar adanya. Hanya saja kaum dari ummat yang  mengikut Almasih, lain versi dalam menduga atau mentafsirkan kalimat Allah itu.  Saya ada saksikan di Internet debat antara pengikut Muhammad dan Almasih yang mempermasalahkan itu. Tetapi dari kedua belah pihak itupun tiada titik terangnya.  Demikian yang saya dapat dari kitab itu, merupakan ungkapan dari ayat-ayat Allah sebagai rahmat bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lalu saya ambil sikap kembali menulis, dan dalam menulis itu pula, saya terus mendapakan hikmah hingga saya mengetahui banyak prihal kehidupan. Kiranya beberapa ayat kemudian ini sebagai dasar kebenaran Allah bagi orang yang berhati yakin.

Quran /  Adalah keterangan untuk manusia. Jadi petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang taqwa/tunduk/mengikut”[ SQ: Ali Imran / 130]

Dia memberi hikmah /pengetahuan/ kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mendapat hikmah itu, Sesungguhnya ia telah mendapat kebajikan yang banyak. Dantiadalah yang menerima peringatan, melainkan orang-orang yang berakal.”

[SQ : Al-Baqarah / 267]

Demikian Allah atas kehendak-Nya, memberi hidayah pengetahuan. Dan untuk itu, tiada katagori atau ketentuannya diberikan-Nya kepada orang-orang yang harus berpendidikan khusus hal agama. Allah juga menghimbau bagi orang-orang yang membaca kitab, jangan segera menghentikan sebelum habis keterangan yang akan ditunjuki-Nya berupa wahyu-Nya / kalimat-Nya.

“Mahatinggi Allah raja yang sebenarnya. Janganlah engkau bersegera [membaca] Quran, sebelum habis wahyu-Nya kepadamu. Katakanlah ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”[SQ : Thaha  /  114]

 Prerlu kami beritahukan bahwa, apa-apa yang kami tulis, kesemuanya bersumber dari kitab Quran dan dari daya imaginasi yang juga dari pemandangan pada  gambaran riwayat ayat-ayat Allah. Dan kami tetap berpegang pada hakikat akan  ungkapan kami yang berupa pendapat dari analisa kami, dapat untuk kami pertanggungjawabkan yang dalam arti dapat dicerna akal.

 

 

PENGENALAN  KATA - KATA  TERTENTU  PADA  KALIMATALLAH

Tuhan

Tuhan adalah suatu kata ungkapan untuk suatu kedudukan atau keberadaan sebagai Penguasa yang berkuasa sepenuhnya. Maka sebagai yang berkuasa dalam mengatur kehidupan langit dan bumi dan segala yang ada di antaranya, Dialah Raja yang sesungguhnya yang kita kenal dengan nama Allah yang Mahakuasa, Mahaberkehendak dan Mahabijaksana dalam mengatur urusan-Nya. Dia Mahamengetahui sebelum dan sesudahnya dan ketika Dia menghendaki dalam mengadakan kehidupan ini, dalam satu kalimat hanya dengan mengatakan “ Jadi”, maka semua terjadi atas ruh-Nya pada unsur-unsur sifat reaksi kehidupan berdasar suratan yang dikehendaki-Nya. Karena sudah dalam satu kalimat jadi kesemuanya itu sudah pada satu ketentuan dalam kehidupan. Maka suratan perjalanan kehidupan, telah tertulis dalam kitab sebagai ketetapan yang diwahyukan-Nya.

Umpama seorang penulis cerita, dia mengarang sebuah drama kehidupan, maka kisah yang di karang sebagai alur cerita kehidupan itu, ia tulis dan di bukukan yang kita sebut novel. Jadi apabila cerita itu akan di ungkap dalam sebuah film, maka apa yang akan terjadi dalam kisah di film itu, tentulah sesuai dengan cerita yang telah dikisahkan dalam novel tersebut. Nah, untuk bagi penonton pada film itu, sedang ia tiada membaca novelnya, demikian pula pada kebanyakan ummat kini, yang hanya menonton/menyaksikan  jalannya kehidupan dunia, bak bagai panggung sandiwara, kata penyanyi rock Ahmad Albar. Betapa aniaya serta meruginya mereka yang hanya menyaksikan dan menanti hingga akhir cerita yang mana mereka itu tanpa ia sadari, terlibat langsung sebagai pemeran pada dirinya sendiri. Demikian untuk kehidupan dunia panggung sandiwara ini, Quranlah novel-Nya.

 

K  a  h  l  i  f  a  h

Khalifah juga merupakan sebutan bagi penguasa penuh, tetapi berkuasa dan berwewenang dengan sekehendaknya, hanya untuk bagian yang dikuasainya yang merupakan kekuasaan dari Allah Tuhan sekalian alam. Jadi dapat dikatakan wakil Allah untuk menguasai jalan kehidupan pada makhluk Allah dari golongan manusia. Kalau kami ungkap hubungan antara Allah dan manusia ini, baik kiranya untuk memudahkan dalam memahaminya, kami urai dengan ungkapan umpama cerita.

Ada satu kalimat kehidupan. Pada satu kalimat kehidupan ini, ada atas kehendak sebagai Penguasa dalam kalimatnya. Penguasa kalimat kehidupan itu menetapkan jalan kehidupan dengan segala ketentuannya. Kalimat itu terdiri dari banyak unsur kehidupan. Sebagai Penguasa yang berkehendak pada satu kalimat itu,  melimpahkan kekuasaan pada masing-masing unsur kehidupan sebagai pemegang kekuasaan yang berwenang pada kehidupannya  masing-masing. Maka inilah berupa gambaran bagi masing-masing unsur kehidupan yang berkuasa sebagai khalifah Penguasa pada satu kalimat tersebut. Pada masa unsur-unsur kehidupan itu masih dalam satu kalimat, tentulah masing –masing unsur kehidupan itu mengetahui kehendak pada satu kalimatnya. Karena memang masing-masing kehidupan itu adalah bagian dari satu kalimat yang dikehendaki dalam janji-janji yang sudah ditentukan. Jadi untuk mengetahui apakah unsur-unsur kehidupan itu mengikuti kehendak yang sudah di ketahui sesuai janji-janji yang ditetapkan, maka masing-masing unsur kehidupan itu diuji dalam menguasai kehendak pada kehidupannya masing-masing. Setelah diketahui atas kehendak masing-masing unsur kehidupan tersebut mengikut atau tidak dengan satu kalimat dalam perjanjian, unsur-unsur kehidupan itu akan menerima balasan sesuai janji yang telah ditentukan. Bagi yang mengikut sesuai kalimat, maka mendapat kenikmatan. Tetapi bagi yang ternyata mengingkari janji-janji yang mulanya sudah di ketahui, akan menerima siksa. Maka penguasa satu kalimat itu, memberi keleluasaan mengendalikan kekuasaannya untuk menyatakan kalimat masing-masing dalam berjalan mengikuti satu kalimat kehidupan yang sudah ditentukan. Unsur-unsur kehidupan yang dikuasai tersebut, dititipkan pada suatu tempat dan dilupakan dari apa yang sudah diketehuinya untuk diuji mana-mana yang mengikut dan mana-mana yang mengingkari. Cara melupakan atas kehendak satu kalimat itu, dilupakan dengan tiga kegelapan. Dalam masing-masing unsur untuk menjalani kehidupannya, ada petugas pencatat apa-apa saja yang dijalankan unsur-unsur kehidupan yang dikendakinya. Karena masing-masing unsur kehidupan itu, sudah dilupakan atas janji-janjinya. Petugas pencatat ada dua, pencatat yang benar dan yang salah. Dan apabila pengujian telah berlalu, masing-masing yang diuji itupun dipanggil untuk melihat catatannya masing-masing. Dan masing-masing unsur kehidupan yang dipangil itu, dibuka kembali ingatannya sehingga ia kembali mengetahui akan satu kalimat yang telah dijanjikan tersebut. Dan dari catatan yang ia terima, dia melihat catatan apa yang telah ia perbuat pada kehidupannya, mengikut atau mengingkari. Bagi yang banyak menguikut, tentu ia menang. Dan bagi yang banyak mengingkari, tentu catatannya berat pada yang salah, maka ia menerima siksa.

Umpama pada cerita tersebut, penguasa pada satu kalimat itulah Allah Penguasa langit dan bumi, dan  masing-masing unsur yang berkuasa atas kehidupan itu, itulah manusia sebagai khalifah Allah. Demikian sekilas cerita yang menggambarkan hubungan antara Allah dengan hamba-hamba sebagai khalifah-Nya.

 

Agama  

Kata agama berasal dari bahasa Sankskerta yang terdiri dari kata A yang berarti tidak dan Gama yang berarti kacau/kacau balau. Maka bila digabung, menjadi Agama yang berarti tidak kacau. Jadi untuk tidak kacau dalam arti kehidupan tentulah diperlukan tuntunan sebagai pedoman. Jadi bila di definisikan  dalam arti untuk kehidupan, dapat dikatakan tuntunan perjalanan untuk menjalani kehidupan atau tuntunan jalan dalan kehidupan.

 

A y a t  -a y a t

Ayat-ayat itu artinya suratan kehidupan. Maka kalimat Allah dalam kitab itu, dikatakan ayat-ayat Allah yang artinya, suratan perjalanan kehidupan Allah. Perhatikanlah Surat Allah di bawah ini yang disebutkan sebagai ayat-ayat Allah.

“Dan di antara ayat-ayat-Nya bahwa Dia memperlihatkan kilat kepadamu, lalu kamu takut dan harap, kemudian Dia turunkan air dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air itu,bumi sesudah matinya. Sesungguhnya tentang yang demikian itu menjadi ayat bagi kaumyang memikirkan.”[SQ : Ar-Rum / 24]

Terang dan jelas kiranya keterangan di atas menceritakan berupa perjalanan suratan kehidupan yang biasa terjadi di muka bumi. Demikian pula dengan surat-surat  Allah, malaikat menceritakan ke pada hamba Allah untuk sebagai penerangan dalam suratan kehidupan yang dikehendaki Allah yang menyatakan janji-janji bagi hamba-hamba-Nya untuk berjalan pada kehidupan ayat-ayat Allah yang dikehendaki, jika ingin mendapat rahmat kemuliaan dari Allah, ikutilah ayat-ayat Allah yang berarti suratan jalannya kehidupan Allah yang sudah dikitabkan sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini.

Hidup  dan  kehidupan

Pengertian hidup adalah segala apa yang berubah, baik dengan perubahan gerak, bentuk, zat, keadaan dan lainnya yang punya riwayat dengan  berproses hingga terjadi perubahan. Umpama satu benda dari satu tempat ke tempat yang lain, adanya perubahan pada tempat diamnya. Jadi sebab-sebab hingga adanya riwayat yang berproses hingga terjadi perubahan tempat, keadaan yang jadi berubah itulah yang dikatakan hidup. Jadi yang berubah itu karena hidup, jalannya proses hidup itu pula yang dikatakan kehidupan. Maka segala apa yang menjadi proses berjalannya suatu perubahan dalam gerak, perubahan dalam bentuk, perubahan dalam zat, perubahan dalam keadaan, perubahan dalam apapun yang menjadikan yang tidak seperti semula karena adanya hidup, perjalanan prosesnya itulah yang dikatakan kehidupan.  

Quran 

Quran adalah kalimat Allah yang diwahyukan pada sesuatu yang mengikuti pada jalannya suratan kehidupan  yang telah ditentukan. Jadi sebagaimana dengan Quran, begitu pula dengan Taurat dan Injil. Ketiga kitab itu adalah sama-sama Kalimat Allah. Jadi Taurat, Injil dan Quran itu hanyalah wahyu yang di bukukan. Ketiganya dengan nama yang berbeda, hanya karena yang menerima wahyu-wahyu Allah itu dari malaikat atas ijin Allah, terdiri dari beberapa hamba pilihan Allah yang berbeda pula. Taurat diberikan Allah kepada Musa, Injil kepada Almasih ‘Isa anak Maryam dan Quran kepada Muhammad.

Diketahui bahwa Taurat dan Injil, diturunkan kepada nabi-nabi yang menerimanya, di kitabkan lansung pada zaman nabi yang menerima wahyu itu. Namun untuk Quran, wahyu itu, tidak dikitabkan dengan pemandangan nabinya yang ummi/awam tidak tahu tulius baca. Tuhan yang Mahabijaksana mengatur sedemikian rupa. Jadi pada masa itu, Quran tersimpan di dada orang-orang berilmu/dihafal sahabat-sahabat nabi. Dan hingga nabi itu wafat, Quran itu belum ada tertulis. Maka atas kebijaksanaan Allah pula dalam mengatur kehidupan yang sudah pada kalimat-Nya, suratan kehidupan itu menggambarkan pemandangan para orang-orang yang hafal Quran itu, banyak yang gugur dalam peperangan. Maka oleh Khalifah pada masa itu, dengan rasa takut hilangnya Quran, lalu diambil kebijakan yang juga merupakan kebijakan Allah pada suratan kalimat-Nya, Quran itu di bukukan/di kitabkan. Wahyu itu tidak di kitabkan pada zaman nabi yang menerima, agar supaya tiada pemandangan dikemudian harinya, kitab Quran itu, berbahasa Arab. Jadi hanya Quran yang diturunkan yang berbahasa Arab, karena nabinya orang Arab. Jadi dengan gambaran bahwa kitab itu bukan hanya kitab untuk orang Arab, jadi kitab itu adalah kitab rahmat bagi ummat seisi alam. Maka bagi kaum yang ingin menerima kitab itu pada ayat, Quran itu berbahasa Arab untuk dipikirkan. Maka perintah pelajari Bahasa Arab itu, lalu ambil Quran yang dalam bahasa Arab itu dan bawalah pada kaummu dengam bahasa kamu. Jadi jangan dilarang ummat kaummu membaca kita yang telah engkau terjemahkan dengan senjata ampuh yang sangat menghantui: Hati-hati baca Quran yang bahasa Indonesia, jika belum tahu ilmu-ilmu sejarah sebab-sebab turun ayat. Jadi mereka menyuruh membaca dengan kebodohan, yaitu membaca-baca tetapi tiada mengetahui. Mendengar yang dibaca orang dengan seksama dan diam, sedang yang mendengar dan yang memperdengarkan, sama-sama tak tahu apa yang didengar dan apa yang diperdengarkan. Berfikirlah, adilkah itu?

 

S e m b a h y a n g

Sembahyang adalah kata umum yang biasa kita dengar yang merupakan sikap atau perbuatan untuk suatu tujuan tertentu. Jadi untuk melakukan sembahyang, harus ada yang untuk dipersembahkan/diserahkan. Karena dalam agama sembahyang itu adalah perintah, maka apa-apa yang akan dipersembahkan itu, tentulah dari apa-apa yang dikehendak oleh yang memerintahkan. Apa yang diperintahkan?

“Dirikanlah sembahyang dari condong matahari, sampai gelap malam dan Quran fajar/subuh. Sesungguhnya Quran fajar itu dipersaksikan malaikat.”[SQ : Al-Isra’ / 78].

Demikian perintah pada ayat di atas bahwa kita harus mendirikan sembahyang dari pagi hingga kepagi lagi yang tiada berhenti selama masih hidup. Artinya mendirikan/mengadakan persembahan yang untuk diserahkan kepada Allah Tuhan sekalian alam. Jadi apa-apa yang harus dipersembahkan?

“Kamu turutlah apa-apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu dan janganlah kamu turut wali lain dari pada-Nya. Sedikit sekali di antaramu yangmenerima paringatan.”[SQ: Al-A’raf / 3]

Maka ikutilah ayat-ayat dalam kitab itu yang merupaka gambaran suratan kehidupan yang dikehendaki Allah yang Dia ridhoi untuk kita serahkan. Ingat dengan peringatan Allah pada ayat di bawah ini.

“Bacakanlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu, diantara kitab. Sesungguhnya sembahyang itu melarang memperbuat yang keji dan yang mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah terlebih besar. Allah Mahamengetahui apa-apa yang kamu usahakan.”[SQ: Al-Ankabut /  45]

Pada ayat ini diingatkan bahwa sembahyang itu/ apa-apa yang untuk kita persembahkan pada Allah, dilarang menyerahkan yang keji dan yang mungkar. “...sembahyang itu melarang...”, dengan pengertian bahwa dalam menjalani kehidupan itu yang berupa mengadakan persembahan untuk penyerahan kepada Allah, dilarang memperbuat yang keji dan mungkar. Maka berbuatlah semasa hidup di bumi ini, dengan selalu mengingat Allah.

Jadi apa-apa saja yang harus diperbuat? Allah memerintahkan, jangan ragu dengan kitab itu. Allah yang menjamin untuk tidak diragukan sedikitpun, bila memang ingin petunjuk. Tapi jangan ada maksud lain dengan membaca kitab. Bila dengan tujuan mencari-cari ayat untuk sesuatu tertentu, misalkan bertujuan mencari-cari seakan punya kekuatan sebagai do’a-do’a, jangankan kitab. Hanya dengan memandang saja, sesuatu bisa terangkat. Sudah tentu karena ada yang mengangkat yaitu setan golongan jin yang tiada kita lihat. Maka untuk itu sembahlah jin itu, seakan dia dapat diperintah, padahal kamu yang akan dijerumuskan mereka ke lubang neraka.

“ Kitab itu tiada keraguan padanya, jadi petunjuk bagi orang-orang yang taqwa.” [SQ: Al-Baqarah / 2]

Jadi bagi orang-orang yang takut untuk mengikuti kalimat Allah pada ayat di atas,  mereka itu tentulah mengikut ayat yang melarang untuk diikuti seperti di bawah.

“Telah tamatlah kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan. Tiadalah yang mengubah kalimat-Nya, dan Dia Mahamendengar dan Mahamengetahui. Jika engkauturut kebanyakan orang yang di bumi, niscaya mereka itu menyesatkan engkau dari jalan Allah, mereka tiadalah mengikut, selain dugaan saja dan mereka tidak lain,hanya mengira-ngira saja. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orangyang sesat daripada jalannya dan Dia lebih mengetehui orang-orang yang mendapat .petunjuk.”  [SQ: Al-An’am / 115-117]

Di sini Allah memperingatkan bahwa tamat sudah aturan yang dikehendaki-Nya untuk hamba-hamba-Nya dalam, berjalan dijalan –Nya [agama-Nya], maka tiada jalan lain dan bukan pula jalan-jalan yang diikuti kebanyakan orang-orang di bumi ini. Mereka yang berpecah belah dan punya gaya atau sistem tersendiri yang mereka pegang teguh dalam menjalani hidupnya. Sejak kapan jalan Allah itu dari yang cuma satu menjadi banyak? Sejak mereka mulai mendapat pengetahuan/dalil-dalil yang mereka pertahankan kebenarannya atas perkiraan mereka sendiri. Jalan itu jadi banyak sejak turunnya kitab-kitab manusia, yaitu hadits-hadits, dan mereka bertahan untuk membenarkannya, karena dari kitab manusia itu, banyak menjanjikan surga yang begitu mudah dengan sembahyang yang ringan, dan dari kitab itu, banyak keringanan atas ayat Allah yang melarang menerima uang dalam menyampaikan ayat-ayat. Di kitab manusia itu, ada keringanan dengan alasan sekedar ongkos jalan dll yang penting mendapat.

“Sesungguhnya agama di sisi Allah, ialah Islam. Tiadalah berselisih orang-orang ahli kitab, melainkan setelah datang ilmu pengetahuan kepada mereka, karena berdengki-dengkian sesamanya. Barang siapa yang kafir akan ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah bersegera menghisabnya.”[SQ : Ali Imran / 19].

Maka terang bahwa jalan hidup pada jalan Allah, ialah keselamatan [yang menyelamatkan]. Sebelumnya orang-orang yang memegang kitab itu, hidup pada satu jalan, lalu setelah datang pengetahuan-pengetahuan pada mereka, mereka mulai menduga-duga dengan memberi pandangan menurut mereka dengan dalil apa-apa yang mereka ketehui. Maka dari yang lainpun mencari dalil-dalil untuk menolak dan membenarkan dari apa dalil-dalil yang ia bawa pula. Dan kemudian diteruskan oleh para generasi mereka dengan berpegang dari apa yang mereka pandang lebih baik dan demikian seterusnya. Allah mengingatkan, bagi siapa yang mengingkari jalan Allah dalam kehidupan yang akan nenyampaikanmu kepada-Nya, Allah akan menghisab mereka dengan segera.

“Minta tolonglah kamu dengan kesabaran dan sembahyang; dan sesungguhnyasembahyang itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang tunduk.” [SQ: Al-Baqarah / 45]

Tidaklah semudah yang selama ini orang-orang duga, sembahyang itu amatlah berat. Dan itu akan ringan hanya bagi orang yang taqwa /takut. Jadi bila orang itu sudah takut akan siksa Allah yang amat sadis, tentulah apa-apa yang ia serahkan dalam persembahannya pada Allah, tidak terdapat  yang keji dan mungkar. Tapi engkau masih menganggap ringan sembahyang itu, artinya tiada perduli dengan apa yang diserahkan dengan dalil yang penting sembahyang itu wajib, jadi kerjakan saja untuk melepas kewajiban. Silahkan dan Ingat ancaman Allah:

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sembahyang. Yang mereka itu lalai dari sembahyangnya.”[SQ : Al-Maa’uun / 4,5]

Demikian kiranya bagi orang yang lalai dari apa yang akan ia persembahkan yang banyak perbuatan keji dan mungkar. Ingat rejeki yang engkau dapatkan, memang hakmukah? Oh saya sebagai pekerja, jadi hanya makan gaji, benarkah yang kamu kerjakan itu sesuai dengan upah dari orang yang membeli jasa yang kamu jual kepadanya? Apakah dibenarkannya bekerja yang diminta sehari untuk 6 jam , lalu kamu akal-akali cuma jadi 3 atau 4 jam saja? Itu keji dan kemungkaran. Celakalah atas kamu menyerahkan jalan hidup seperti itu kepada Tuhanmu. Kelihatanya aman-aman saja. Allah gak kebingungan dan malah membiarkan. Sungguh neraka Allah amat luas. .

 

N a b id a nr a s u l

Nabi adalah suatu kedudukan bagi manusia pilihan Allah yang dijadikan ikutan ummat. Tentulah bagi mereka yang dimuliakan,  membawa rahmat dari kalimat Allah yang untuk di sampaikannya kepada ummat dari kaumnya. Bagi nabi, ia menerima wahyu Allah biasanya dengan langsung bertemu pada penyampai wahyu [Jibril]. Dia juga dapat mersakan adanya datang wahyu kepadanya. Dan semua nabi, adalah rasul bagi ummat pada kaum di masa hidupnya. Tetapi ia menjadi ikutan ummat di kemudiannya.

Rasul adalah orang yang memang pada kalimat Allah sebagai utusan untuk menyampaikan ayat-ayat Allah. Untuk rasul itu, malaikat atas ijin Allah menyapaikan beberapa keterangan berupa pengetahuan untuk ia sampaikan. Maka setelah orang itu mendapatkan rahmat , ia terbeban untuk menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Jadi rasul yang bukan nabi itu umpama kamu, karena ia juga pernah hidup sama seperti ummat yang lain yang berjalan mengikut kebanyakan orang-orang di bumi. Tetapi Allah yang menunjukinya hingga ia mengetahui dari apa yang pada sebelumnya tiada ia ketahui. Jadi rasul itu hanyalah orang-orang yang ikhlas menyampaikan ayat-ayat Allah itu. Maka semua orang itu sesungguhnya ada baginya sebagai rasul. Jadi terpulang pada orang-orang, inginkah ia menjadi utusan Allah? Kami unjukkan kalimat Allah yang mengatakan bahwa semua orang ada baginya rasul.

  “Ketahuilah, bahwa padamu ada rasul Allah, Jikalau dia mengikutimu dalam kebanyakan urusan, niscaya menjadi susah kamu, Tetapi Allah nengasihkan keimanan kepadamu dan menjadikannya perhiasan dalam hatimu dan membencikan kepadamu kekafiran, fasik dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang cerdik.”[SQ : Al- Hujurat / 7]

“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu sekalian. .......” [SQ : Al-A’raf / 158].

Terang ayat itu menyatakan bahwa padamu yang membaca kitab ada rasul Allah. Kamu berpotensi jadi rasul Allah. Jadi apabila kamu yang membaca kitab, lalu kamu merasakan adanya panggilan Allah untuk menyampaikan kalimat Allah itu, maka kamu akan jadi susah karena umumnya ummat tiada mau mendengar. Kami juga mengalaminya, ada yang membantah, mendengar hanya sebatas mendengar bahkan ada yang memandang kami gila. Tapi Allah memberi rasa percaya padamu bahwa ini harus. Dan juga menjadikan sesuatu yang menyenangkan bahwa kamu tahu, sehingga benci dengan kekafiran itu, kedurhakaan orang-orang. Bagi kamu dan siapa saja yang memanfaatkan potensi itu, mereka itu orang-orang yang bijak mengambil kesempatan yang tepat untuk dekat dengan Tuhannya.

Kami tidak mengutus seorang rasul’ melainkan dengan bahasa kaumnya. Supaya menerangkan kepada mereka..........”[SQ : Ibrahim / 4]

Ayat di atas terang  berupa fakta kalimat Allah bahwa rasul itu ada di antara tiap ummat yang menerangkan dengan bahasa kaumnya dan kepdamu dengan bahasamu.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari bangsa mu, yang amat berat baginya kesusahan kamu, serta harap akan keimananmu, lagi sangat kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.”[SQ : At-Taubah / 128]

“Rasul-rasul itu memberi kabar gembira dan kabar takut, supaya tak ada alasan bagi manusia terhadap Allah sesudah rasul-rasul itu. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”  [SQ : An-Nisa’ / 165]

Maka dengan ayat di atas, merupakan kalimat Allah bahwa rasul itu ada di tiap kaum dengan keterangan dari surat di atas, ia datang dengan bahasa kaumnya. Jika kamu hanya menduga rasulmu itu Muhammad yang orang Arab dan dia berbicara hanya dengan bahasa Arab saja, dapatkah kamu berbahasa Arab? Apakah kamu kaum Arab yang menggunakan bahasa Arab? Setiap manusia kedatangan rasul, kalau bukan tiap manusia kedatangan rasul. Kelirukah ayat  Allah di kitab yang mengatakan di akhirat nanti dalam menyiksa orang-orang berdosa,  dipertanyakan pada mereka yang disiksa, dengan menyebut :  Hai sekalian jin dan manusia.......  kalimat itu berarti hai semua jin dan hai semua manusia, dan tentunya yang hanya orang-orang dalam siksaan tersebut. Berarti ada yang datang yang juga berbahasa, Indonesia,China, India, jepang dll. Berikut ini ayat yang kami maksud.

“Hai sekalian jin dan manusia, tiadakah sampai kepadamu rasul-rasul di antara kamu yang memberitakan ayat-ayat-Ku kepadamu dan memberi peringatan kepdamu akan menemui hari ini? Sahut mereka: Kami mengakui kesalahan dari kami. Mereka terpedaya oleh kehidupan di dunia dan mereka mengakui kesalahan diri mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang kafir.’[SQ : Al-An’am / 130]

W a li

Wali adalah orang yang kita beri kuasa untuk memutuskan urusan kita dalam menentukan kepada siapa kita mempersembahkan jalan hidup yang kita perbuat. Bila kita mengikut pada seseorang, sedang ia mengikut  lain dari Allah, artinya kita menyembah kepadanya yang menyerahkan kehidupan kepadanya. Jadi kita bertuhankan dia. Itulah yang disebut berwalikan lain dari Allah.

Tapi aneh manusia di zaman modern ini. Ramai-ramai ribut hal wali, yaitu wali kota. Apa urusannya wali kota dengan jalan hidupmu? Wali kota tidak menguasai jalan hidup, dan ia terikait undang-undang dan hanya menjalankan roda pemerintahan sebatas politik pembangunan saja. Pernahkah kamu berfikir, kepada siapa kamu berwali untuk menyerahkan jalan hidupmu? Apa-apa sajakah yang dijanjikan dalam tuntunan jalanmu? Hati-hatilah dengan ajakan bila sesuatu ketentuan Allah itu diperingankan. Ketentuan Allah tetap dan jelas. Tiap keluar dari jalannya, bersiaplah hingga masa yang ditentukan.

“Sesungguhnya wali kamu ialah Allah,  rasulnya dan orang-orang beriman yang mendirikan sembahyang dan memberikan zakat, sedang mereka itu tunduk. Barang siapa mengangkat Allah ,rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi wali, maka sesungguhnyta golongan Allah itulah orang-orang yang menang.”[SQ : Al-Maidah / 55-56]

 

 

KALIMAT  ALLAH  ATAS  KEJADIAN  ADAM  TANPA  IBU  DAN  BAPAK

Adam adalah manusia pertama yang dijadikan Allah atas kalimatnya untuk awal kehidupan bagi manusia. Maka atas kejadian Adam ini, tentulah tanpa ada wujud seorang ibu maupun bapak. Namun ketentuan Allah pada kalimat-Nya, bahwa manusia terjadi disebabkan adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Jadi bila tanpa ada penyebab itu, manusia tidak akan terjadi sesuai kalimat Allah dalam ketentuan-Nya. Maka tanpa ada pertemuan sel telur dengan sel sperma, lalu manusia itu terjadi, itu mustahil [tidak ada]. Tiada yang mustahil bagi Allah, maka kejadian itupun tiada pernah ada karena mustahil. Apakah kejadian Adam yang tanpa ibu dan bapa itu juga mengikuti ketentuan tersebut ?  Jawabnya: Ya. Di sini kami akan urai kejadian tersebut. Memang baginya tiada wujud ibu dan tanpa wujud bapak, namun ketentuan tersebut yang menjadi penyebabnya itu ada, maka ada reaksi untuk kejadian tersebut dan berproses hingga sempurna.

Kami kutip ayat-ayat [kalimat Allah pada kehidupan di bumi]

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan menjadikan yang mati dari yang hidup, dan Dia menghidupkan bumi sesudah matinya. Maka seperti itulah kamu akan dikeluarkan.”[SQ : Ar-Rum / 19]

“Allah menumbuhkan kamu dari bumi sebagai tunbuh-tumbuhan.”  [SQ : An-Nur / 17]

Dari keterangan ayat di atas, jelas kiranya Adam itu keluar dari bumi [tanah] yang menggambarkan melahirkan Adam.

 

Bumi perumpamaan ibu bagi Adam

Ibu adalah sebutan bagi manusia berjenis perempuan. Ibu sangat identik dengan orang yang melahirkan. Maka demikian gambaran bagi Adam umpamakan dilahirkan bumi. Permukaan tanah tempat keluarnya Adam, berupa tanah yang tiada tanaman, belum ada yang keluar tumbuhan di permukaan tanah tersebut, jadi dikatakan bumi yang masih perawan.

Bagi seorang ibu inilah terdapatnya sel telur yang dapat bereaksi dan berproses bila di buahi dengan sel sperma yang tekandung pada laki-laki. Sel telur itu merupakan zat dari sari tanah yang berupa unsur-unsur kehidupan. Jadi pada bumi inilah tersedianya sifat-sifat kehidupan dari sari tanah sebagai ansur-unsur sel telur yang masih di dalam tanah bakal untuk kejadian Adam atas kekuasaan Allah.

 

Gambaran umpamakan bapak bagi Adam

Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari tanah kering, dari tanah hitam yang telah berubah.”[SQ : Al-Hijr / 26]

Seperti pada ayat di atas, manusia berasal dari tanah dan dikatakan juga bahwa manusia ditumbuhkan dari bumi sebagai tumbuhan [SQ : An-Nur / 17] di atas. Dan kami ada juga mengutip ayat yang mengatakan, manusia itu keluar dari bumi bagai tumbuhan. Tumbuhan keluar dari bumi karena disiram oleh air dari langit [air hujan] yang menyebabkan bakal kehidupan, yang biasanya bijian dari tumbuhan. Oleh karena air tersebut, maka terjadi reaksi yang berproses. Maka untuk gambaran bapak bagi Adam adalah sumber kehidupa yaitu udara.

Alam udara ini sangatlah banyak mengandung unsur-unsur kehidupan dari berbagai sifat-sifat sebagai penyebab-penyebab adanya kehidupan di bumi. Sifat-sifat kehidupan itu misalnya:

Kehidupan yang bersifat biologi, umpama tumbuhan hidup sebab udara.

Kehidupan yang bersifat fisika, umpama daya tarik bumi ada sebab udara.

Kehidupan yang bersifat kimia, umpama api membakar sebab udara.

Kehidupan yang bersifat elektrik, umpama terjadinya kilat pada petir sebab udara dsb.

“Dia yang menjadikan manusia dari air,.........”[SQ : Al-Furqan / 54].

Jadi udara ini mengandung air berupa uap yang berkumpul menjadi awan lalu turun ke bumi sebagai air dan menyirami bumi, lalu keluarlah tumbuhan itu. Air yang merupakan sumber kehidupan dari berbagai sifat kehidupan itu, maka begitu pula yang dijadikan dari air yang mengambarkan kejadian manusia dari air sperma pada masa setelah ada kehidupan bagi manusia. Sedang pada kejadian Adam, kehidupan manusia itu belum ada. Jadi umpama alam udara gambaran bapak bagi Adam. Lalu udara yang mengandung uap air itu bereaksi dan berproses hingga menjadi awan dan pada masanya jatuh ke bumi menjadi air hujan. Demikian air yang ada ditubuh seorang bapak yang berproses mengambil sari-sari tanah dari makanan dalam tubuh oleh darah dan berubah menjadi air sperma [mani]. Jadi air hujan itu menyirami tanah kering yang masih perawan untuk kejadian Adam pada gambaran ayat di atas,  “Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari tanah kering,.....” Setelah tanah itu di sirami air, maka tanah itu menjadi subur yang terungkap pada ayat berikutnya :  “dari tanah hitam yang berubah”. Maka air itu meresap ke tanah lalu mengambil dan membawa sari-sari tanah yang juga bersifat kehidupan, yang berupa unsur-unsul sel sperma dan mempertemukan dengan sel telur yang tersedia. Maka terjadilah reaksi yang berproses atas gambaran sebagai tanah hitam. Unsur-unsur sel telur yang ada di dalam tanah itu terbuahi dan mengalami perubahan membentuk jasad manusia hingga sempurna. Lalau Allah meniupkan ruh daripada-Nya ke jasad calon manusia yang pertama tersebut.

“Apabila Aku sempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan ke dalamnya daripada ruh-Ku,.......”[SQ : Al-Hijr / 29].

Maka keluarlah Adam pada ketika itu ke permukaan tanah sebagai menusia yaitu kamu yang pertama kali. Ketika itu, kiranya ia masih belum sadar [tertidur]. Maka jasad itu naik ke langit. Dari posisinya tidur hingga ke langit, Allah mengajarinya mengenali nama-nama barang yang dibawanya. Barang yang dibawanya adalah diri [jasad] nya untuk diperkenalkan kepada malaikat yang telah diajarkan kepadanya, melalui mimpi Adam yang sedang tertidur. Sungguh dalam mimpi, orang-orang dapat di beritahukan segala sesuatunya. Demikian umpama Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya Isma’il, juga hanya lewat mimpi. Demikian kisah Adam sampai di langit yang kami terangkan melalui ayat-ayat berikut.

“[Ingat] ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di atas bumi. Maka jawab mereka itu: Adakah patut,engkau jadikan di atas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah,  Sedang kami tasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tiada kamu ketahui. Allah mengajarkan kepada Adam sekalian nama-nama barang, kemudian dibawa barang-barang itu kepada malaikat, lalu Allah berfirman: Kabarkankah kepada-Ku nama-nama barang ini, jika kamu yang benar. Jawab mereka: Maha suci Engkau, tak adalah pengetahuan kami, melainkan apa-apa yang Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”[SQ : Al-Baqarah / 30-31]

Berdasar ayat-ayat tersebut di atas, Kami akan uraikan hal sekilas  pemandangan kejadian di langit saat Adam sampai dan memenuhi panggilan Tuhannya dan bertemu malaikat dan Iblis dari golongan jin. Setelah Adam sampai di langit da


© Copyright 2017 hikmah. All rights reserved.

Add Your Comments:

More Religion and Spirituality Articles

Booksie 2017-2018 Short Story Contest

Booksie Popular Content

Other Content by hikmah

Rahasia Musa,Almasih dan Muhammad

Article / Religion and Spirituality

Popular Tags